Yth Sdr Ajeg, Terima kasih atas reaksi simpatik Anda atas tulisan saya..
Berbicara soal sosok Bung Karno, bagaimanapun juga harussaya akui scara jujur,
bahwa sumbangsih BKkepada Indonesia dalam hal --- memperkuat persatuan bangsa
(dari berbagai etnis, penganut agama danaliran politik), menegakkan harga diri
bangsa, dan memupuk rasacinta tanah air --- adalah kekal abadi tak
terbinasakan. Kepada penguasa kolonial Belanda dengan lantang BK berteriak:
"Cacingpun kalau diinjak akan menggeliat"! Dan ketika dihina imperialisme AS,
diapun meraung: "Go to hell with youraid"! Sementara di sisi lain, kepada
bangsanya BK mencanangkan tentang mutlaknya "De samenbundeling van alle
revolutionnaire krachten in de natie”.("Penggabungan segenap kekuatan
revolusioner bangsa”.) Dalam pada itu, menurut hemat saya, betapapun BK adalah
seorangmanusia. Sebagaimana galibnya seorang manusia dia pun tidak luput
darikekurangan. Ah ya, “Rajawali kadang-kadang terbang setinggi
terbangnyaayam. Tapi ayam tidak akan pernah terbangsetinggi terbangnya
rajawali”. Salam,Noroyono
Op zaterdag 9 juni 14:55 2018 schreef "ajeg [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> het volgende:
Terlepas Bung Karno pernah menelaah riwayat Kertanegara
dan Singasari atau tidak (tinjauan sederhana yang bagus:
"lebih baik matiberkalang tanah ketimbang hidup becermin
bangkai"!) terkadang jalan hidup orang bisa mirip.
Bung Karno terpaksa mencurahkan perhatian menghadapi
musuh-musuh dari luar karena sudah kecolongan di dalam
ketika KMB ditandatangani tidak seperti rencana semula untuk
'pemindahan kekuasaan' kepada Bangsa Indonesia. Bukan
untuk menerima pengakuan Belanda atas RIS (!) dengan
berbagai syarat.
--- noroyono1963@... wrote:
Akhir PerjalananKertanegara dan Kerajaan Singasari(Sebuah
tinjauansederhana)Kertanegara (.... – 1292)adalah raja ke 5 Kerajaan
Singasari,memerintah dari tahun 1268 hinggatahun 1292. Kertanegara merupakan
generasi ketiga dari hasil perkawinan Ken Dedes dengan Tunggul Ametung – Akuwu
(kepala wilayah) Tumapel, sebuah wilayah dibawah kekuasaan Kerajaan Daha.
Jalannya kejadian kemudian mengungkapkan TunggulAmetumg telah dibunuh secara
licik oleh pengawalnya sendiri bernama Ken Arok. Pembunuh majikannya sendiriini
kemudian mengangkat diri sebagai Akuwu Tumapel seraya mengawini Ken
Dedes,isteri majikan yang dibunuhnya. Tidak hanya sampai di sini, pada tahun
1222, Ken Arok melancarkanpemberontakan terhadap kekuasaan Kerajaan Daha. Dalam
pertempuran di dekatGanter, tentara Ken Arok telah berhasil membasmi secara
total tentaraKertajaya, raja terakhir Kerajaan Daha. Seiring dengan kemenangan
gilang-gemilangitu, Ken Arok mendirikan Kerajaan Singasari. Dan sejak kekalahan
tahun 1222itu, Daha menjadi taklukan KerajaanSingasari. Berbeda dengan para
pendahulunya, Kertanegara berambisi memperluas Kerajaan Singasari ke luarPulau
Jawa. Dalam rangka mewujudkan ambisinya itu, pada tahun 1275 Kertanegara telah
mengirim pasukankhusus dalam jumlah besar ke KerajaanMelayu di Dharmasraya,
Jambi. Pasukan khusus ini dibawah komando Kebo Anabrang -- seorang komandan
yangsangat piawai dalam strategi dan taktikmiliter. Walaupun tujuan akhir
pengiriman pasukan khusus ini adalah untukmenundukkan Kerajaan Melayu, namun
tujuan tersebut pertama-tama akandiikhtiarkan dicapai lewat diplomasi.Jika cara
itu ternyata gagal, barulah digunakan kekuatan militer. Sayang,jalannya
kejadian di lapangan megungkapkan bahwa penggunaan kekuatan militerlahpada
akhirnya yang dipakai dalam menundukkan Kerajaan Melayu. Ekspedisi ketanah
Melayu dikenal dalam sejarah dengan sebutan Ekspedisi Pamalayu. (“Pamalayu”
bermakna "perang melawanMalayu"). Pada tahun 1289, datang utusan Kaisar
Monggol Kubilai Khan bernama Meng Khi ke Singasari dengan membawapesan yang
intinya mengharuskan Singasari menyerahkan upeti secara tetap tiap tahunkepada
sang Kaisar. Pesan ini dijawab oleh Kertanegara dengan menoreh muka
(danmemotong telinga, kata sebuah sumber) Meng Khi. Kertanegara kemudian
menyuruhsi utusan pulang sambil membawa serta, secara tak terhindarkan, torehan
di mukanyasebagai “pesan-jawaban” atas pesan yang dikirim oleh sang Kaisar
Monggol. [Tentu saja “pesan-jawaban” tersebut telah membuat murka sang Kaisar..
Kelakdi kemudian hari, Kubilai Khan telah mengirim pasukan secara besar-besaran
keJawa guna menghukum Kertanegara. Namun apa daya, ketika pasukan penghukum
dari KekaisaranMonggol itu mendarat di Jawa pada tahun 1293,Kertanegara sudah
tiada. Yang ada adalah Jayakatwang. Raja Daha ini dengantegas menolak semua
tuntutan tentara Kubilai Khan. Bagi dia “lebih baik matiberkalang tanah
ketimbang hidup becermin bangkai”. Terjadilah perang anataratentara Kerajaan
Daha dan tentara Kubilai Khan. Jayakatwang gugur dalam perangtersebut.]
Kembali ke perseteruan Singasari vs Daha. Pada periode Kertanegara sebagairaja
Singasari, Jayakatwang –generasi ketiga di garis keturunan Kertajaya --
menjabat Bupati Gelanggelang(dekat Madiun, kata sebuah sumber). Pertanyaannya
di sini ialah: Denganikhlas-kah Jayakatwang menerima status quo ini? Sejarah
membuktikan bahwaJayakatwang di satu sisi dengan terpaksa menerima status quo
tersebut; namun disiisi lain Bupati Gelanggelang itu secara diam-diam menyusun
kekuatan sambilmenunggu saat yang tepat untuk melakukan revans terhadap
Singasari. Sementar itu, bebarapa sumber mengungkapkan bahwa politik
Kertanegara tidakselamanya didukung semua pejabat teras Kerajaan Singasari.
Banyak Wide, seorang yang mempunyai jabatan sebagai “PenasihatRaja”, adalah
satu di antara pejabat teras yang tidak selalu mendukung politikKertanegara.
Disebabkan sikap poltiknya itu, Banyak Wide telah ”diangkat” olehKertanegara
sebagai Adipati Sumenep di Madura Timur dengan gelar Aria Wiraraja ("Pemimpin
yangberani"). Banyak Wide“diangkat” tapi sesungguhnya disingkirkan oleh
Kertanegara. Beberapa waktu berselang pasca penyingkiran dirinya oleh
Kertanegara keMadura Timur, Aria Wiraraja menulis sepucuk surat rahasia kepada
Jayakatwang. Dengan bahasa sandi AriaWiraraja menulis dalam suratnya:
”PadukaRaja, perkenankan hamba memberi tahu, jika Paduka bermaksud berburu pada
suatuwaktu di perburuan yang lama, sebaiknya dilaksanakan sekarang saja. Disaat
yang baik ini, tak ada seekorpun belalang,tak ada seekorpun buaya di
perburuan. Macan menyepi, banteng menghilang dariperburuan. Tak ada duri
ataupun ular di perburuan. Memang ada singa, tapi hanyaseekor, dan itupun sudah
ompong, tidak mampu lagi menggigit orang. Hanya itulahpesan hamba.” Info
militer Wiraraja kepada Jayakatwang ini intinya adalah bahwa pasukan andalan
Singasari yangmenakutkan sedang tidak berada di lokasi. Pertahanan Kerajaan
Singasari sedang dalamkondisi yang sangat lemah. Saat seperti itu adalah saat
yang paling ideal untukmenyerang Singasari. [Yang dimaksud dengan “singa
ompong” adalah seorang patihtua bernama Raganata] Bertumpu pada info militer
AriaWiraraja tersebut, pada tahun 1292 Jayakatwangmelancarkan pemberontakan
terhadap kekuasaan Kerajaan Singasari denganmelancarkan serangan berskala besar
di dua front: front utara dan frontselatan. Serangan di front utara yang
dilakukan pasukan penunjang dipimpin JaranGuyang sebenarnya hanyalah sebuah
serangantaktis. Serangan ini dimaksudkan semata-mata untuk memancing Singasari
agarmengerahkan sebanyak mungkin pasukan ke front utara. Adapun serangan
yangdilakukan pasukan induk dipimpin Patih Kebo Mundarang di front selatan
adalahserangan strategis. Artinya,kesudahan pertempuran di front selatan inilah
yang akan menentukan sukses ataugagalnya pemberontakan yang dilancarkan
Jayakatwang terhadap kekuasaan KerajaanSingasari. Di front utara, pasukan
Singasari dipanglimai kedua menantu Kertanegara – Raden Wijaya dan Ardharaja –
berhasil mengalahkan pasukan penunjang Jayakatwang dalam suatu pertempuran di
kawasanNgantang.. Apa mau dikata, kemenangandi front utara ini tidak punya
pengaruh menentukan terhadapi jalannya perangsecara keseluruhan.
Ketidakberuntungan ini ternyata masih disusul lagi dengankemalangan yang lain.
Usai pertempuran, Raden Wijaya baru mengetahui bahwaArdharaja telah menghilang
dari medan pertempuran. Ardharaja pada akhirnya toh lebihmemilih bergabung
dengan pasukan Jayakatwang, sang ayah tercinta. Di front selatan, pasukan
indukJayakatwang (yang lebih baik secara kualitas dan lebih besar secara
kuantitas ketimbangpasukan penunjang) tidak menemuiperlawanan yang berarti dari
Kerajaan Singasari. Hal ini disebabkan oleh selainfaktor serangan pasukan
Jayakatwang yang mendadak sifatnya, juga oleh faktorminimnya jumlah personil
pasukan siap tempur di lingkungan Kerajaan Singasariketika itu. Pasukan
Jayakatwang dengan cepat merangsek menuju ibu kota KerajaanSingasari, membobol
pertahanan keraton, dan sebagai klimaksnya: MembunuhKertanegara! Ketika pasukan
penyerbu memasuki keraton, Kertanagara tengah berpestaminuman keras -- sebagai
salah satu bentuk ritual agama (gabungan Hindu Siwadengan Buddha Tantrayana)
yang dianutnya -- bersama sejumlah pejabat terasKerajaan Singasari. Kertanegara
beserta semua yang hadir pada upacara agama itutewas ditangan pasukan penyerbu.
Maka tamatlah sudah riwayat Kertanegaradan Kerajaan Singasari pada tahun 1292.
Sejak itu, Singasari kembali menjadi taklukan Kerajaan Daha. Bersamaan dengan
itu lahir-lah kembali Kerajaan Daha sebagai sebuah kerajaanmerdeka dengan
Jayakatwang sebagai raja, dan Kedirisebagai ibukotanya. Saya tidak tahu persis,
apakah BungKarno pernah menelaah dengan agak mendalam perjalanan sejarah
Kertanegara.Namun saya melihat ada satu aspek yang sama dalam perjalanan
sejarah keduannya.Kedua sosok sejarah ini banyak mencurahkan perhatian kepada
musuh-musuhnya di luarnegeri, tapi tidak cukup serius merespons ancaman
musuh-musuhnya di dalamnegeri. Noroyono08/06/2018
#yiv1317198630 -- #yiv1317198630ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1317198630
#yiv1317198630ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1317198630
#yiv1317198630ygrp-mkp #yiv1317198630hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv1317198630 #yiv1317198630ygrp-mkp #yiv1317198630ads
{margin-bottom:10px;}#yiv1317198630 #yiv1317198630ygrp-mkp .yiv1317198630ad
{padding:0 0;}#yiv1317198630 #yiv1317198630ygrp-mkp .yiv1317198630ad p
{margin:0;}#yiv1317198630 #yiv1317198630ygrp-mkp .yiv1317198630ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1317198630 #yiv1317198630ygrp-sponsor
#yiv1317198630ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv1317198630
#yiv1317198630ygrp-sponsor #yiv1317198630ygrp-lc #yiv1317198630hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1317198630
#yiv1317198630ygrp-sponsor #yiv1317198630ygrp-lc .yiv1317198630ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1317198630 #yiv1317198630actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1317198630
#yiv1317198630activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1317198630
#yiv1317198630activity span {font-weight:700;}#yiv1317198630
#yiv1317198630activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv1317198630 #yiv1317198630activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1317198630 #yiv1317198630activity span
span {color:#ff7900;}#yiv1317198630 #yiv1317198630activity span
.yiv1317198630underline {text-decoration:underline;}#yiv1317198630
.yiv1317198630attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv1317198630 .yiv1317198630attach div a
{text-decoration:none;}#yiv1317198630 .yiv1317198630attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1317198630 .yiv1317198630attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1317198630 .yiv1317198630attach label a
{text-decoration:none;}#yiv1317198630 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv1317198630 .yiv1317198630bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1317198630
.yiv1317198630bold a {text-decoration:none;}#yiv1317198630 dd.yiv1317198630last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1317198630 dd.yiv1317198630last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1317198630
dd.yiv1317198630last p span.yiv1317198630yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv1317198630 div.yiv1317198630attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv1317198630 div.yiv1317198630attach-table
{width:400px;}#yiv1317198630 div.yiv1317198630file-title a, #yiv1317198630
div.yiv1317198630file-title a:active, #yiv1317198630
div.yiv1317198630file-title a:hover, #yiv1317198630 div.yiv1317198630file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1317198630 div.yiv1317198630photo-title a,
#yiv1317198630 div.yiv1317198630photo-title a:active, #yiv1317198630
div.yiv1317198630photo-title a:hover, #yiv1317198630
div.yiv1317198630photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1317198630
div#yiv1317198630ygrp-mlmsg #yiv1317198630ygrp-msg p a
span.yiv1317198630yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1317198630
.yiv1317198630green {color:#628c2a;}#yiv1317198630 .yiv1317198630MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv1317198630 o {font-size:0;}#yiv1317198630
#yiv1317198630photos div {float:left;width:72px;}#yiv1317198630
#yiv1317198630photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1317198630
#yiv1317198630photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1317198630
#yiv1317198630reco-category {font-size:77%;}#yiv1317198630
#yiv1317198630reco-desc {font-size:77%;}#yiv1317198630 .yiv1317198630replbq
{margin:4px;}#yiv1317198630 #yiv1317198630ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1317198630 #yiv1317198630ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1317198630
#yiv1317198630ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1317198630
#yiv1317198630ygrp-mlmsg select, #yiv1317198630 input, #yiv1317198630 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1317198630
#yiv1317198630ygrp-mlmsg pre, #yiv1317198630 code {font:115%
monospace;}#yiv1317198630 #yiv1317198630ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv1317198630 #yiv1317198630ygrp-mlmsg #yiv1317198630logo
{padding-bottom:10px;}#yiv1317198630 #yiv1317198630ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv1317198630 #yiv1317198630ygrp-msg
p#yiv1317198630attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv1317198630
#yiv1317198630ygrp-reco #yiv1317198630reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1317198630 #yiv1317198630ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1317198630 #yiv1317198630ygrp-sponsor
#yiv1317198630ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1317198630
#yiv1317198630ygrp-sponsor #yiv1317198630ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1317198630
#yiv1317198630ygrp-sponsor #yiv1317198630ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv1317198630 #yiv1317198630ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv1317198630 #yiv1317198630ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv1317198630 #yiv1317198630ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1317198630
#yiv1317198630ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv1317198630