https://tirto.id/isu-agama-di-balik-ide-koalisi-umat-yang-digagas-rizieq-shihab-cLS1
Isu Agama di Balik Ide Koalisi Umat
yang Digagas Rizieq Shihab
Ketua DPP PA 212 Slamet Maarif memberikan keterangan pers mengenai
memilih pemimpin Capres dan Cawapres yang tidak tunduk kepada
kepentingan asing. di Rakornas PA 212 di Cibubur, Jakarta Timur
Selasa(29/5/2018). tirto.id/Naufal Mamduh.
<https://tirto.id/isu-agama-di-balik-ide-koalisi-umat-yang-digagas-rizieq-shihab-cLS1>
Ketua DPP PA 212 Slamet Maarif memberikan keterangan pers
mengenai memilih pemimpin Capres dan Cawapres yang tidak
tunduk kepada kepentingan asing. di Rakornas PA 212 di
Cibubur, Jakarta Timur Selasa(29/5/2018). tirto.id/Naufal
Mamduh.
Oleh: M. Ahsan Ridhoi - 7 Juni 2018
Dibaca Normal 3 menit
/Direktur Populi Centre menilai koalisi keumatan yang diserukan Rizieq
Shihab berpotensi memperuncing segregasi masyarakat./
tirto.id <https://tirto.id/> - Permintaan Rizieq Shihab agar Gerindra,
PAN, PKS dan PBB secepatnya membangun koalisi keumatan menjelang Pilpres
2019 mendapat sorotan. Direktur Populi Centre Usep S Ahyar menilai,
koalisi keumatan yang diserukan imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu
berpotensi memperuncing segregasi dan konflik horizontal di kalangan
masyarakat.
Hal ini, kata Usep, karena kata “umat” merupakan sebuah konsep yang
menyimbolkan golongan tertentu, yakni Islam. Sehingga, jika benar-benar
direalisasikan koalisi berdasarkan kata tersebut, maka akan menciptakan
perpecahan di antara umat beragama. Baik di antara umat Islam yang
berbeda pandangan politik, maupun dengan umat agama lain.
“Sentimen yang sudah menganga saat Pilgub DKI, bisa semakin melebar
dengan koalisi umat di [Pilpres] 2019,” kata Usep kepada /Tirto/, Rabu
(6/6/2018).
Lebih lanjut, Usep menilai, langkah semacam ini menunjukkan kebuntuan
akal dan strategi dari PKS, PAN, PBB dan Gerindra sebagai partai yang
tergabung dalam koalisi keumatan dalam meraih kekuasaan. Alhasil,
cara-cara yang berpotensi merusak persatuan dan kesatuan bangsa pun
mesti ditempuh.
“Walapun, menurut saya itu tidak mudah [meraih kekuasaan]. Karena
berbeda dengan Jakarta. Lawan politiknya tidak seperti Ahok [Basuki
Tjahaja Purnama] yang memang antitesa umat,” kata Usep.
Menurut Usep, Jokowi sebagai sosok atau calon yang kemungkinan besar
menjadi lawan politik dari kandidat yang diajukan koalisi umat ini juga
didukung partai dengan latar belakang keislaman, seperti PKB dan PPP.
Akan tetapi, kata Usep, kubu Jokowi perlu mengantisipasi kemungkinan
penggunaan sentimen agama yang masif dari kubu koalisi umat. Menurutnya,
cara yang terbaik adalah mengampanyekan komitmen persatuan dan kesatuan
bangsa dan bukan bersikap reaksioner dengan memunculkan sentimen
anti-umat Islam.
"Jangan menggunakan hukum untuk kriminalisasi ulama, misalnya. Lebih
baik banyak memberikan langkah persatuan dan membuktikan kinerja," kata
Usep.
Guna melalukan itu, kata Usep, Jokowi bisa menggunakan kinerja
partai-partai pendukungnya saat ini yang berasal dari latar belakang
yang beragam. Misalnya, kata dia, Jokowi bisa menggunakan PDIP, Nasdem
dan Hanura untuk memberikan pengertian kepada golongan nasionalis.
Sementara PPP dan PKB bisa digunakan untuk mendekati kalangan Islam,
sedangkan Golkar, dengan sejarah panjangnya sebagai golongan karya, bisa
kepada mereka yang berlatar belakang birokratis.
Senada dengan Usep, Sekretaris Badan Pelatihan dan Kaderisasi DPP PDIP,
Eva Kusuma Sundari pun menyayangkan penggunaan terminologi “umat”
sebagai sebuah bentuk koalisi politik. Karena, kata dia, politisasi
agama di negara homogen atau heterogen tempatnya hanya menciptakan
keburukan.
“Semua negara yang konflik saat ini adalah negara mayoritas muslim
akibat politisasi agama," kata Eva kepada /Tirto./
Oleh karena itu, Eva menyatakan, PDIP berkomitmen tetap berpegang pada
tekad untuk memajukan politik berkeadaban. Sehingga demokrasi yang
dihasilkan dari pemilu dapat berkualitas.
"Identitas politik bangsa sudah final. Jadi akan teguh mengajukan
gagasan untuk memajukan kesejahteraan rakyat," kata Eva.
Anggota Komisi XI DPR ini pun menyatakan, partainya tidak akan menyikapi
politik sentimen keagamaan ala koalisi umat dengan cara-cara yang
reaksioner. Melainkan, "melalui pendidikan politik soal kewarganegaraan,
bahwa Pancasila adalah inklusif."
Baca juga:
* Soal Nama Koalisi Keumatan, Ngabalin: Umat Mana yang Dimaksud?
<https://tirto.id/soal-nama-koalisi-keumatan-ngabalin-umat-mana-yang-dimaksud-cLSQ>
* Di Balik Pertemuan Prabowo-Amien dengan Rizieq Shihab di Makkah
<https://tirto.id/di-balik-pertemuan-prabowo-amien-dengan-rizieq-shihab-di-makkah-cLCG>
Respons Gerindra
Wakil Sekjen DPP Gerindra, Andre Rosiade menyatakan koalisi umat
dibentuk bukan untuk memperuncing segregasi di antara masyarakat,
melainkan mewadahi aspirasi umat Islam yang selama ini kurang
diperhatikan partai-partai lainnya.
Andre bahkan mengklaim, sebelum disampaikan Rizieq pun antara Gerindra,
PKS dan PAN sudah membicarakan koalisi dan sedikit lagi mencapai kata
sepakat. "Dengan dukungan ulama dan umat Islam, koalisi ini semakin
kuat," kata Andre kepada /Tirto/.
Andre juga membantah sentimen agama menjadi satu-satunya senjata koalisi
ini untuk meraih kemenangan di Pilpres 2019. Menurut dia, koalisi akan
tetap berpegang pada kritik terhadap lima tahun berjalannya pemerintahan
Jokowi.
Karena, menurut Andre, banyak hal yang tidak direalisasikan Jokowi
selama menjabat sebagai presiden. Salah satunya terkait pengentasan
kemiskinan, stabilisasi harga pokok dan ketimpangan sosial masyarakat.
Tiga hal yang menurutnya, membuat masyarakat semakin sengsara.
"Kami mengapresiasi perihal infrastruktur, tapi ya harus dibangun dengan
terukur. Jangan membuat masyarakat susah seperti sekarang," kata Andre.
Maka, kata Andre, tujuan utama dari koalisi umat adalah untuk
memunculkan pemimpin Indonesia baru yang lebih berpihak pada rakyat dan
tidak melupakan janji-janjinya.
Dalam hal ini, Andre pun membantah anggapan Usep bahwa koalisi Jokowi
saat ini lebih susah dikalahkan daripada saat Pilgub DKI Jakarta.
Menurutnya, komposisi partai pendukung Jokowi tetap sama dengan
pendukung Ahok dan telah terbukti kalah.
"Pak Prabowo dengan dukungan umat Islam, ulama dan rakyat akan menjadi
kekuatan yang bisa mengalahkan Jokowi," kata Andre.
Baca juga:
* Mardani Ali Sera: #2019GantiPresiden Berpeluang Dukung Jokowi
<https://tirto.id/mardani-ali-sera-2019gantipresiden-berpeluang-dukung-jokowi-cJYK>
* Di Balik Taktik PA 212 Menetapkan Rizieq Sebagai Bakal Capres 2019
<https://tirto.id/di-balik-taktik-pa-212-menetapkan-rizieq-sebagai-bakal-capres-2019-cLtR>
Infografik CI Koalisi Keumatan
Capres-Cawapres Versi PA 212 untuk Koalisi Umat
Amanat koalisi umat ini disampaikan Rizieq setelah Rapat Koordinasi
Nasional (Rakornas) PA 212 di Cibubur, Jakarta, Selasa (29/5). Rizieq
mengamanatkan untuk terus mendorong terealisasinya deklarasi terbuka
koalisi keumatan Gerinda, PAN, PKS dan PBB sebelum deklarasi calon
presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).
''Dengan tujuan persatuan umat Islam yang sudah terbangun dalam spirit
212 tetap terjaga dengan baik sehingga akan berdampak pada kemenangan di
Pilkada serentak 2018, Pileg dan Pilpres 2019," kata Ketua Umum PA 212,
Slamet Ma'arif, dalam keterangan tertulis yang diterima /Tirto/, Rabu
(6/6/2018).
Pada rakernas tersebut, juga ditetapkan capres dan cawapres untuk
diusung koalisi umat. Terdapat nama Rizieq sebagai capres. Selain itu,
terdapat pula nama Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto; Gubernur Nusa
Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi;
Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra; dan Ketua
Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan.
Untuk nama cawapres, adalah Ahmad Heriyawan, Hidayat Nur Wahid, Yusril
Ihza Mahendra, dan Anis Matta. Nama lainnya yakni Zulkifli Hasan, Eggi
Sudjana, Bachtiar Nasir, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan.
Baca juga artikel terkait PILPRES 2019
<https://tirto.id/q/pilpres-2019-c2Z?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya M. Ahsan Ridhoi
<https://tirto.id/author/mahsan?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Reporter: M. Ahsan Ridhoi
Penulis: M. Ahsan Ridhoi
Editor: Abdul Aziz