*DPR bilang: Jangan reaksioner artinya harus manis-manis lemah lembut
terhadap teroris! hehehehehe*


https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2018/06/07/143915/dpr-pemerintah-jangan-reaksioner-hadapi-terorisme.html



Rencana Pendataan Nomor HP dan Medsos Mahasiswa-Dosen DPR: Pemerintah
Jangan Reaksioner Hadapi Terorisme

Kamis, 7 Juni 2018 - 21:12 WIB

Ada sekitar 8 juta yang mesti diawasi. Tentu berat sekali untuk mengawasi
itu semua.

skr/hidayatullah.com

[Ilustrasi] Warga menggunakan media sosial dengan handphone di sela-sela
bersilaturahim Idul Fitri 1438 H di Balikpapan, Kaltim, Ahad (25/06/2017).
Terkait

   -

   RUU Terorisme Sah Jadi UU Pasca Rentetan Kerusuhan dan Serangan Bom
   
<https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2018/05/25/143110/ruu-terorisme-sah-jadi-uu-pasca-rentetan-kerusuhan-dan-serangan-bom.html>
   -

   75 % Ruang Kelas di Indonesia Rusak, DPR Desak Penerbitan Perpres
   
<https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2018/05/24/143020/75-ruang-kelas-di-indonesia-rusak-dpr-desak-penerbitan-perpres.html>
   -

   Cadar Menghantui Kampus Islam?
   
<https://www.hidayatullah.com/artikel/mimbar/read/2018/03/05/137082/cadar-menghantui-kampus-islam.html>
   -

   Kepemimpinan Perguruan Tinggi Islam
   
<https://www.hidayatullah.com/kolom/catatan-akhir-pekan/read/2018/02/16/135719/kepemimpinan-perguruan-tinggi-islam.html>

*Hidayatullah.com*– Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai
rencana pemerintah mendata nomor seluler dan akun media sosial mahasiswa
dan dosen adalah langkah reaksioner yang tidak perlu dilakukan.

“Ada 7,5 juta mahasiswa, 300 ribu dosen, dan 200 ribu tenaga kependidikan
di seluruh Indonesia sehingga ada sekitar 8 juta yang mesti diawasi. Tentu
berat sekali untuk mengawasi itu semua. Padahal Kemenristekdikti masih
banyak pekerjaan yang harus dilakukan terkait pendidikan tinggi di negeri
ini,” terangnya di Jakarta, Kamis (07/06/2018).

Menurutnya, menanggulangi terorisme yang berkembang tidak dapat
diselesaikan dengan langkah reaksioner, tetapi harus dilakukan dengan
pikiran panjang dan tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat.

“Terorisme, isme, itu, kan, paham. Terbentuk dari proses yang panjang
sehingga kita juga perlu memahami penyelesaiannya juga merupakan proses
yang panjang,” urainya.

Baca: ‘Pengawasan’ Medsos Dosen-Mahasiswa, APTISI Minta Kemristekdikti Tak
Beralih Peran
<https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2018/06/06/143798/pengawasan-medsos-dosen-mahasiswa-aptisi-minta-kemristekdikti-tak-beralih-peran.html>

Ia sepakat bahwa untuk menangkalnya, perlu dilakukan langkah yang
sistematis dan menyentuh konsep pendidikan. Mengingat pendidikan merupakan
proses yang membentuk pengetahuan dan paham dalam diri seseorang. Ia
menekankan, perlunya *grand design* pendidikan yang memadai.

Fikri mengatakan, “Kita selama ini tidak punya *grand design*, ganti
pemerintahan, ganti kurikulum.”

Selain itu, Fikri juga menilai operasi yang dilakukan oleh para pelaku aksi
terorisme selama ini bersifat *silent*, sehingga perlu pemerintah hendaknya
juga perlu mengantisipasinya dengan langkah *silent*, bukan dengan ekspos
besar-besaran.

“Jangan-jangan memang diekspos besar-besaran hanya untuk menunjukkan bahwa
pemerintah bekerja,” kritik anggota dewan yang terpilih dari Dapil Jateng
IX ini.

Fikri merasa ekspos yang berlebihan, termasuk soal rilis daftar tujuh
kampus negeri yang diduga terpapar radikalisme menurut BNPT memberikan
dampak negatif bagi pendidikan.

Fikri berpendapat, “Selama ini kita sedang mendorong kampus-kampus tersebut
menjadi World Class University (WCU). Rilis tersebut tentu memberikan citra
negatif terhadap kampus dan dunia pendidikan kita. Ini kontraproduktif dan
merugikan.”

Disebutkan, ketujuh kampus tersebut adalah Universitas Indonesia (UI),
Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Diponegoro (Undip),
Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Brawijaya (Unibraw).*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Kirim email ke