Menurut saya kok hedonisme justru lebih bagus daripada fundamentalisme seperti 
itu.
Hedonisme akan membuat seseorang berusaha keras untuk maju untuk bisa tetap 
ber-senang2, sedang fundamentalisme hanya membawa ke intoleransi sangat 
eksklusif teman saleh solehah saja sementara yg lain dianggap kafir nan 
murtadin yg dipandang rendah.

---In [email protected], <noroyono1963@...> wrote :

"Belajar Islam, wajib bin kudu sebagai bekal akhiratmu. Dengan itu, tujuan 
sejati dari hidup kita akan tercapai dan terlaksana. Gimana caranya? 
Perbanyaklah teman sholih sholihah, aktif ngaji Islam, lalu amalkan dan 
sebarkan agar tertanam dalam dada iman yang setegar karang. Lakukan sekarang! 
Jangan ditunda sebelum virus hedonis menghabisi iman lalu abislah kita. [RN]" 
Beberapa kalimat alinea terakhir tulisan  Chusnatul Jannah di atas telah 
menggelitik benak saya. Remaja tetangga saya, menurut pengakuannya, adalah 
pembaca rajin Alkitab, dan sejauh yg saya ketahui dia juga termasuk yg rajin ke 
Gereja pada hari Minnggu. Remaja tetangga saya yg sebelahnya lagi tekun 
mendalami Jalan Utama Berunsur Delapan (ajaran utama agama Buddha), dan kalau 
tidak salah, dia sering bersama keluarganya ke Vihara untuk beribadah. 
Pertanyaan saya: Dapatkah aktivitas kedua remaja ini berfungsi sebagai "vaccin" 
penangkis "virus hedonis"? Jika saya harus menjawab pertanyaan ini dengan 
jujur, jawaban saya adalah: Saya tidak mengesampingkan adanya kemungkinan 
seperti itu. Namun di sisi lain, menurut hemat saya, baik "aktif ngaji Islam", 
rajin baca Alkitab maupun tekun baca Jalan Utama Berunsur Delapan bukanlah 
jaminan 100% bahwa seorang remaja kebal terhadap virus hedonisme. Faktor agama 
bukanlah satu satunya faktor pembentuk mentalitas seorang remaja. Masih 
terdapat banyak faktor yg lain. Demikianlah sekadar pendapat saya -- yg 
notabene bukan seorang pakar Psikologi – terkait hedonisme. Siapa tahu 
bermanfaat bagi yg kebetulan membacanya. Noroyono12/07/2018













Op donderdag 12 juli 11:19 2018 schreef "Sunny ambon ilmesengero@... 
[GELORA45]" <[email protected]> het volgende:


 http://www.panjimas.com/remaja/2018/04/12/virus-hedonis-mengikis-abis/
Virus Hedonis Mengikis Abis
12 Apr 2018

(Panjimas.com) – Siapa diantara sobat remaja yang demen sama kesenangan dan 
kebahagiaan? Cung! Pasti semua pengen dong jadi orang yang senang dan bahagia? 
Di dunia ini mana ada orang lebih suka sedih dan susah? Nggak ada kan? Yups, 
setiap manusia pasti menginginkan hidup bahagia, hati selalu gembira, rasa 
senang senantiasa. Tak terkecuali para remaja seperti kita-kita, ya kan? 
Bahagia itu… hidup enak, uang saku dapat bayak, rumah mewah, handphone  seri 
teranyar, pintar di sekolah, cantik en ganteng pula. Adakah model remaja yang 
super komplit gitu? Mungkin satu banding seribu kali ya…Gaya hidup jaman 
sekarang menuntut kita lebih kekinian ya gaes. Apa aja dibikin kekinian, mulai 
jajanan, pakaian, kebiasaaan, tontonan, bahkan perkataan. Seringkali kita 
disuguhi berbagai hal yang menyenangkan hingga melenakan. Karena remaja 
memiliki daya pikat yang besar, segalahal baru menyenangkan patut dijajal. 
Kecenderungan untuk bertingkah hedonis sangat rentan di kalangan remaja. Kita 
cenderung menyukai hal baru atau sesuatu yang lagi viral membuat kita jadi 
latah bin keranjingan meniru dengan spontan. Misal, viralnya film ‘Dilan 1990’ 
membuat kita berburu tiket buat nonton atau download gratisan. Gaya pacaran 
Dilan dan Milea dengan kegombalannya pun menjadi teladan baru di kalangan 
remaja. Atau korean wave, pun kita juga terbawa arus ini. Apa saja yang berbau 
korea digandrungi, mulai dramanya, k-popnya, makanananya, model 
rambutnya,fashionnya, bahkan dialeknya. Kalau kita pernah ngalamin seperti 
diatas, itu artinya kita sudah terjangkiti virus hedonis. Apa itu 
hedonis?Hedonisme  berasal dari kata “hedone” (Yunani) yang berarti kesenangan, 
hedonisme adalah pandangan moral bahwa hal yang baik hanya kesenangan.Menurut 
Kamus Besar Bahasa Indonesia hedonisme adalah pandangan yang menganggap 
kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Dari 
maknanya saja kita bisa tahu tujuan utama virus hedonis adalah kesenangan yang 
sejatinya semu. Mengapa semu? Karena tujuan hidup kita bukan kesenangan dan 
kenikmatan yang sifatnya dunia, tapi ibadah. Ibadah kepada Allah inilah yang 
harus menjadi tujuan utama sobat semua. Penting bagi kita untuk tentukan tujuan 
hidup kita. Karena ia menjadi cikal bakal masa depan kita.Gaya hidup hedonis 
sudah menjadi virus berbahaya, Sob. Hedonisme telah mengikis abis jati diri 
kita sebagai hamba. Kita jadi remaja yang kehilangan arah, follow sana sini 
tanpa menyaring benar salahnya. Koreanisasi dan westernisasi menjadi lifestyle 
kita. Halal – haram tak menjadi ukuran perbuatan. Akibatnya, makin jauh kita 
dari aturan agama. Hedonis melumat abis kesenangan kita dalam beribadah. Ibadah 
jadi ogah, maksiat malah betah. Naudzubillah… Ingat kan? Syaithan adalah musuh 
nyata buat kita. Syaitan senantiasa membungkus kemaksiatan dengan hal 
menyenangkan. Hawa nafsu jika tak dikendalikan oleh iman bikin kita gelap mata, 
sob. Rasulullah sudah ingatkan kita dalam haditsnya, “Tidak beriman salah 
seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa“. 
Memanjakan hawa nafsu agar dipenuhi adalah sikap hedonis. Kendalikan nafsu kita 
dengan perbanyak ibadah.Sebagai seorang remaja muslim, ibadah wajib menjadi 
tujuan utama. Karena disanalah tujuan penciptaan manusia, ibadah kepadaNya. 
Dengan segala kenikmatan yang Allah berikan, apa balasan terbaik kita kepada 
Allah SWT? Ya ibadah lah. So, jadikan amal perbuatan kita bernilai ibadah. 
Contohnya, sekolah niatkan untuk cari ilmu. Sholat, jadikan amalan utamamu. 
Maksiat, tinggalkan karena Allah yang menyuruhmu. Belajar Islam, wajib bin kudu 
sebagai bekal akhiratmu. Dengan itu, tujuan sejati dari hidup kita akan 
tercapai dan terlaksana. Gimana caranya? Perbanyaklah teman sholih sholihah, 
aktif ngaji Islam, lalu amalkan dan sebarkan agar tertanam dalam dada iman yang 
setegar karang. Lakukan sekarang! Jangan ditunda sebelum virus hedonis 
menghabisi iman lalu abislah kita. [RN] Penulis, Chusnatul JannahPembina Kajian 
Islam Remaja


Kirim email ke