*Seandainya jumlah mahasiswa di seluruh negara neo-Mojopahit berjumlah 1
juta orang, berati terdapat 390.000 mahasiswa terpapar radikalisme. Apakah
390.000 suatu jumlah kecil atau sebaliknya?*


http://mediaindonesia.com/read/detail/157893-39-mahasiwa-terpapar-radikalisme?utm_source=dable


*39% Mahasiwa Terpapar Radikalisme*

Penulis: *Akhmad Safuan* Pada: Minggu, 29 Apr 2018, 09:37 WIB Polkam dan HAM
<http://mediaindonesia.com/polkam-dan-ham>


<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/157893-39-mahasiwa-terpapar-radikalisme?utm_source=dable>

<http://twitter.com/home/?status=39%25%20Mahasiwa%20Terpapar%20Radikalisme%20http://mediaindonesia.com/read/detail/157893-39-mahasiwa-terpapar-radikalisme?utm_source=dable%20via%20@mediaindonesia>

[image: 39% Mahasiwa Terpapar Radikalisme]*MI/BARY FATAHILLAH*

KEPALA Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan  mengungkapkan sekitar 39%
mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi telah terpapar radikalisme.
Menurut mantan Wakapolri itu saat menjadi pembicara kunci dalam Kongres IV
BEM PTNU se-Nusantara di Semarang, kemarin, kondisi itu dida-sarkan atas
penelitian BIN yang dilakukan pada 2017.

Dari penelitian itu ada 15  provinsi di Indonesia menjadi perhatian
pergerakan radikalisme tersebut.


Pun dari penelitian itu diketahui tiga perguruan tinggi di Indonesia kini
menjadi basis penyebaran paham ra-dikalis­me. Namun, Budi tidak
mengung­kapkan identitas ketiga perguruan tinggi itu.

Berdasarkan penelitian tersebut, juga diketahui peningkatan paham
konservatif ke-agamaan.

Survei itu memperoleh data 24% mahasiswa dan 23,3% pelajar SMA setuju
dengan jihad untuk tegaknya negara Islam. “Kondisi ini mengkhawatirkan
karena mengancam keberlangsungan NKRI,” jelasnya.

Kondisi itu juga diperkuat dengan keterlibatan seorang pemuda lulusan salah
satu PTN yang terlibat dalam teror di Jakarta beberapa waktu lalu.

“Ini semakin menegaskan bahwa lingkungan kampus sudah menjadi target bagi
kelompok radikal untuk memobilisasi calon teroris baru.’’

Oleh karena itu, Budi menilai mahasiswa harus mampu memilah mana yang baik
dan mana yang buruk. Fenomena radikalisme di kalangan mahasiswa relatif
sangat besar dari aspek potensi ancaman. Ia menggarisbawahi peran strategis
mahasiswa untuk mewujudkan masyarakat yang madani.

Sejarah memang mencatat gerakan mahasiswa yang menjadi motor perubahan di
Indonesia. Namun, jangan sampai mahasiswa justru diperalat kelompok radikal
untuk memecah belah tatanan masyarakat yang kita bangun.’’

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir sebelum kegiatan
Nusantara Mengaji di Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengatakan bahwa
kegiatan ini dilaksanakan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia salah
satu tujuannya menangkal radikalisme di kampus.

‘’Kemenristek Dikti terus melakukan upaya agar kampus tidak menjadi tempat
mengalirnya paham radikal. Nusantara Mengaji ini menjadi salah satu upaya
menangkal paham itu,’’ kata M Nasir.

*Teknologi*
Menko Polhukam Wiranto mengatakan perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi mengakibatkan terjadinya perubahan pola penyebaran paham radikal
dari kelompok teroris IS.

“Sebelumnya pola penyebaran dilakukan secara terpusat melalui pertemuan
tertutup dengan jumlah pengikut terbatas, kini berubah menjadi lebih
tersebar dan bervariasi. Mereka memanfaatkan media sosial seperti *Twitter,
Telegram, Facebook,* dan *Whatsapp* atau disebut *divergence*,” ujar
Wiranto.

Wiranto mengatakan menghadapi kenyataan tersebut, pemerintah Indonesia
telah mengambil langkah dan tindakan.

 Tidak hanya melalui langkah hukum, tetapi juga dengan pendekatan secara
personal. Misalnya, menerapkan kebijakan untuk melakukan deradikalisasi
melalui kontraradikalisasi, kontraopini, kontranarasi, serta kontraideologi
kepada para mantan teroris. (Ant/P-1)

Kirim email ke