http://www.panjimas.com/citizens/2018/06/23/ekonomi-semakin-sulit-akibat-rupiah-terus-terjepit/
Ekonomi Semakin Sulit Akibat Rupiah Terus Terjepit
<http://www.panjimas.com/citizens/2018/06/23/ekonomi-semakin-sulit-akibat-rupiah-terus-terjepit/>

23 Jun 2018

<http://www.panjimas.com/citizens/2018/06/23/ekonomi-semakin-sulit-akibat-rupiah-terus-terjepit/>
<http://www.panjimas.com/citizens/2018/06/23/ekonomi-semakin-sulit-akibat-rupiah-terus-terjepit/>



Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih mengalami keterpurukan. Sejak
tahun 2015 lalu nilai tukar rupiah mengalami penurunan dan tidak mampu
menembus angka Rp 10.000 per dolar AS, seperti yang pernah diramalkan dan
dijanjikan pada saat kampanye penguasa. Tapi, di bulan Mei tahun 2018 ini,
nilai tukar rupiah justru berdasarkan kurs referensi Jakarta* Interbank
Spot Dollar Rate (Jisdor)* terus terjun hingga menembus di level RP 14.084
per dolar AS. (*kompas.com <http://kompas.com>*)

Bahkan, sampai bulan Juni ini, nilai tukar rupiah berakhir melemah 57 poin
atau 0,41% di Rp 13.932 per dolar AS seiring pergerakan IHSG pada penutupan
perdagangan Jumat 8 Juni 2018. (*bisnis.com <http://bisnis.com>*)

Terpuruknya nilai tukar rupiah akan mempengaruhi kondisi ekonomi negeri
ini. Berbagai kalangan pasti akan mengalami pengaruhnya, baik kalangan
pengusaha, investor, pelaku industri dan kebijakan negara. Namun, pada
akhirnya yang paling terpengaruh dari dampak penurunan rupiah ini dan yang
menderita adalah rakyat kecil.

Apalagi para ekonom menyatakan, bahwa melemahnya nilai tukar rupiah
terhadap dolar bisa berpengaruh pada harga kebutuhan pokok terutama
menjelang lebaran nanti. Hal ini pasti akan sangat berat dirasakan oleh
masyarakat terutama rakyat kecil.

*Faktor Penyebab Melemahnya Nilai Rupiah*

Pelemahan nilai tukar rupiah sudah diprediksi sebelumnya dengan melihat
ekspektasi pasar terhadap kenaikan bunga acuan bank sentral AS, *Fed Fund
(FFR)* sebanyak tiga hingga empat kali pada tahun ini. Namun menurut
Direktur Eksekutif di *Institute for Development or Economics* dan *Finance
(Indef),* Enny Sri Hartati, meski pelemahan nilai tukar rupiah ini
terprediksi, namun kurang diantisipasi. (bbc.com)

Adapun penyebab melemahnya nilai tukar rupiah, menurut Dr. Arim Nasim dalam
sebuah tulisannya ‘*Dibalik Gejolak Rupiah*’, penyebab terus melemahnya
nilai tukar rupiah terhadap dolar merupakan konsekuensi logis atas
penerapan sistem kapitalis yang menjadikan uang sebagai komoditas.
Akibatnya, nilai mata uang naik-turun mengikuti hukum permintaan dan
penawaran. Pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS adalah karena
permintaan atau kebutuhan akan dolar AS di dalam negeri meningkat,
sementara *supply*-nya tetap bahkan menurun. Akibatnya nilai tukar rupiah
semakin turun.

Permintaan terhadap dolar yang tinggi, tidak terlepas karena defisitnya
traksaksi berjalan, yakni impor lebih banyak dibandingkan ekspor. Selain
itu, terus meningkatnya aliran keluar modal asing dari dalam negeri
terutama yang berasal dari pasar saham dan dana obligasi. Hal ini juga
menjadikan permintaan terhadap dolar tinggi. Ditambah pula dengan politik
anggaran negara (APBN) kita yang tergantung pada utang luar negeri.
Sehingga utang ini semakin menambah kebutuhan atau permintaan terhadap
dolar.

Terus terjepitnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dapat menggangu
kestabilan ekonomi, sehingga menjadi ekonomi kita semakin sulit. Dampak
yang akan muncul adalah mahalnya barang-barang yang mengandung komponen
impor. Sedangkan di Indonesia sendiri banyak industri yang masih
mengandalkan bahan baku dari luar negeri, termasuk industri kecil-menengah.
Kondisi ini akan membuat para pelaku usaha bingung karena membeli bahan
dengan mata uang dolar, tetapi dalam penjualannya menggunakan mata uang
rupiah.

Pelemahan nilai tukar ini akhirnya akan menambah jumlah kemiskinan dan
pengangguran. Karena harga barang mengalami kenaikan, sementara penghasilan
tetap atau bahkan berkurang. Ditambah lagi adanya pemutusan hubungan kerja
(PHK). Alhasil, angka kriminalitas dan permasalahan sosial lainnya akan
meningkat.

*Ketangguhan Sistem Ekonomi Islam dalam Menjaga Kestabilan Ekonomi*

Semakin terjepitnya nilai tukar rupiah terhadap dolar menjadikan ekonomi
kita semakin sulit. Hal ini tidak lain akibat dari penerapan sistem ekonomi
kapitalis. Sistem ekonomi kapitalis telah terbukti menimbulkan krisis yang
berulang. Berbeda halnya dengan sistem ekonomi Islam yang tergambar dalam
sistem keuangan Islam. Sistem keuangannya menunjukkan bagaimana ketangguhan
sistem ekonomi Islam yang pernah diterapkan lebih dari 1200 tahun lamanya
dan tidak pernah mengalami krisis ekonomi yang signifikan.

Muhammad Shalahuddin SE, MS, (Direktur Pasar Studi Ekonomi Islam
Universitas Muhammadiyah Surakarta) memberikan gambaran  sistem keuangan
Islam dalam sebuah tulisannya ”Sistem Keuangan Islam Global”, dalam tulisan
tersebut dijelaskan bahwa sistem keuangan Islam secara komprehensif terdiri
dari: 1). Mata uang *syar’i *berdasarkan emas/perak; 2). Bebas Riba; 3)
Bertumpu pada ekonomi sektor riil.

*Pertama: *Sistem ekonomi Islam telah menetapkan bahwa emas dan perak
merupakan mata uang bukan yang lain. Mengeluarkan kertas substitusi harus
ditopang degan emas dan perak dengan nilai yang sama dan dapat ditukar saat
ada permintaan. Sehingga uang kertas negara manapun tidak akan bisa
didominasi oleh negara lain. Sebaliknya uang tersebut mempunyai nilai
intrinsik yang tetap dan tidak berubah.

*Kedua,* Sistem keuangan Islam secara tegas melarang riba dana penjualan
komoditi sebelum dikuasai oleh penjualnya. Karena itu, haram menjual barang
yang belum menjadi miliknya secara sempurna. Haram memindah tangankan
kertas berharga, obligasi dan saham yang dihasilkan dari akad-akad yang
batil. Islam juga mengharamkan semua sarana penipuan dan manipulasi yang
dibolehkan oleh kapitalisme dengan klaim kebebasan kepemilikan.

*Ketiga, *bertumpu pada ekonomi riil. Sistem ekonomi Islam selalu
menomorsatukan kebutuhan dan pemberdayaan masyarakat secara riil – bukan
sekadar pertumbuhan ekonomi saja – sebagai isu utama yang memerlukan jalan
keluar dan penerapan kebijakan.

Masih dalam tulisan yang sama, ketangguhan sistem ekonomi Islam juga
terlihat dari: *pertama,* menggerakan ekonomi riil. Ekonomi Islam tidak
mengenal dualisme ekonomi, yaitu sektor riil dan sektor non riil, yang
aktivitasnya didominasi oleh praktik pertaruhan terhadap apa yang akan
terjadi pada ekonomi riil. Karena itu, ekonomi Islam didasarkan pada
ekonomi riil.

Dengan demikian, semua aturan ekonomi Islam memastikan agar perputaran
harta kekayaan tetap berputar secara luas. Serta larangan terhadap adanya
bunga (riba) bisa dipraktikan dengan melakukan investasi modal disektor
ekonomi riil, karena penanaman modal di sektor lain (non-riil, seperti
pasar uang maupun pasar modal) dilarang dalam syariah.

*Kedua,* menciptakan stabilitas keuangan dunia. Dengan diterapkannya sistem
keuangan Islam (mata uang Islam dinar dan dirham, larangan riba dan
penerapan ekonomi berbasis sektor riil yang melarang spekulatif di pasar
keuangan derivatif) akan tercipta stabilitas keuangan dunia.  Setelah lebih
dari 14 abad daya beli atau nilai tukar dinar memiliki nilai yang tetap.
Hal itu terbukti dengan daya beli 1 dinar pada zaman Rasulullah *Shallallahu
‘Alaihi Wasallam* yang bisa ditukarkan dengan seekor kambing. Pada saat ini
pun 1 dinar (4,25 gram) dapat ditukar dengan 1 ekor kambing (1 dinar
sekarang sekitar Rp 2.700.000,-).

*Ketiga,* tidak mudah diintervensi asing atau mandiri. Negara menetapkan
sistem keuangan Islam secara komprehensif akan melaksanakan politik
swasembada: mengurangi (meminimkan) impor, menerapkan strategi subsitusi
terhadap barang-barang impor dengan komoditas yang diperlukan di dalam
negeri ataupun menjualnya dengan pembayaran dalam bentuk emas atau perak
atau dengan mata uang asing yang diperlukan untuk mengimpor barang-barang
dan jasa yang dibutuhkan. Sehingga dengan menerapkan sistem keuangan Islam
yang komprehensif negara menjadi kuat dan mandiri. Niscaya hal tersebut
akan menjadikan negara tidak mudah diintervensi oleh pihak asing.

Sungguh kita sebagai Muslim patut berbangga, karena Islam bukan hanya
memiliki aturan terkait ibadah saja. Tetapi, Islam memiliki aturan terkait
masalah ekonomi yang termasuk kepada aturan muamalah. Namun, perlu dipahami
sistem ekonomi Islam termasuk di dalamnya sistem keuangannya, tidak bisa
dilaksanakan oleh individu atau sekelompok masyarakat saja. Serta, kita pun
tidak bisa menerapkan aturan pada negara kapitalis-sekuler saat ini, karena
dia hanya akan menerapkan aturan selain Islam. Hanya ada satu institusi
yang akan membawa kita pada ekonomi yang mumpuni, tak lain institusi itu
adalah Khilafah yang akan menerapkan Islam bukan hanya aturan ekonominya
saja, tapi semua aspek kehidupan termasuk di dalamnya politik dan lainnya.
Karena aturan Islam tidak bisa hanya sebagian diterapkan dan sebagiannya
lagi dicampakkan.

Penerapan Islam secara menyeluruh oleh Khilafah sebagai ajaran Islam yang
telah diwariskan oleh Rasulullah *Shallallahu ‘Alaihi Wasallam* kepada kaum
muslimin akan mampu membawa negeri kita Indonesia pada kesejahteraan dan
menjaga keberlangsungan hidup masyarakatnya yang terdiri dari berbagai
macam suku, ras, agama dan budaya. Serta akan membawa kita pada kehidupan
penuh dengan limpahan keberkahan Allah *Subhanahu Wa Ta’ala*.

*Wallahu’alam bi ash-showab*



Sri Nurhayati, S.Pd.I

(Pengisi Keputrian SMAT Krida Nusantara)

Kirim email ke