https://tekno.tempo.co/read/1103279/kesamaan-dan-perbedaan-letusan-gunung-agung-1963-dan-
2018?TeknoUtama&campaign=TeknoUtama_Click_2
Kesamaan dan Perbedaan Letusan Gunung
Agung 1963 dan 2018
Reporter:
Anwar Siswadi (Kontributor)
Editor:
Erwin Prima
Selasa, 3 Juli 2018 17:39 WIB
0 komentar
<https://tekno.tempo.co/read/1103279/kesamaan-dan-perbedaan-letusan-gunung-agung-1963-dan-2018?TeknoUtama&campaign=TeknoUtama_Click_2#comments>
000
#
#
#
#
Api membakar hutan lereng Gunung Agung setelah terjadi lontaran batu
pijar dari kawah, yang terlihat dari Desa Culik, Karangasem, Bali,
Selasa, 3 Juli 2018. Lontaran lava pijar teramati keluar dari kawah dan
mencapai jarak 2 kilometer. Hutan di sekitar puncak kawah Gunung Agung
pun terbakar sehingga api menyala cukup besar di beberapa bagian. ANTARA
<https://statik.tempo.co/data/2018/07/03/id_716161/716161_720.jpg>
Api membakar hutan lereng Gunung Agung setelah terjadi lontaran batu
pijar dari kawah, yang terlihat dari Desa Culik, Karangasem, Bali,
Selasa, 3 Juli 2018. Lontaran lava pijar teramati keluar dari kawah dan
mencapai jarak 2 kilometer. Hutan di sekitar puncak kawah Gunung Agung
pun terbakar sehingga api menyala cukup besar di beberapa bagian. ANTARA
TEMPO.CO, Bandung - Letusan atau erupsi Gunung Agung
<https://tekno.tempo.co/read/1103129/dua-gempa-iringi-erupsi-gunung-agung-bali>
di Bali memiliki kesamaan dan perbedaan antara kejadian 1963 yang
dahsyat dan peristiwa pada 2018. Ahli dan peneliti gunung api dari
Institut Teknologi Bandung Mirzam Abdurrachman mengatakan kesamaan
letusan dulu dan sekarang diawali erupsi atau 'batuk-batuk' selama kurun
waktu sekitar setahun.
Baca: Dua Gempa Iringi Erupsi Gunung Agung Bali
<https://tekno.tempo.co/read/1103129/dua-gempa-iringi-erupsi-gunung-agung-bali>
"Tentu masyarakat Bali mulai khawatir karena durasi satu tahun ini
mengingatkan kembali pada kejadian (erupsi) 1963," kata Mirzam, Selasa,
3 Juli 2018.
Sebelum Gunung Agung mulai memperlihatkan aktivitasnya di akhir 2017,
letusan besar sebelumnya tercatat pada 1963 atau sekitar 54 tahun lalu.
Akankah kejadian 1963 berulang?
"Jawabannya bisa ya dan tidak, dengan probabilistik dan tingkat
keyakinan tertentu," kata Mirzam.
Letusan Gunung Agung sebelum 1963 tercatat pada 1843. Artinya gunung api
ini memerlukan waktu 120 tahun untuk menghimpun energi sehingga terjadi
letusan besar seperti pada 1963.
Adapun sejak letusan 1963 hingga sekarang, jedanya sekitar 54-55 tahun.
Jumlah itu kurang dari setengah waktu kejadian sebelumnya dengan jeda
120 tahun. "Secara statistik peluangnya untuk meletus besar (sekarang)
seperti 1963 kecil sekali," kata Mirzam.
Besarnya energi letusan Gunung Agung 1963 ditaksir setara dengan sekitar
10 kali energi letusan Gunung Merapi pada 2010.
Selain itu, Gunung Agung tercatat memberikan semacam tanda sebelum
letusan besar. Pendahuluannya berupa letusan efusif yang mengalirkan
lelehan lava dari kepundan gunung berketinggian puncak 3.000-an meter
dari permukaan laut (mdpl) itu.
Pertanda alam yang digabungkan dengan pendekatan ilmiah diharapkan bisa
untuk mengantisipasi dampak letusan tanpa menimbulkan kepanikan dan
korban jiwa.
Mengacu pada skala letusan gunung api (Volcanic Explosivity Index), kata
Mirzam, letusan Gunung Agung 1963 berada di skala 5 dari maksimal 8. Di
Indonesia hanya beberapa gunung yang tercatat memiliki VEI lebih dari 5,
yaitu Krakatau skala 6, Tambora level 7 dan letusan Gunung Toba yang
sempurna di level tertinggi. "Letusan Gunung Agung sekarang level
VEI-nya sekitar 2," kata dia.
Semakin tinggi skala nilai VEI suatu gunung api, frekuensi letusannya
tergolong semakin jarang dan berlaku sebaliknya. "Maka jika suatu gunung
api aktif banyak aktivitasnya per tahun itu bagus. Artinya kemungkinan
letusan besar akan terjadi semakin kecil," kata Mirzam.
Simak artikel lainnya tentang erupsi Gunung Agung
<https://www.tempo.co/tag/gunung-agung> Bali di kanal Tekno Tempo.co.