https://tirto.id/nichlany-soedardjo-kawan-sma-yang-memata-matai-omar-dani-cMAt
Nichlany Soedardjo: Kawan SMA yang
Memata-Matai Omar Dani
Nichlany Soedardjo, perwira intelijen Polisi Militer yang pernah
ditugaskan menguntit Omar Dani, kawannya semasa SMA. Flickr/zahra
nichlany
<https://tirto.id/nichlany-soedardjo-kawan-sma-yang-memata-matai-omar-dani-cMAt>
Nichlany Soedardjo, perwira intelijen Polisi Militer yang
pernah ditugaskan menguntit Omar Dani, kawannya semasa SMA.
Flickr/zahra nichlany
Oleh: Petrik Matanasi - 3 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
/Nichlany adalah kawan lama Omar Dani. Waktu Omar Dani kena masalah
karena dikaitkan dengan G30S, Nichlany berkali-kali bertemu dengannya./
tirto.id <https://tirto.id/> - Omar Dani sedang makan di restoran Cina
di sekitar Champ du Ellysse, Paris. Tiba-tiba muncullah kawan lamanya.
Kawan satu geng dari zaman SMA di Solo, waktu zaman Jepang. Kala mereka
masih ugal-ugalan. Kawan Omar yang satu ini jago main piano dan terampil
dalam /utak-atik /mesin otomotif. Ayah si kawan ini adalah walikota
Salatiga di zaman Jepang.
Waktu revolusi 1945, Omar Dani dan kawannya ini tak mau ketinggalan.
Mereka berdua ikut Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Salatiga. Namun
setelahnya, keduanya bersimpang jalan. Omar jadi staf tak resmi Markas
Besar Tentara (MBT) Yogyakarta, pernah jadi penyiar RRI, belakangan
menjadi laksamana madya Angkatan Udara (kini marsekal madya), dan
terakhir menjadi Menteri Panglima Angkatan Udara (Menpangau). Sementara
si kawan yang bernama Nichlany Soedardjo masuk Corps Polisi Militer (CPM).
Saat mereka berdua bertemu di Paris, Omar Dani sudah jadi Menpangau.
Sementara Nichlany masih letnan kolonel dan perwira intel di Direktorat
Polisi Militer.
Di restoran itu mereka bicara panjang lebar. Acara ngobrol lalu pindah
ke kamar hotel tempat Omar Dani menginap. Kepada Omar, Nichlany mengaku
diberi dana perjalanan dinas yang lumayan banyak, /unlimited travelers
cheque. /Dengan uang itu, Nichlany mengajaknya bersenang-senang di Paris.
Dalam /Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani
/(2001: 186) yang disusun Benedicta A. Surodjo dan J. M. V. Soeparno
disebutkan, tawaran itu "ditolak oleh Omar Dani, sehingga mereka cukup
berbincang-bincang di kamar hotel Omar Dani".
Dalam pertemuan itu, mereka sepakat untuk bertemu di Jerman Barat pada
23 Januari 1966. Namun, rencana itu tak terlaksana. Omar Dani sendiri
sudah berada di Phnom Penh, Kamboja. Kala itu, ia sudah kena masalah.
Keterlibatan oknum Angkatan Udara dan lokasi Lubang Buaya yang tak jauh
dari pangkalan Angkatan Udara dalam G30S membuatnya jadi pesakitan. Dia
Menpangau yang dianggap dekat dengan Sukarno, bahkan dituduh membantu
PKI dalam G30S. Dalam surat bertanggal 27 Januari 1966, Nichlany
menyarankan kepada Omar Dani agar tidak pulang ke Indonesia.
Baca juga: TNI AU: Diandalkan Sukarno, Dikucilkan Soeharto
<https://tirto.id/tni-au-diandalkan-sukarno-dikucilkan-soeharto-cBa6>
Omar Dani pun berkirim surat ke Nichlany pada 31 Januari 1966. Ia
menulis, “selama aku berada di Phnom Penh ini, aku telah menerima surat
resmi beserta pertanyaan-pertanyaan yang ditandatangani oleh Pak Nas
(Jenderal Abdul Haris Nasution). Surat ini telah kujawab dengan kusertai
dengan surat pribadi halal-bihalal kepada Pak Nas.”
Dalam surat itu pula, Omar Dani mengaku pada Nichlany bahwa dirinya
disarankan Sukendro (yang disebut sebagai Mas Kendro) agar tidak pulang
dulu ke Indonesia.
Keduanya kemudian bertemu kembali di Phnom Penh. Berkali-kali, Nichlany
menemui Omar Dani di ibu kota Kamboja itu, antara 8 hingga 12 Februari
1966. Di Phnom Penh, Nichlany mengaku kepada Dani jika kantongnya
menipis. Padahal beberapa minggu sebelumnya, kantongnya masih tebal.
“Omar Dani menduga hal itu hanya sekedar taktik Nichlany untuk
mengetahui apakah Omar Dani mendapat bantuan dari pihak tertentu,” tulis
buku /Pledoi Omar Dani/.
Omar pun menawari Nichlany untuk tinggal di rumah yang dikontraknya di
Phnom Penh atau mengongkosi hotel untuk kawannya itu. Nichlany memilih
tinggal di hotel. Di Kamboja, mereka berbincang soal G30S—yang menurut
Nichlany karena kesalahan PKI, tetapi menurut Omar itu belumlah terbukti.
Belakangan, Omar Dani tahu bahwa Nichlany berada di luar negeri karena
tugas dari Soeharto dan Nasution. Sejak Desember 1965, beberapa bulan
setelah kudeta gagal G30S, Nichlany dicomot dari Seskoad dan
diperintahkan menguntit Omar Dani ke luar negeri. Nichlany memang
menjalankan tugasnya sebagai perwira yang ikut perintah atasannya, tapi
ia juga memperlihatkan diri sebagai kawan yang baik bagi Omar Dani.
"Berharaplah yang terburuk"
Setelah Omar Dani pulang ke Indonesia, pada 20 April 1966, dia kemudian
diadili Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub) di Gedung Bappenas,
Jakarta. Selama ditahan di Cibogo, Bogor, Nichlany pernah menjenguknya.
Ketika Omar Dani hendak dipindahkan ke Nirbaya, sebelah selatan Asrama
Haji Pondok Gede, Jakarta, pada 23 Mei 1966, Nichlany juga yang
menjemputnya dari Cibogo. Omar Dani, bersama Komodor Udara Soewondo dan
Nichlany, naik Mercy milik Soewondo. Dengan Nichlany yang doyan otomotif
sebagai supirnya.
Setelah melewati Cibinong, Nichlany yang sedang menyetir ditanyai Omar
Dani. “Nich, nanti kira-kira vonis apa ya?”
Nichlany pun menjawab dalam bahasa Belanda, “Verwacth maar het
ergste”—berharaplah yang terburuk.
“Hukuman mati ya?” tanya Omar Dani memastikan.
Dan Nichlany pun bilang “ya.”
Baca juga: Arsip Rahasia AS: Ide Membunuh Marsekal Kesayangan Sukarno
<https://tirto.id/arsip-rahasia-as-ide-membunuh-marsekal-kesayangan-sukarno-cyGU>
Tak heran jika pada 15 Desember 1966, hari penentuan nasib Omar Dani
oleh Mahmillub, sang marsekal tidak kaget soal vonis yang akan
dijatuhkan padanya. Mati pun dia sudah pasrah. Meski belakangan eksekusi
mati untuk Omar Dani tak pernah terlaksana sama sekali. Ia malah bebas
pada 1995 dan baru mengembuskan napas terakhir pada 2009. Sementara
Soeharto sudah mendahului tahun sebelumnya.
Dalam telegram diplomatik Duta Besar Amerika untuk Indonesia Marshall
Green kepada Sekretaris Negara Amerika di Washington tanggal 18 Oktober
1965, yang terangkum dalam arsip Jakarta Embassy Files [RG 84, Entry P
339, Jakarta Embassy Files, Box 38 (Dummy Box), Folder 3], disebutkan
bahwa ada usul dari Raden Mas Sutarto, asisten Menteri Penerangan Ruslan
Abdulgani: “Omar Dhani harus berhenti atau kita bunuh dia.”
Tak hanya Dani, empat perwira tinggi AURI lainnya—Sri Muljono
Herlambang, Suryadi Suryadarma, Abdoerachmat, dan satu perwira yang
diketahui namanya—harus dicabut juga nyawanya. Kemungkinan nama yang
tidak diketahui adalah Ignatius Dewanto, yang kala itu menjabat Direktur
Intelijen AURI.
Infografik Nichlany soedardjo
Seorang Intel Sejati
Setelah 1966, Nichlany sudah jadi Asisten 1 (Intelijen) dari Direktur
Polisi Militer. Pangkatnya naik lagi jadi kolonel. Menurut catatan
Harsya Bachtiar dalam /Siapa Dia Perwira Tinggi TNI-AD /(1988: 316-317),
antara 1968 hingga 1972, Niclany adalah Wakil Direktur Polisi Militer.
Selain itu, dia juga merangkap Deputi 1 (Intelijen) dari Kepala Badan
Koordinasi Intelejen Negara (BAKIN) sejak 1970 hingga 1972. Di Bakin,
dia kemudian menjadi Deputi II (Operasi).
Setelah 1973, Nichlany menjadi atase di Washington DC, Amerika Serikat.
Menurut catatan David Jenkins dalam /Soeharto dan Barisan Jenderal Orba:
Rezim Militer Indonesia 1975-1983 /(2010: 44), dia dikirim ke Amerika
Serikat setelah 48 jam berdebat dengan Mayor Jenderal Ali Moertopo.
Lebih dari enam tahun Nichlany bertugas di sana.
Baca juga: Jalan Karier Ali Moertopo: Spymaster Daripada Soeharto
<https://tirto.id/jalan-karier-ali-moertopo-spymaster-daripada-soeharto-cJFM>
Jabatan sipil penting yang pernah diembannya adalah Direktur Jenderal
Imigrasi, dari 1980 hingga 1982. Dia mundur setelah dua tahun dua bulan
jadi dirjen. Dia kemudian buka bengkel mobil bernama Nickbers. "Cuma
bidang montir ini yang saya kuasai betul," ujar Nichlany seperti dikutip
dalam /Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia /(1986).
Belakangan dia juga menjadi Direktur Eksekutif Perhimpunan Persahabatan
Indonesia Amerika (PPIA)—yang kemudian menjadi Lembaga Indonesia Amerika
(LIA). Pangkat terakhirnya di militer adalah mayor jenderal.
Nichlany dikenal sebagai jenderal yang menyangkal bahwa Amerika Serikat
memberikan data-data dalam penumpasan PKI 1966. "Mereka sama sekali tak
melakukan apa-apa. Mereka sama sekali tak menyediakan data-data apa pun.
Sebaliknya, orang-orang Amerika sungguh-sungguh kagum bahwa Indonesia
mampu membasmi partai komunis terbesar di Asia,” kata Nichlany seperti
dikutip M.R. Siregar dalam /Menentukan nasib sendiri versus imperialisme
/(2000: 176).
Sepanjang kariernya di Polisi Militer, Nichlany pernah menjadi komandan
polisi militer di Palembang dan Jakarta pada 1950-an. Di masa Revolusi,
pada 1948, dia adalah komandan polisi militer di Karanganyar, Jawa
Tengah. Pada tahun itu, Karanganyar menjadi tempat eksekusi mati Amir
Sjarifuddin, tokoh Peristiwa Madiun dan mantan Perdana Menteri.
Baca juga artikel terkait INTELIJEN
<https://tirto.id/q/intelijen-dTB?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
<https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Humaniora)
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Nichlany adalah jenderal yang menyangkal bahwa AS memberikan data-data
dalam penumpasan PKI 1966.