https://www.antaranews.com/berita/720925/kemenperin-undp-sinergi-
kurangi-sampah-plastik
Kemenperin-UNDP sinergi
kurangi sampah plastik
Minggu, 24 Juni 2018 18:41 WIB
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian
Perindustrian, Ngakan Timur Antara (kanan) memperhatikan robot bernama
Nova (Network Optimized Virtual Assistant) dari Bandung Techno Park
(BTP) Telkom University, beberapa waktu lalu. (ANTARA News/ Biro Humas
Kementerian Perindustrian)
Sekarang sudah ada yang menjual sedotan berbahan logam atau bambu,
bahkan desainnya banyak yang unik."
Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Perindustrian bersama Badan
Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pembangunan (United Nations Development
Programme/UNDP) mengajak kepada seluruh pihak di Indonesia agar bisa
saling bersinergi melakukan tindakan dalam mengurangi polusi plastik.
Dalam pernyataan resminya, UNDP memperkirakan terdapat 13 juta ton
sampah plastik yang terbuang ke lautan dan berdampak mengganggu
lingkungan hidup di seluruh dunia setiap tahunnya.
“Oleh karena itu, penanganan sampah plastik ini merupakan tanggung jawab
bersama baik pemerintah, swasta, dan masyarakat,” catat Kepala Badan
Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur
Antara dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Menurut Ngakan, secara garis besar dapat dilakukan melalui tiga cara
dalam upaya menekan sampah plastik, yaitu meminimalisir penggunaan
produk berbahan plastik sekali pakai, menggunakan material alternatif
yang lebih mudah terurai, dan melakukan daur ulang sampah plastik
menjadi barang bernilai ekonomi.
“Untuk mengurangi sampah kantong plastik, sebenarnya penggunaan plastik
urai hayati (/biodegradable plastic/) bisa menjadi salah satu solusi.
Namun itu belum begitu popular di kalangan non-retail, karena harganya
dianggap masih relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan plastik
konvensional,” ungkapnya.
Kendati demikian, lanjut Ngakan, tidak hanya teknologi biodegradable
plastik saja yang menjanjikan perubahan pola konsumsi plastik di
masyarakat, namun juga kemasan siap makan (/edible coating/) mulai
berkembang digunakan.
“Kemasan tersebut sifat materialnya seperti plastik dan berfungsi
seperti plastik yang lazim digunakan pada industri makanan,” paparnya.
Bahan edible coating ini biasanya dari material nabati seperti tapioka
yang dipastikan lebih ramah lingkungan, dan tentunya bisa dimakan
(/edible/).
Ngakan meyakini bahwa akan lebih banyak teknologi di masa depan yang
dapat membantu memecahkan masalah plastik, namun demikian memasukkan
plastik ke dalam /circular economy/ merupakan salah satu solusi tercepat
saat ini.
“Contoh sederhana peran masyarakat dalam /circular economy/ tersebut
adalah dengan membawa kemasan sisa produk atau produk yang tidak
terpakai ke dalam /collecting point/,” jelasnya.
Ngakan juga menyebutkan, salah satu merek kosmetika ternama bahkan
memberikan reward berupa poin kepada konsumen yang mengembalikan kemasan
kosmetik bekas pakai.
Poin tersebut yang bisa ditukarkan dalam rupiah yang bisa dibelanjakan
kembali untuk produk-produk dari merk tersebut.
Inisiasi lainnya adalah pengurangan sedotan plastik yang sedang
digalakkan franchise restoran cepat saji terkenal di Indonesia.
Gerakan tersebut malah menciptakan peluang baru, yakni pembuatan sedotan
yang bisa dipakai berkali-kali, yang ternyata juga melahirkan kreativitas.
“Sekarang sudah ada yang menjual sedotan berbahan logam atau bambu,
bahkan desainnya banyak yang unik,” ungkap Ngakan.
Senior Programme Manager UNDP Indonesia, Anton Sri Probiyantono
menyampaikan, risiko yang ditimbulkan polusi plastik terhadap lingkungan
hidup dan kesehatan manusia telah mendorong masyarakat internasional
untuk bertindak melalui gerakan global "Beat Plastic Pollution" dalam
rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni.
“Kami ingin mendorong semua orang untuk mulai melakukan sesuatu yang
sederhana dalam kehidupan sehari-hari untuk menyelamatkan lingkungan
hidup,” ujarnya.
Teddy Caster Sianturi, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri
Hijau dan Lingkungan Hidup (Puslitbang IHLH) Kemenperin menambahkan,
plastik merupakan hasil revolusi industri yang memegang peranan penting
dalam merevolusi hidup manusia.
“Plastik berperan dalam segala bidang mulai dari otomotif, elektronika,
pangan, dan masih banyak lagi,” ujarnya menambahkan.
Oleh karena itu, kata Teddy, salah jika mengatakan “bye bye plastic”,
karena yang diperlukan adalah bagaimana memanajemen sampah plastik.
“Membakar plastik adalah tindakan yang salah. Pembakaran plastik malah
bisa menimbulkan senyawa dioksin dan furan yang sangat berbahaya bagi
kesehatan,” jelasnya.
Guna berkontribusi terhadap tujuan menekan polusi plastik, Kemenperin
dan UNDP mengadakan acara khusus melalui pameran fotografi dan pameran
instalasi seni berbahan sampah plastik, workshop mewarnai tas belanja
berbahan kain, lomba memilah sampah, serta pemutaran film dokumenter
tentang pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan ini diharapkan dapat membidik para generasi muda Indonesia agar
perhatian terhadap isu pembangunan lingkungan hidup.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menegaskan,
pihaknya berkomitmen mendorong pertumbuhan industri yang berkelanjutan
dan ramah lingkungan, salah satunya melalui produsen biodegradable
plastic untuk meningkatkan produksinya.
Upaya ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi
pelestarian lingkungan hidup.
“Kalau bisa, dalam waktu dua tahun ini, produknya 10 kali lipat makin
banyak. Jadi, tidak hanya menggantikan untuk shopping bag tetapi juga
packaging secara keseluruhan, dan tidak hanya di pasar modern tetapi
juga tradisional,” tuturnya.
Untuk itu, Menperin memacu peningkatan produksi biodegradable plastic
hingga lima persen dari jumlah kapasitas nasional saat ini sebesar 200
ribu ton per tahun untuk menggantikan plastik konvensional yang tidak
ramah lingkungan.
“Sementara itu, konsumsi plastik di Indonesia mencapai lima juta ton per
tahun, dan baru 50 persen yang bisa dipenuhi dari industri dalam
negeri,” ungkapnya.
Terlebih lagi, Pemerintah Indonesia tengah gencar mendorong konsep
ekonomi sirkular dengan prinsip yang dikenal sebagai 5R. Prinsip ini
antara lain dilakukan melalui reduce atau pengurangan pemakaian material
mentah dari alam.
Selain itu, juga melalui prinsip reuse atau optimasi penggunaan material
yang dapat digunakan kembali, daur ulang (recycle), perolehan kembali
(recovery), dan perbaikan (repair). Melalui prinsip-prinsip tersebut
ekstraksi material mentah dari alam jauh lebih efektif dan efisien.
Selain itu limbah juga dapat dikurangi.
Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.
Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2018