https://kepri.antaranews.com/berita/48655/lima-jam-memeluk-tubuh-istri-di-
lautan-lepas
Lima jam memeluk tubuh istri di
lautan lepas
Senin, 25 Juni 2018 17:35 WIB
Sejumlah awak MV Oceana 10 saat melakukan proses evakuasi para penumpang
KM Berkat Anugrah yang karam di perairan Lingga. (Antaranews Kepri/Istimewa)
Tidak lama kemudian kata Sarbini, kapal sudah tidak mampu lagi bertahan
di atas air laut dan secara perlahan tenggelam.
Batam (Antaranews Kepri) - Sarbini menatap kosong saat ditemui di
kediamannya di Bengkong Nusantara I Blok C Nomor 16, Kota Batam Provinsi
Kepulauan Riau. Kedua matanya masih terlihat basah dan memerah karena
belum bisa melupakan peristiwa naas yang merengut nyawa istrinya, Eri,
di perairan Pulun Kecamatan Daik Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.
Sarbini merupakan salah seorang korban selamat dalam peristiwa
kecelakaan laut KM Berkat Anugerah GT 20 yang bertolak dari Nipah
Panjang, Provinsi Jambi menuju pelabuhan Bagan Piayu Kecamatan Sei
Beduk, Kota Batam.
Pria 55 tahun itu menceritakan kapal yang bermuatan 10 ton kelapa bulat
dan lima ton pisang itu berangkat dari Nipah Panjang pada Minggu (24/6)
sekira pukul 21.00 WIB. Selama perjalanan tidak ada firasat apa pun yang
dirasakan Sarbini dan delapan penumpang lainnya.
Sarbini bahkan tidak begitu memperhatikan cuaca di luar karena
kondisinya sedang kurang enak badan.
"Saya saat itu sakit dan hanya bisa berbaring di kamar," kata Sarbini
kepada Antara, di Batam, Senin.
Ayah dua orang anak itu menambahkan, dirinya saat itu baru pertama kali
tidur di dalam kamar. Karena biasanya saat kondisi fisiknya yang fit, ia
selalu duduk bahkan tidur di atas tumpukan kelapa. Sementara kamar hanya
dihuni oleh penumpang perempuan.
Peristiwa pilu itu sama sekali tidak pernah diduga oleh Sarbini. Pria
asal Pati, Jawa Tengah itu mengaku sudah kerap menggunakan jasa kapal
kargo untuk menuju Jambi bersama sanak keluarganya.
"Saya ada keperluan keluarga di Jambi, saya berangkat bersama anak dan
istri," ucap Sarbini sembari terisak.
Sarbini menuturkan saat air masuk ke dalam kapal karena dihantam badai,
keadaan menjadi mencekam.
Para penumpang laki-laki bersama anak buah kapal (ABK) bekerjasama untuk
memperbaiki mesin penyedot air. Namun usaha mereka sia-sia. Air terus
masuk hingga memenuhi seluruh sudut kapal.
"Kejadiannya sekitar jam 07.30 WIB dan yang saya dengar mesin penyedot
air baik yang kecil dan besar macet," tutur Sarbini sembari menerawang
ke langit-langit ruang tamu rumahnya.
Tidak lama kemudian kata Sarbini, kapal sudah tidak mampu lagi bertahan
di atas air laut dan secara perlahan tenggelam.
.. Korban meninggal KM Berkat Anugrah yang tenggelam di perairan Lingga,
Minggu (24/6). (Antaranews Kepri/Nurjali)
*Bertahan di atas pecahan kapal*
Ketika kapal tenggelam, para penumpang dan ABK kata termasuk dirinya
panik dan mencoba menyelamatkan diri masing-masing dengan naik ke atas
bagian kapal yang terpecah karena dihantam badai.
Sarbini yang sudah berada di atasnya teringat dengan sang istri dan
langsung mencari Eri yang sempat tenggelam.
"Istri saya tidak bisa berenang dan sudah sempat saya bawa ke atas
breast (bagian depan kapal yang terpecah)," kata Sarbini.
Saat itu kata Sarbini, pendamping hidupnya itu masih bernapas dan bisa
menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
"Waktu di atas saya tanya dia masih menjawab dan saya terus peluk dia,"
kata Sarbini.
Tidak lama kemudian kata Sarbini, badai kembali datang sehingga mereka
kembali masuk ke dalam air. Saat kejadian itu lanjut Sarbini, dirinya
terus memeluk erat tubuh istrinya agar tidak terlepas. Bahkan ia tidak
lagi memikirkan kesehatannya.
"Didalam pikiran saya saat itu hanya terlintas bagaimana caranya untuk
menyelamatkan istri saya," kata Sarbini sembari tertunduk dan terisak.
Ketika badai kedua menghantam, Sarbini tidak lagi mendengar suara sang
istri saat dirinya melontarkan pertanyaan. Meski dengan tenaga yang
sudah mulai habis, Sarbini terus berusaha untuk terus memeluk tubuh
wanita yang dicintainya tersebut.
Salah seorang ABK yang melihat Sarbini kelelahan langsung membantunya
untuk naik ke atas pecahan kapal bersama tubuh pucat sang isteri.
"Lima jam kami terombang ambing di tengah laut dan selama itu juga saya
terus sekuat tenaga memeluk istri saya," kata Sarbini sambil berurai air
mata.
Sarbini mengatakan, dirinya bersama anak dan istrinya memilih menumpang
kapal kargo yang membawa kelapa dan pisang karena biayanya lebih murah
dibandingkan menggunakan kapal Pelni tujuan Jambi-Batam.
Namun hal itu kata Sarbini bukan menjadi alasan utama mereka memilih
menggunakan kapal kargo.
"Memang murah kami bayar Rp250 ribu, tapi ini lebih karena langsung
sampai dekat sini (Batam)," ujarnya.
*Bantuan datang*
Pada pukul 12.30 WIB MV Oceana 10 yang kebetulan melintas di lokasi
kejadian langsung memberikan pertolongan kepada para korban. Sarbini
yang saat itu sudah mengigil kedinginan terus memegang jasad sang istri
sembari menunggu giliran untuk di evakuasi ABK dan beberapa penumpang MV
Oceana termasuk Kasat Narkoba Polres Lingga, AKP Felix Mauk.
Dalam evaluasi 12 orang berhasil diselamatkan mereka yaitu Arif (58)
yang merupakan nakhoda kapal dan beralamat di Nipah Panjang Jambi, Adi
(28) beralamat di Nipah Panjang Jambi, Saril (55) yang beralamat di
Sumur Sabak Jambi dan Syaiful Rahman (15) beralamat di Nipah Panjang Jambi.
Kemudian Andi Hasbih (13) alamat Batuampar Kota Batam, Jumadi (21)
alamat Nipah Panjang, Jambi, Andi Rosmawati (38) alamat Batuampar Kota
Batam, Amat (5) alamat Batuampar Kota Batam, Sarbini (55) alamat
Bengkong Nusantara Kota Batam, Selamat Santoso (17) alamat Bengkong
Nusantara Kota Batam, Nude (70) dan Andre (30) asal Batam.
Sementara Eri (45) istri dari Sarbini tidak dapat diselamatkan dan
meninggal dunia dalam kejadian tersebut.
Selain MV Oceana 10, evakuasi para korban juga dilakukan KP2006
Satpolair Polres Lingga, KP1007 dari Ditpolair Polda Kepri dan dibantu
para nelayan dari Desa tanjung Kelit, Kecamatan Senayang, Kabupaten
Lingga.(Antara)
Pewarta : Messa Haris
Editor: Danna Tampi
COPYRIGHT © ANTARA 2018