Siapaaa yg buta-tuli??? Entah nenek yg satu ini sudah baca belum tulisan dibawah ini, tahu TIDAK apa yang dipuji Presiden Bank Dunia??? Kan hanya usaha Indonesia, khususnya JK dan menteri-menteri yg dikerahkan untuk mengatasi STUNTING, ... Sudah BERHASIL, atau berapa % diatasi stunting yg ada? TIDAK disebut, kok! Apalagi menyatakan sudah TIDAK ADA lagi kekerdilan anak-anak di Indonesia, ...

Sedang adanya 37% atau 9 juta anak-anak stunting itukan kenyataan yang sudah terjadi dari pemerintah sebelumnya, dan bukan terjadi di pemerintah Jokowi sekarang ini!



Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 6/7/2018 20:02 寫道:
Bank Dunia memang masih beruntung karena masih menemukan cukup banyak orang yang dibikin "buta tuli" oleh kehidupannya sendiri yang sudah mapan....  Hanya orang "buta tuli" yang bisa merasa bangga menerima pujian dari lembaga imperialis!!


On Friday, July 6, 2018 5:58 AM, "[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote:



37% anak Indonesia stunting kok hebat?
Yg dipuji itu cuman rapatnya.

Bpk presiden tempo hari bagi2 biskuit apa ada manfaatnya? berapa % keberhasilan?


---In [email protected], <inengahk@...> wrote :

Luar biasanya, bagaimana dengan pemerintahan sebelumnya???
Kok dibiarkan saja, para politikus mestinya jangan hanya bisa protes dan menyalahkan melulu. Terlalu banyak masalah bangsa yang sudah diperbaiki oleh pemerintahan saat ini
*From:* [email protected] [mailto:[email protected]]
*Sent:* Friday, July 06, 2018 9:32 AM
*To:* GELORA_In <[email protected]>
*Subject:* [**EXTERNAL**] [GELORA45] Presiden Bank Dunia Puji Indonesia dalam Mengatasi Stunting


  Presiden Bank Dunia Puji Indonesia dalam Mengatasi Stunting

Reporter:


        Antara

Editor:


        Elik Susanto

Jumat, 6 Juli 2018 08:20 WIB

Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim (kanan) ketika berkunjung ke Desa Dakung, Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kamis, 5 Juli 2018. Kim melihat bagaimana Pemerintah Indonesia mengatasi masalah stunting akibat kurangnya gizi. Foto: Istimewa <https://statik..tempo.co/data/2018/07/06/id_716971/716971_720.jpg> /Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim (kanan) ketika berkunjung ke Desa Dakung, Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kamis, 5 Juli 2018. Kim melihat bagaimana Pemerintah Indonesia mengatasi masalah stunting akibat kurangnya gizi. Foto: Istimewa/ *TEMPO.CO*, *Lombok Tengah* - Presiden Bank Dunia <https://www.tempo.co/tag/bank-dunia> Jim Yong Kim mengagumi upaya pemerintah Indonesia dalam menangani kekerdilan pada anak atau stunting. Bentuk kekaguman Kim, masalah ini ditangani secara serius melalui kerja sama Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan para menteri kabinetnya. "Saya hadir dalam rapat tentang kekerdilan anak dengan Wapres Kalla. Dari 189 negara anggota yang telah saya datangi, belum pernah saya menemukan kerja sama begitu luar biasa dengan Wapres Kalla dan banyak menteri untuk mengatasi kekerdilan anak ini," kata Presiden Kim dalam acara Rembug Desa tentang Pencegahan Anak Kerdil di Desa Dakung, Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kamis, 5 Juli 2018. Baca: Bank Dunia Beri Pinjaman Indonesia US$ 400 Juta untuk Atasi Stunting <https://bisnis.tempo.co/read/1103681/bank-dunia-beri-pinjaman-ri-usd-400-juta-untuk-atasi-stunting> Kim menilai kerja sama dalam mengatasi stunting pada anak sudah tepat, yakni dengan mengajak seluruh menteri yang membidangi persoalan itu. "Cara Anda (Indonesia) mengatasi masalah ini sangat tepat. Kekerdilan ini bukan masalah kesehatan, sanitasi, atau transfer dana semata, tapi ini masalah semua. Hanya dengan bekerja bersama Anda akan menemukan keberhasilan dan menjamin masa depan bangsa Indonesia," ujar Kim. Kim menegaskan, Bank Dunia siap membantu Indonesia untuk mengatasi persoalan kekerdilan anak tersebut, dengan harapan generasi masa depan Indonesia nantinya dapat berkualitas dan memajukan perekonomian dunia. Sebelumnya, Rabu, 4 Juli 2018, Wapres Jusuf Kalla memimpin rapat terbatas dengan sejumlah menteri dan perwakilan Bank Dunia untuk mencari solusi mengatasi masalah kekerdilan anak di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, saat ini Indonesia dalam daftar negara dengan prevalensi anak kerdil tinggi bersama negara-negara di Afrika dan Asia Selatan. Sekitar 37 persen atau 9 juta anak balita Indonesia mengalami kekerdilan. Wapres Jusuf Kalla berharap masyarakat ikut berinisiatif mengatasi kekerdilan pada anak di daerah masing-masing. "Masyarakat sendiri harus ikut serta. Kalau masyarakat tidak bergerak, walaupun ada uang banyak, sulit mengatasi masalah ini," katanya. Di lokasi rembug desa, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo mengatakan, program kementeriannya akan memaksimalkan dana desa <https://nasional.tempo.co/read/1083693/kementerian-desa-akan-libatkan-fatayat-nu-kelola-dana-desa> untuk menjadi bagian dari pencegahan stunting. "Kami serius melaksanakan kegiatan ini dengan berkoordinasi dengan kementerian lainnya, termasuk bersinergi dengan pemerintah daerah," kata Eko. Rembug desa yang disaksikan Presiden Bank Dunia <https://bisnis.tempo.co/read/1102294/biaya-logistik-ri-tinggi-bank-dunia-kucurkan-utang-usd-300-juta> juga dihadiri Wapres Jusuf Kalla, sejumlah menteri dan  Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi. Menteri Eko berharap program dana desa memiliki dampak positif bagi kemajuan desa dan kesehatan masyarakat. Apalagi penyerapan anggaran dana desa naik dari 82 persen pada tahun pertama, menjadi lebih dadi 98 persen. Eko meminta masyarakat tak segan melaporkan kepada Satgas Dana Desa jika melihat adanya kendala dan masalah dalam pemanfaatan dana desa. "Kalau ada kejanggalan lapor ke satgas".
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
        
不含病毒。www.avg.com <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>







---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke