Kementan rilis varietas padi gogo berproduktivitas tinggi
Minggu, 24 Juni 2018 11:17 WIB
Kementan rilis varietas padi gogo berproduktivitas tinggi
Padi Larikan Gogo Super (LARGO SUPER) inovasi buatan Badan Penelitian
dan Pengambangan Pertanian untuk peningkatan produksi padi di lahan
kering (Handout)
Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Pertanian merilis varietas baru padi
gogo dengan hasil panen tinggi dan berumur pendek untuk pertanian di
lahan kering yang disebut Inpago.
Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Prof Dr Dedi
Nursyamsi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu, mengatakan bahwa
dengan padi gogo varietas baru itu, Kementan semakin percaya diri untuk
mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045 melalui
pemanfaatan lahan kering, lahan rawa, dan lahan irigasi.
"Semua potensi lahan siap dikerahkan karena varietas unggul di setiap
tipe lahan telah tersedia. Sebelumnya kita hanya bertumpu pada lahan
irigasi," katanya.
Menurut Dedi, potensi lahan kering untuk pengembangan padi gogo sangat
besar dari luas 80 juta ha lahan kering yang sesuai untuk padi gogo
mencapai 24,7 juta ha.
Lahan tersebut terbagi menjadi lahan kering masam seluas 2 1 juta ha dan
lahan kering iklim kering 3,7 juta ha.
Ia menambahkan, hasil riset Balitbangtan padi gogo itu dapat dipanen
dengan hasil 7-10 ton per ha pada umur 110 hari.
"Kita tak usah muluk-muluk, cukup hasilnya 4 ton per hektare, Indonesia
sudah surplus pangan," kata Dedi.
Itu bila dilakukan ekstensifikasi padi gogo ke lahan kering seluas 1
juta ha dengan indeks pertanaman 150.
Dari situ setiap tahun ada tambahan produksi padi yang sangat signifikan
sebesar 6 juta ton GKG.
Saat ini varietas padi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian berupa
inbrida padi gogo (Inpago) yang dikenal sebagai padi ladang atau padi gogo.
Inpago 12 g potensi hasilnya 10,2 ton/ha dan pada umur 111 hari serta
toleran terhadap keracunan Al dan kekeringan serta tahan penyakit blas
ras 033.
Varietas itu jauh lebih unggul dibanding varietas lokal yang hanya 1-2
ton/ha dengan umur panen 6 bulan.
Kepala Puslitbang Tanaman Pangan, Bogor Dr Ismail Wahab, mengatakan
varietas padi gogo lainnya adalah Inpago 9 dan Inpago Rindang 2 Agritan.
Untuk Inpago 9 hasil panen 8,4 ton/ha dengan umur 109 hari, agak toleran
terhadap keracunan Al dan kekeringan, serta agak tahan terhadap wereng
batang coklat biotipe 1 dan agak tahan terhadap penyakit blas ras 133.
Sementara Inpago Rindang 2 Agritan merupakan padi gogo khusus untuk
intercropping dengan tanaman perkebunan seperti kelapa, karet.
"Walaupun ternaungi, hasilnya bisa 7,39 ton/ha," kata Ismail.
Varietas itu juga tahan terhadap cekaman abiotik, toleran terhadap
kekeringan dan keracunan Al.
*Baca juga:Pemerintah siapkan 1.000 pengering padi untuk petani
<https://www.antaranews.com/berita/708299/pemerintah-siapkan-1000-pengering-padi-untuk-petani>
Baca juga:Pemkab Pandeglang dorong pemuda jadi petani
<https://www.antaranews.com/berita/711250/pemkab-pandeglang-dorong-pemuda-jadi-petani>
Baca juga:Indonesia butuh tanah sehat untuk lumbung pangan
<https://www.antaranews.com/berita/711047/indonesia-butuh-tanah-sehat-untuk-lumbung-pangan>*
Peneliti Balai Besar Litbang Padi, Sukamandi, Dr Aris Hairmansis,
mengatakan Badan Litbang Pertanian sebenarnya sudah memiliki belasan
varietas padi gogo unggul dengan ciri khas keunggulan masing-masing.
Misalnya Inpago 8 dan Inpago 10 yang rasanya pulen sehingga disukai suku
Sunda, Jawa, dan Sulawesi.
Ada pula Inpago 9 dan Inpago 11 yang rasanya pera sehingga sangat
disukai masyarakat Minang (Sumbar dan Riau) dan suku Banjar (Kalsel dan
Kaltim).
Selain itu varietas Situpatenggang yang wangi dan Inpago 7 yang
tergolong beras merah.
Menurut Direktur Institut Agroekologi Indonesia (INAgri), Syahroni, SP,
hadirnya varietas padi ladang berproduksi tinggi dan berumur pendek
mematahkan anggapan cita-cita lumbung pangan dunia hanya bisa terwujud
dari sawah irigasi.
"Justru padi ladang menjadi harapan bagi Indonesia. Ia tidak rakus air
dan dapat ditanam di manapun," kata Syahroni.
Dulu, menurut Syahroni, padi ladang sempat dianggap sebelah mata karena
hasil panen hanya 1-2 ton per ha.
*Baca juga:Penangkaran VUB Padi BPTP-Poktan mulai dipanen
<https://www.antaranews.com/berita/703527/penangkaran-vub-padi-bptp-poktan-mulai-dipanen>
Baca juga:Varietas Inpari 42 dan 43 Gantikan Ciherang
<https://www.antaranews.com/berita/680160/varietas-inpari-42-dan-43-gantikan-ciherang>
Baca juga:UPBS BPTP Balitbangtan Sumut panen padi varietas unggul baru
<https://www.antaranews.com/berita/679901/upbs-bptp-balitbangtan-sumut-panen-padi-varietas-unggul-baru>*
Pewarta:Hanni Sofia
Editor: Gilang Galiartha
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com