menurut data BPS th 2014/2015 jumlah mahasiswa +/- 6 juta, artinya sekitar 2.34 
juta terpapar radikalisme

---In [email protected], <ilmesengero@...> wrote :

 
 
 Seandainya jumlah mahasiswa di seluruh negara neo-Mojopahit berjumlah 1 juta 
orang, berati terdapat 390.000 mahasiswa terpapar radikalisme. Apakah 390.000 
suatu jumlah kecil atau sebaliknya?
 
 
 
http://mediaindonesia.com/read/detail/157893-39-mahasiwa-terpapar-radikalisme?utm_source=dable
 
http://mediaindonesia.com/read/detail/157893-39-mahasiwa-terpapar-radikalisme?utm_source=dable
 
 
 39% Mahasiwa Terpapar Radikalisme Penulis: Akhmad Safuan Pada: Minggu, 29 Apr 
2018, 09:37 WIB Polkam dan HAM 
  
http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/157893-39-mahasiwa-terpapar-radikalisme?utm_source=dablehttp://twitter.com/home/?status=39%25%20Mahasiwa%20Terpapar%20Radikalisme%20http://mediaindonesia.com/read/detail/157893-39-mahasiwa-terpapar-radikalisme?utm_source=dable%20via%20@mediaindonesia
 
 MI/BARY FATAHILLAH
 KEPALA Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan  mengungkapkan sekitar 39% 
mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi telah terpapar radikalisme. Menurut 
mantan Wakapolri itu saat menjadi pembicara kunci dalam Kongres IV BEM PTNU 
se-Nusantara di Semarang, kemarin, kondisi itu dida-sarkan atas penelitian BIN 
yang dilakukan pada 2017.
 Dari penelitian itu ada 15  provinsi di Indonesia menjadi perhatian pergerakan 
radikalisme tersebut.
 
 
 Pun dari penelitian itu diketahui tiga perguruan tinggi di Indonesia kini 
menjadi basis penyebaran paham ra-dikalis­me. Namun, Budi tidak mengung­kapkan 
identitas ketiga perguruan tinggi itu.
 Berdasarkan penelitian tersebut, juga diketahui peningkatan paham konservatif 
ke-agamaan.
 Survei itu memperoleh data 24% mahasiswa dan 23,3% pelajar SMA setuju dengan 
jihad untuk tegaknya negara Islam. “Kondisi ini mengkhawatirkan karena 
mengancam keberlangsungan NKRI,” jelasnya.
 Kondisi itu juga diperkuat dengan keterlibatan seorang pemuda lulusan salah 
satu PTN yang terlibat dalam teror di Jakarta beberapa waktu lalu.
 “Ini semakin menegaskan bahwa lingkungan kampus sudah menjadi target bagi 
kelompok radikal untuk memobilisasi calon teroris baru.’’
 Oleh karena itu, Budi menilai mahasiswa harus mampu memilah mana yang baik dan 
mana yang buruk. Fenomena radikalisme di kalangan mahasiswa relatif sangat 
besar dari aspek potensi ancaman. Ia menggarisbawahi peran strategis mahasiswa 
untuk mewujudkan masyarakat yang madani.
 Sejarah memang mencatat gerakan mahasiswa yang menjadi motor perubahan di 
Indonesia. Namun, jangan sampai mahasiswa justru diperalat kelompok radikal 
untuk memecah belah tatanan masyarakat yang kita bangun.’’
 Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir sebelum kegiatan 
Nusantara Mengaji di Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengatakan bahwa 
kegiatan ini dilaksanakan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia salah satu 
tujuannya menangkal radikalisme di kampus.
 ‘’Kemenristek Dikti terus melakukan upaya agar kampus tidak menjadi tempat 
mengalirnya paham radikal. Nusantara Mengaji ini menjadi salah satu upaya 
menangkal paham itu,’’ kata M Nasir.
 Teknologi
Menko Polhukam Wiranto mengatakan perkembangan teknologi informasi dan 
komunikasi mengakibatkan terjadinya perubahan pola penyebaran paham radikal 
dari kelompok teroris IS.
 “Sebelumnya pola penyebaran dilakukan secara terpusat melalui pertemuan 
tertutup dengan jumlah pengikut terbatas, kini berubah menjadi lebih tersebar 
dan bervariasi. Mereka memanfaatkan media sosial seperti Twitter, Telegram, 
Facebook, dan Whatsapp atau disebut divergence,” ujar Wiranto.
 Wiranto mengatakan menghadapi kenyataan tersebut, pemerintah Indonesia telah 
mengambil langkah dan tindakan.
  Tidak hanya melalui langkah hukum, tetapi juga dengan pendekatan secara 
personal. Misalnya, menerapkan kebijakan untuk melakukan deradikalisasi melalui 
kontraradikalisasi, kontraopini, kontranarasi, serta kontraideologi kepada para 
mantan teroris. (Ant/P-1)
 
 
 


Kirim email ke