Kutipan : *"Zaman Soeharto pernah ada upaya menggalang dana masyarakat oleh mbak Tutut (Siti Hardijanti Rukmana) tapi orang-orang enggak percaya karena elite di atas ini korup," ungkap dia. * Pada waktu krisis moneter, Suharto mengutus dua puterinya minta bantuan keuangan dari Singapore pada Lee Kuan Yew. Lee Kuan Yew bilang, sulit untuk berhasil, karena Singapore adalah negara hukum. Pemberian pinjaman harus disetujui oleh parlemen, Menurut Lee tidak mungkin disetujui parlemen, karena Singapore sendiri harus bertahan terhadap krisis. Lee memberi advies, supaya putera puteri Suharto menjual perusahaannya, untuk membayar utang pemerintah. Ternyata kemudian, mereka tidak menuruti saran Lee. Kalau mereka sendiri tidak bersedia menjual sebagian dari beberapa perusahaannya, mana orang lain mau membantu beri dana.....?
2018-06-06 0:07 GMT+02:00 Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] <[email protected]>: > > > Berapa kali lipat kenaikan utang Indonesia dalam kurun waktu 3 tahun > terakhir? 1x, 2x, 3x? > > --- > Pasca-kemenangan Mahathir Mohammad dalam pemilu 2018 terkuak fakta utang > luar negeri Malaysia selama kepemimpinan Najib Razak terus membengkak. > *Kenaikan > utang luar negeri Malaysia hampir tiga kali lipat dalam kurun waktu > sembilan tahun terakhir*. > ... > Perlukah Indonesia Meniru Malaysia dalam Menyikapi Utang Negara? > <https://www.medcom.id/ekonomi/globals/nbw7MyBb-perlukah-indonesia-meniru-malaysia-dalam-menyikapi-utang-negara> > > Perlukah Indonesia Meniru Malaysia dalam Menyikapi Utang Negara? > > medcom.id developer > > Kenaikan utang luar negeri Malaysia hampir tiga kali lipat dalam kurun > waktu 9 tahun terakhir. > > <https://www.medcom.id/ekonomi/globals/nbw7MyBb-perlukah-indonesia-meniru-malaysia-dalam-menyikapi-utang-negara> > > > • 05 Juni 2018 09:39 WIB > > [image: Perlukah Indonesia Meniru Malaysia dalam Menyikapi Utang Negara?] > Ilustrasi. (Foto: ANTARA/Rafiuddin Abdul Rahman) > > > > > *Jakarta*: Pasca-kemenangan Mahathir Mohammad dalam pemilu 2018 terkuak > fakta utang luar negeri Malaysia selama kepemimpinan Najib Razak terus > membengkak. Kenaikan utang luar negeri Malaysia hampir tiga kali lipat > dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir. > > Prihatin dengan kenaikan jumlah utang yang sangat tinggi, masyarakat > Malaysia kemudian melakukan penggalangan dana untuk membantu menangani > utang negara. Langkah ini pun banyak diapresiasi oleh ekonom Malaysia. > > Lalu, perlukah Indonesia meniru apa yang dilakukan oleh Malaysia? > > Sosiolog Thamrin Amal Tamagola menilai Malaysia dan Indonesia memiliki > karakter yang berbeda. Penggalangan dana dari masyarakat untuk sumbangan > membayar utang negara berkaitan dengan momen pemerintahan Malaysia yang > baru. > > "Malaysia sekarang sedang terjadi semacam kebangkitan kembali persatuan > nasional setelah mengalahkan Najib Razak yang dianggap korup. Jadi inti > sebenarnya berkaitan dengan korupsi," kata Thamrin, dalam *Editorial > Media Indonesia* bertajuk *Belajar Menyikapi Utang Ala Malaysia*, Selasa, > 5 Juni 2018. > > Thamrin menilai Indonesia bisa saja meniru apa yang telah dilakukan oleh > rakyat Malaysia, jika utang luar negeri yang dipinjam tidak dikorupsi oleh > elite. > > Faktanya, sejak era Soeharto utang luar negeri Indonesia kerap dikorupsi > oleh elite sehingga melunturkan kepercayaan rakyat Indonesia akan > pemerintah. > > "Zaman Soeharto pernah ada upaya menggalang dana masyarakat oleh mbak > Tutut (Siti Hardijanti Rukmana) tapi orang-orang enggak percaya karena > elite di atas ini korup," ungkap dia. > > Menurut Thamrin penggalangan dana sebagai bantuan utang oleh rakyat > Malaysia berkenaan dengan momen kebangkitan pemerintahan setelah masa kelam > pemerintahan Najib Razak. Ada rasa senasib yang sama antara rakyat dan > elite untuk menuntaskan masalah utang Malaysia. > > "Kalau di Indonesia rasa senasib itu tidak ada karena rakyat tahu, utang > itu perlu tapi elite-nya korup," katanya. > > Dia menambahkan jika Indonesia hendak meniru Malaysia, modal utamanya > adalah kepercayaan. Di Indonesia kepercayaan rakyat terhadap elite tidak > muncul terutama kepada lawan politik. > > Yang terjadi, elite lawan politik kerap menyudutkan pemerintah dengan > utang. Padahal jika dibandingkan pertambahan jumlah utang luar negeri dan > jumlah pendapatan negara setiap tahunnya, Indonesia masih aman. > > "(Utang luar negeri) kita masih dalam ambang batas yang bisa ditoleransi. > Sehingga bukan satu hal yang harus dibesar-besarkan. Masalahnya hanya modal > sosial, kepercayaan masyarakat terhadap elite, itu saja," jelas dia. > > > > > > (MEL) > > >
