*Sang Fajar*
*Dari milis lain : *
*Kisah Kelahiran Bung Karno*

Soekemi Sosrodihardjo seorang guru muda dari Surabaya yang ditugaskan untuk
mengajar di Sekolah Rakyat (setingkat SD) di Bali, tepatnya di Banjar
Paketan-Liligundi-Buleleng, Singaradja Bali. Setelah mengajar Sukemi senang
sekali berjalan-jalan mengelilingi desa dan melihat kehidupan sosial
masyarakatnya. Bahkan Soekemi sering mencatat bagaimana rakyat desa
bergerak.

Satu hal yang diperhatikan Soekemi adalah budaya dari banjar Bali yang amat
marak itu, sebuah kegiatan sakral dan penuh harmoni. Tiap ada
upacara-upacara suci di Pura Bali sendiri ada tarian sakral bernama Tari
Rejang.Tarian ini ditarikan khusus perempuan dengan gerakan amat halus,
tarian ini bisa amat indahnya bila dilatari bulan purnama dan malam bersih
penuh bintang, sehingga penontonnya bisa menjadi amat tenang, khidmat dan
penuh syukur pada Tuhan.

Suatu saat Soekemi menonton bersama temannya yang seorang guru juga dari
Jawa, tarian ini. Ia terpesona dengan dua orang perempuan cantik, tapi ia
tak tau siapa namanya kedua perempuan itu. Namun kemudian ada kesempatan
dimana Soekemi melempar bunga, dan lemparan bunga itu mengenai seorang
penari cantik dengan mata bulat bulan ‘Ni Nyoman Srimben’. Ia penari yang
amat cantik dengan bibir yang tebal manis, dan alis mata yang amat hitam,
tersenyum pada Soekemi, saat itulah cinta pertama jatuh pada dua hati anak
manusia.

“Perkenalan adalah takdir, menjadi teman adalah pilihan dan mencintai
seseorang kerap diluar kendali dari diri seorang yang sedang jatuh cinta”
Soekemi sudah jatuh cinta, ia telah memilih dan ia sanggup menghadapi
resikonya apa saja.

Rupanya Ni Nyoman Srimben juga jatuh hati pada pemuda dari Jawa ini, -“Ia
seorang guru ayah” kata Nyoman Srimben kepada ayahnya I Nyoman Pasek ketika
menghaturkan cerita tentang pemuda pilihan hatinya. I Nyoman Pasek tentunya
menolak “dia berbeda agama dengan kita” Soekemi sendiri beragama Islam, dan
Nyoman Pasek menghendaki Srimben menikah saja dengan pemuda dari banjar-nya
sendiri ketimbang pemuda yang berasal dari Jawa, dari tempat yang jauh.

Tapi cinta telah mengikat dua perasaan ini, cinta telah menjadikan dua
cerita antara Soekemi dan Srimben sebagai naluri aksara puisi, Soekemi
melihat dua mata Srimben, ada getaran, bukan saja ia melihat masa depan
dirinya sendiri, tapi masa depan yang lebih besar, ‘namun ia tak mengerti’.
Srimben sendiri melihat Soekemi juga dengan perasaan sama, ada perasaan
pertanggungjawaban bahwa cinta ini harus diteruskan, -apapun resikonya-.

Lalu Soekemi bertanya pada Srimben “Apakah kau mencintaiku” lalu Srimben
diam lama dia melihat sawah luas membentang hijau di desanya, udara langit
putih bersih dan daun-daun pohon kamboja mengayun lembut. –Srimben
mengangguk penuh arti-. Akhirnya Soekemi berani melamar menikah pada ayah
Srimben, Bapak Nyoman Pasek. Namun Nyoman Pasek secara halus menolak.

Akhirnya dipilih suatu sikap yang berani, yaitu : Ngarorod atau Kawin Lari.
Di Tengah Malam Soekemi membawa lari Srimben, lalu dikejar-kejar penduduk
desa dan Soekemi berlindung di tempat seorang Polisi. Penyelesaiannya
adalah ke Pengadilan, di Pengadilan tampaknya cinta dua anak manusia ini
tak bisa dipisahkan, akhirnya semua orang yang menyaksikan rela dengan
ikhlas menyatukan dua perbedaan ini karena keberanian dan
pertanggungjawaban Soekemi serta Srimben dalam menjalankan cintanya,
Soekemi hanya dimintai denda atas tindakannya melakukan Ngarorod, dan
keluarga Srimben menyetujui Soekemi menikah dengan Ni Nyoman Srimben.

Pernikahan ini berlangsung damai, tiba-tiba datang surat dari penilik
sekolah yang mengabarkan bahwa Soekemi harus pindah ke Blitar dan bertugas
disana. Ni Nyoman Srimben ikut Soekemi, dengan menumpang perahu layar
mereka mengarungi selat Bali menuju Jawa, tampak dari kejauhan pulau Jawa
berkabut, keindahan pulau Jawa dengan ratusan nyiur di pantai membuat
Srimben merasa bergetar, ada suara lembut menyapa kalbunya ‘Disinilah masa
depanmu bermula’.

Di Blitar, Soekemi dan Srimben hidup amat sederhana, seperti layaknya
penduduk Jawa yang lain, hidup dalam suasana keprihatinan suasana orang
yang dijajah, tiap pagi Srimben harus menumbuk padi, menjaga tumbukannya
tidak dimakan ayam, ia mencuci dan segala bentuk kegiatan lainnya, ia
mencintai suaminya dengan amat sangat yang tiap hari dengan sepeda warna
hitam itu pergi ke sekolah mengajar. Di tahun pertama pernikahannya,
lahirlah seorang anak perempuan dan diberikan nama sebagai Soekarmini.
Gembiralah rumah kecil pak guru itu dengan hadirnya anak perempuan yang
lucu.

Suatu siang Srimben bermimpi tentang bulan purnama terang sekali, ia
bermimpi berjalan di ruang yang bergolak, kemudian melanjutkan ke ruang
yang tenang. Ia berdoa semoga mimpinya ini berjalan ke arah kebaikan, tak
lama setelah mimpinya ini ada, ia hamil. Di tengah kehamilannya ini ia
kerap bermimpi tentang sinar matahari berwarna kuning muda bangkit dari
balik cakrawala, dan entah kenapa Srimben sangat menyukai warna pagi
matahari. Soekemi senang bukan kepalang, melihat isterinya hamil lagi. Ia
mengelus-elus perut isterinya dan membacai surat al fatihah, ia berharap
anak ini akan menjadi berguna bagi keluarga dan bangsanya. Anak ini akan
dipenuhi oleh rasa cinta, dipenuhi keberanian dalam menghadapi kehidupan
dan ketabahan dalam penderitaan untuk mencapai tujuan. Anak ini harus
menjadi seorang yang kuat, begitu harapan Soekemi.

Lalu tanggal 6 Juni 1901, jam 6 pagi meledaklah suara tangis bayi, Soekemi
berdiri dari tempat duduknya, ia mendatangi dukun bayi yang membantu proses
kelahiran...”Anakmu laki-laki, Pak Guru...laki-laki” kata dukun bayi itu
dengan wajah senang seraya memberi selamat dan Soekemi dengan dada berdegup
kencang berlari ke sudut rumah lalu mengucapkan syukur.

Malamnya Soekemi menuliskan surat kepada keluarga isterinya di Buleleng
dengan kata-kata singkat : “Anakku telah lahir, anak kedua, dia laki-laki
dan kuberikan nama Koesno. Semoga ini menjadi awal yang baik dari
semuanya”. Tulis Soekemi di tengah pelita yang redup.

Bayi itu sehat, gemuk dan pipinya merah. Bayi ini sangat tampan. Bahkan
beberapa kerabat Soekemi yang mengunjungi terpesona dengan ketampanan bayi
ini. Satu hal yang sangat disenangi Srimben dalam merawat bayi ini adalah
menghadapkannya ke timur matahari, dengan cahaya matahari yang merekah,
wajah tampan bayi merah ini tertimpa alur-alur cahaya pagi lalu Srimben
berucap “ Lihatlah anakku, lihatlah sang Fajar bangkit dari peraduannya,
kau lahir ketika sang fajar bangkit dan menerangi dunia, kau lahir bukan
saja membawa hari baru, tapi sebuah jaman baru.....”

Kelak di kemudian hari ucapan Srimben ini semacam profetik (ramalan) yang
dinisbahkan pada diri anak ini, seorang anak yang kemudian sakit-sakitan
dan diganti nama menjadi SUKARNO.

Sukarno kecil tumbuh dengan gembira, ia suka berenang-renang dikali,
memancing dan bermain gasing. Ia tak mau kalah dalam permainan “Bagi
Sukarno, ia tak boleh dikalahkan” kenang Sukarno kelak dalam buku
otobiografinya yang ditulis Cindy Adams.

Karena kemiskinan Sukarno kerap hidup kekurangan, ia harus menumbuk beras
sendiri, ia berjalan kaki ke sekolah tanpa sepatu. Yang paling sedih
diingat Sukarno adalah ketika hari menjelang lebaran, banyak anak-anak
bermain petasan, ledakan petasan dimana-mana, ia ingin membakar petasan, ia
iri teman lainnya bisa membeli dan membakar petasan menyambut malam
takbiran. Sukarno ingin merayakan menjelang lebaran dengan petasan “aku
ingin petasan...ingin sekali” tapi Sukarno kecil tau, ayahnya tak punya
uang, ia tak tega meminta pada bapaknya. Kemudian yang ia lakukan adalah
menangis di kamar, ia melingkari wajahnya dengan bantal yang penuh air
mata, ia ingin petasan. ‘keinginan anak-anak yang lumrah’.Tak lama ketika
Sukarno menangis, datanglah seseorang teman ayahnya mengetuk pintu dan
memberikan sebungkus petasan pada Soekemi “ini untuk anakmu” lalu Soekemi
memanggil Sukarno dan memberikan sebungkus petasan itu “Ini untuk kamu,
hati-hati mainnya” Bukan main gembira hati Sukarno, kenangan ini ia tak
bisa lupakan seumur hidupnya, ia juga sadar ‘tangisan yang tulus adalah doa
yang didengar Tuhan”. Dan memang sepanjang hidupnya Sukarno kerap menangis
diam-diam untuk bangsanya.

Sukarno dibawa ayahnya ke rumah indekost HOS Tjokroaminoto di Jalan
Plampitan, Surabaya.. saat itu Sukarno diterima di HBS Surabaya, Pak Tjokro
adalah kawan dekat ayah Sukarno, “Jagalah baik-baik anakku” kata Soekemi,
Pak Tjokro dengan kumis yang tegas itu memegang pundak Sukarno “Nah, kau
sekarang di HBS, kau harus bertanggung jawab bukan saja pada hidupmu, tapi
juga bangsamu” nasihat Pak Tjokro dengan mata tajam dan wajah yang teduh.
Sukarno mengangguk pelan, lalu ia diantarkan ke kamarnya yang gelap, kecil
dan agak kotor, -karena kamar yang lain sudah penuh-. Tapi Sukarno menerima
dengan gembira, ia memang punya watak selalu senang dalam keadaan apapun.
Bagi Sukarno ‘mengeluh adalah tanda kelemahan jiwa, bergembiralah di tiap
hidupmu, seberat apapun masalahmu...gembiralah...gembiralah” itu prinsip
Sukarno dalam menjalani kehidupan.

Banyak kawan-kawan yang mengenang Sukarno adalah seorang pelajar yang
cerdas, pembaca buku, pintar menggambar – salah satu yang paling diingat
adalah ketika di kelas sedang ada pelajaran menggambar bebas, Sukarno muda
menggambar anjing dan kandangnya, gambar anjing itu amat hidup dan membuat
guru Belandanya terperangah, ia memamerkan gambar Sukarno- tapi nilai
gambar itu tetap tidak boleh tinggi dari gambar anak Belanda, diam-diam
Sukarno mulai tau bahwa bangsanya terjajah.

Sukarno cepat bila mengerjakan PR, setelah selesai mengerjakan PR ia
mengusili kawan kost yang lain, hingga kalau malam banyak kamar ditutup
pintunya ‘untuk menghindari gangguan Sukarno’. Akhirnya Sukarno iseng-iseng
pidato sendirian di kamar, ia meniru seorang dalang dan meniru Pak Tjokro
yang sedang berpidato. Bila Sukarno kecil berpidato ia bergerak seakan-akan
seorang aktor yang bisa menggenggam dunia, “Kebebasan...Kebebasan..dan
Kebebasan” teriak Sukarno meniru Danton tokoh revolusi Perancis dalam
khayalannya itu. Lalu anak-anak melongok keluar jendela kamar dan dengan
malas-malasan kembali lagi ke meja belajarnya sambil mengomel “Ah, Paling
itu Si No...ingin menguasai dunia” kata mereka.

Dan memang Sukarno kelak menguasai dunia, dibawah pesonanya banyak
negara-negara terinspirasi untuk merdeka, dibawah jalan hidupnya
kemerdekaan Indonesia direbut, bangsa Indonesia memiliki martabatnya,
merebut kehormatannya dan berdiri sebagai bangsa besar di dunia. Dan
Sukarno-lah alasan terbesar bangsa ini berdiri-.

-Hari ini 6 juni 2012 dan Bung Karno ulang tahun, Selamat Ulang Tahun Bung
Karno............-

Jakarta, 6 Juni 2012

(Anton DH Nugrahanto)

Catatan : Nama Ibunda Sukarno adalah Ni Nyoman Srimben, pada tahun 1954
sebagai Presiden RI, Sukarno menghadiahkan nama Ida Ayu atau Idayu kepada
Ibunda-nya dengan disaksikan banyak pejabat RI dan dari negara sahabat,
sebuah penghargaan terbesar dari seorang anak kepada ibunya.

Kirim email ke