https://athepsf.wordpress.com/2008/11/23/prof-tjia-may-on/
athep <https://athepsf.wordpress.com/author/athep/> 4:59 pm *on* November
23, 2008 Reply
<https://athepsf.wordpress.com/2008/11/23/prof-tjia-may-on/#respond>
Prof Tjia May On

Nama yang Mendunia

Begitu mendapat doktor, jadi selebritis atau birokrat. Ini fenomena khas
golongan terpelajar Indonesia dalam ilmu sosial, ekonomi, sains, maupun
teknologi sampai sekarang. Kalau ada daftar kekecualian, Tjia May On pasti
masuk dalam barisan pendek itu.

Dalam 33 tahun penelitiannya, individual maupun dalam tim, guru besar
Fisika ITB kelahiran Probolinggo 25 Desember 1934 ini telah menerbitkan dua
buku teks dan 190 risalah. Sebagian dipublikasikan di jurnal internasional
Physical Review, Nuclear Physics, Physica C, International Journal of
Quantum Chemistry, Review of Laser Engineering, dan Journal of Non-linear
Optical Physics.

Menyelesaikan sarjana fisika tahun 1962 dari ITB. Setahun kemudian memasuki
studi fisika partikel di Northwestern University, AS hingga PhD tahun 1969
dengan tesis Saturation of A Chiral Charge-Current Commutator. Tahun 1966,
risetnya bersama fisikawan CH Albright dan LS Liu masuk Physical Review
Letters dengan judul Quark Model Approach in the Semileptonic Reaction.

Studi partikel kuantum dan kosmologi relativistik, dua bidang yang mengubah
pandangan dunia secara radikal-revolusioner awal abad XX tentang alam
semesta dan asal-usulnya, baru dimasuki sarjana fisika Indonesia awal
1960an. Sepuluh tahun kemudian tercatat hanya lima nama yang punya otoritas
bicara tentang kuantum dan relativitas: Ahmad Baiquni, Muhammad Barmawi,
Tjia May On, Pantur Silaban, dan Jorga Ibrahim. Mereka angkatan pertama
yang jumlah penerusnya relatif sedikit dibanding bidang fisika terapan.

Sempat ikut riset di International Center of Theoretical Physics (ICTP),
Trieste, Italia, yang didirikan fisikawan Nobel asal Pakistan, Abdus Salam,
Tjia akhirnya meninggalkan fisika partikel dan memasuki riset polimer,
optik nonlinier, superkonduktor. Dalam dua bidang terakhir ini namanya
menginternasional.

Telah membimbing puluhan mahasiswa sarjana, magister, dan doktor, Ketua
Program Fisika Material Organik Terkonjugasi dan Superkonduktor ITB ini
kini riset kerja sama dengan Belanda, mengajar di Fisika ITB dan program
Optoelektronika UI, selain membimbing mahasiswa doktor dengan cara seorang
guru sekaligus kawan. “Ia seorang pembimbing yang aktif terlibat dalam
riset mahasiswanya,” kata seorang mahasiswanya.

Mengapa Anda beralih dari fisika partikel?
Sebenarnya bukan hanya saya. Di Indonesia fisikawan partikel zaman itu cuma
tiga: Baiquni, Barmawi, dan saya. Baiquni (almarhum-Red) meninggalkan
partikel karena jadi pejabat, di samping sebagai ketua jurusan fisika UGM.
Barmawi dan saya kurang lebih senasib. Dia sempat beberapa kali ke Trieste
mengerjakan riset fisika partikel. Karena datang sedikit terlambat, keburu
Ford Foundation menarik sumbangannya, saya hanya sempat sekali ke Trieste
tahun 1974. Sampai 78 saya sempat membimbing dua mahasiswa dalam partikel.

Karena putus asa?
Kondisinya tidak memungkinkan. Untuk mengerjakan fisika partikel, kita jauh
sekali dari fasilitas eksperimental. Jurnal nggak ada. Kontak dengan luar
negeri hanya sejauh kerja sama dengan ICTP dan itu sudah berhenti. Alasan
pertama, topik itu sangat menuntut you have to be unusual. Kedua, pada saya
mulai tumbuh kesadaran sosial: apa yang bisa saya pertanggungjawabkan
dengan aktivitas itu. Apa benar bila saya arahkan mahasiswa ke sana sudah
tepat untuk Indonesia?
Saya mulai bergeser bersama Barmawi. Kami sempat mencoba kerja sama dengan
Belanda dalam resonansi magnetik nuklir, yang penting karena negara kita
kaya minyak. Minyak atau gas bumi adalah bahan pokok untuk meng-hasilkan
bahan organik yang sangat penting, termasuk polimer. Saya masuk ke polimer
karena itu pula. Kami mencoba menjual ide ke Pertamina, ke mana-mana, tapi
gagal. Jadi, saya pindah karena mulai menyadari pendidikan di sini: fisika
material mungkin lebih cocok, lebih penting di negara kita, dan punya pasar
untuk melanjutkan studi maupun untuk kerja.

Misalkan faktor eksperimen dikurangi. Dengan langganan jurnal dan jaringan
luar negeri, fisika partikel teoretik bisa lebih dikembangkan di sini?
Tentu. Ini sudah terbukti. Terry Mart di UI dan masih muda punya kebebasan
yang jauh lebih besar berkunjung ke luar negeri mengadakan kerja sama. You
can do phy-sics all by yourself. Kontak, diskusi, dan komunikasi sangat
penting. Sekarang kenyataannya dia bisa bertahan. Di ITB ada beberapa orang
dalam kelompok fisika teori.

Tapi, Anda dulu memilih fisika partikel?
Saya malu cerita itu sebab anak muda mana sih, yang enggak tergiur oleh
sesuatu yang menantang secara intelektual, tapi juga ada unsur glamornya.

Glamor?
Pertama sebelum ke Amerika, saya sudah merasa the real physics must be
fundamental physics. Nah, ini naif, harus saya akui. Begitu di Northwestern
terjadi peristiwa menggemparkan. Lambda minus ditemukan. Gempar itu!
Partikel itu sebelumnya diprediksi Murray Gell-Mann sampai pada massa,
spin, dan isospinnya. Suasana begitu merangsang sempat menimpa saya.
Sebagai anak muda, saya pikir, wah inilah bidangnya. Ini yang saya maksud
“ada unsur glamornya”. Anak muda boleh glamor. Sudah tua jangan lagi
glamor-glamoran.
Lagi pula di kalangan fisika, ukuran bagi orang yang punya kemampuan
intelektual adalah masuk fisika partikel, kosmologi, atau fisika teori. Di
Northwestern saya dapat mekanika kuantum dan relativitas, ilmu yang
kedengarannya canggih sekali.

Memang canggih kan?
Oh, tentu. Cuma, bukan itu tok yang canggih. Dulu saya bilang harus ke sana
supaya betul-betul mengenal fisika. But, that’s not true. Itu bidangnya
lain saja. Dalam fisika partikel, Anda terlibat pencarian ilmu pengetahuan,
fenomena baru yang sifatnya fundamental.

Seperti?
Gaya yang mengikat partikel pembentuk materi sampai sekarang masih
kontroversial. Ada enggak jenis gaya kelima? Pokoknya interaksi, gaya, dan
struktur yang amat fundamental. Proton sampai pada tingkat fisika atom
dianggap partikel. Di tingkat fisika energi tinggi, proton still full of
structures, features. Tentu itu sangat exciting, sangat penting, dan sangat
menantang. Tapi, tantangan intelektual tak perlu harus yang begitu. Masih
banyak problem penting yang secara intelektual menantang.

Contohnya?
Penemuan superkonduktor merombak paradigma pemikiran orang secara mendasar
sekali. Teori Fermi atau perluasan Landau, misalnya, dulu dianggap sebagai
teori struktur elektronik dari bahan-bahan. Setelah penemuan
superkonduktor, orang lebih lari kepada teori strongly correlated system.
Jadi elektron itu, pada gas bebas Fermi, kalau kita masukin sedikit
interaksi, jadilah dia cairan Fermi. Itu yang diusulkan Landau. Yang itu
masih bisa ditangani dan banyak mempertahankan ciri penting gas Fermi.
Tapi, untuk bahan superkonduktor, enggak bisa lagi. Kita harus mengubah
paradigma. Jangan lupa, teori superkonduktivitas superkonduktor telah
meng-hasilkan Hadiah Nobel.

Bagaimana Anda melihat bidang lain?
Dalam kebudayaan Cina ada ungkapan bahwa dalam tiap jenis kegiatan, ada
yang namanya chong yua: juara. Dalam masak-memasak ada orang hebat. Dia
juga jenius karena kerjaannya bukan cuma masak, tapi menciptakan masakan
baru. Itu hasil dari ramuan. Ada kreativitas. Pelukis menggabungkan
bermacam kesan. Dia ramu, dia proses, dia cerna, kemudian keluar image
baru. Dalam semua bidang, orang hebat mesti bekerja begitu. Otomatis itu.
Tantangan intelektual harus keluar sebagai keinginan menciptakan sesuatu
yang baru. Menciptakan yang baru berawal dari yang lama. You have to
process. Kebetulan saja orang yang dianggap begawan fisika itu Einstein dan
kosmolog Hawking sekarang digembar-gemborkan.

Tapi, mereka memang hebat dibandingkan dengan fisikawan lain?
Bukan! Justru dalam fisika fundamental, tingkat kerumitan kadang kurang.
Fisika dikenal sebagai ilmu paling universal, mendasar, menangani peristiwa
yang terjadi dalam segala macam sistem. Gravitasi di mana pun ada. Tapi
dibandingkan dengan kimia, kimia lebih banyak kerumitan. Biologi malah
lebih rumit. Di sana lebih susah mencari esensi itu. Sejarah juga begitu.
Begitu banyak peristiwa yang terjadi, bagaimana dia bisa mencari benang
merahnya?

Sejak kecil sudah tertarik pada fisika?
Dulu saya justru senang sastra karena sangat tergoda oleh keindahan
narasinya. Saya bisa masuk ke dalam cerita sambil marah, nangis. Enggak
karuan saya itu.

Apanya yang berkesan?
Tentang manusia, hubungan antarmanusia, kendala interaksi manusia dengan
society. Society maksud saya terutama budaya. Saya banyak digembleng sastra
tentang hubungan manusia.

Lalu beralih minat ke fisika?
Waktu SMA saya sempat baca buku terjemahan mengenai fisika. Saya enggak
ingat judulnya. Bukunya tipis. Saya enggak tahu dari mana ayah saya (di
Malang) mendapatnya. Termasuk buku kuantum yang populer. Lalu, saya sempat
membaca karangan (Friedrich) Engels. Saya enggak tahu kok bisa beredar,
tapi waktu itu PKI memang masih anu ya. Engels menjelaskan bagaimana mereka
mengembangkan pengertian tentang perbedaan momentum dan energi kinetik.

Engels yang bicara?
Engels dan beberapa tokoh sezamannya. Kita sekarang mudah menyebutkan
persamaan energi kinetik dan momentum. Dulu itu polemik besar. Kenapa dari
momentum ke energi kinetik ada pengalian kecepatan, lalu muncul faktor
setengah. Sangat luar biasa dan mendalam analisisnya. Even things like that
could be very chal-lenging. Kuantum yang saya baca waktu itu tentu tidak
saya pahami. Wong SMA kok, tapi it was so intriguing, seolah-olah saya
merasa, oh, untuk tahu misteri alam memang harus mengerti beginian. Ini
yang menyebabkan saya memilih fisika.

Sejak kecil rupanya sudah suka refleksi?
Sebut saja ngelamun. Waktu di SD guru saya selalu bilang, “Lihat !”

Anda menikmatinya?
Oh, ya. Dalam kerja atau belajar tidak semua sekaligus bisa jelas. Selalu
ada masalah yang enggak bisa langsung saya pahami. Terpaksa saya harus
lewati dulu untuk belajar hal lain. Tapi, utang-utang ini memang suka saya
simpan. Kalau naik kereta api, baca satu jam, mata saya sudah sepet, saya
tutup bacaan. Saya merasa mendapat kesempatan melamun, mulai cari apa dulu
yang belum jelas dan kenapa saya enggak ngerti. Dalam proses itu, cukup
sering saya menemukan hubungan yang saya mau cari yang tadinya enggak jelas..

Sebagian besar riset Anda dimuat di jurnal internasional, bagaimana Anda
melihat penelitian di Indonesia?
Saya ingin membuat perbandingan. Di bidang seni budaya, kita punya tradisi
kuat. Itu dibuktikan dengan munculnya seniman berukuran internasional.
Sekarang ke sains dan teknologi. Mana tokohnya itu? Orang enggak usah jadi
tokoh pun bisa naik.

Tokoh di bidang ilmu sebenarnya lebih mudah diperiksa?
Kita enggak mau subscribed. Soalnya di situ. We don’t want to sub-scribe.
Ada beberapa nama, tapi orangnya kebanyakan diam-diam. Diam kerja. Cuma
jumlahnya kecil. Buka yahoo! Tik nama Terry Mart. Akan keluar publikasinya.
Tik nama (seorang mantan menteri yang doktor-Red). Enggak ketemu sebab
enggak ada publikasinya.

Bagaimana kisah riset unggulan terpadu kita?
Ada cerita lucu. Di dunia pene-litian, di negara mana pun itu, orang
berhasil makin didukung. Di sini: kamu tahun lalu sudah dapat, sekarang
jalan sendiri. Uang yang sekarang untuk orang lain saja. Saya pernah bilang
di Kantor Ristek, paradigma pemerataan harus diganti dengan paradigma
selektivitas karena tak satu pun kegiatan manusia yang perkembangannya
dihasilkan oleh suatu kebijakan pemerataan.
Di sains jelas sekali itu. Copernicus, Keppler, Galileo, dan Newton adalah
ujung tombak raksasa, pelopor yang menerobos stagnansi ilmu pengetahuan.
Kepeloporan itu penting. Sekarang semua negara maju pasti punya pusat
penelitian raksasa. Itu konglomerat-nya. Kita harus mencari pola di mana
sumber daya bisa dioptimasi supaya menghasilkan efek paling besar.

Di Northwestern sempat ikut kegiatan lain?
Saya bisa mengikuti panel discussion sampai pukul tiga dan empat pagi. Isu
penting yang bukan fisika sekalipun, saya ikuti.

Tentang apa?
Waktu itu soal Vietnam, kadang tentang sastra. Pokoknya saya gampang digoda
hal-hal yang mengandung unsur intelektual. Kalau mengemukakan pandangan,
tokoh-tokoh itu sering kali memperlihatkan sudut pandang me-narik. Human
enterprise gitu, ter-masuk musik yang Anda lebih ngerti dari saya.

Musik macam apa?
Yang ringan dari Bach, Haydn, Mozart, atau Beethoven. Tapi, Liszt bagi saya
sudah berat. Kemampuan musikal saya tidak terlalu tinggi. Klasik pun yang
saya dapat ikuti melodinya. Sekarang musik yang disebut atonal sudah
merepotkan saya. Itu eksperimen suara saja, saya pikir, mereka hanya
mencoba menciptakan suara baru. Tidak perlu ada melodi. I still want to
hear some melody in a music to guide me into take atmosphere.

Di fisika bisa nggak ada yang seperti itu?
Hmm, saya kira mungkin enggak bisa sebab harus ada sistematikanya.

Chaos theory?
Itu juga ada sistematikanya.

Fraktal itu, ya?
Ya, fraktal. Tetap ada sistematikanya.

Adakah konsep fisika klasik yang bertahan di dalam kuantum atau relativitas
yang Anda lihat?
Yang paling bikin saya selalu merinding adalah Persamaan Maxwell. Itu
persamaan klasik, of course nonquantum mechanics karena dia gelombang,
tidak bicara tentang foton. Di pihak lain, meski tidak manifestly
covariant, Persamaan Maxwelll itu memang relativistik. Waktu Pak Maxwell,
belum ada relativitas, tapi karya besar itu kok otomatis relativistik.

Chaos theory?
Saya enggak mengikuti. Hanya dari jauh. Tentu itu perkembangan yang menarik
karena zaman dulu pun orang pernah ribut-ribut membicarakan apakah logika
single value atau bisa multiple value. Logika itu hanya bisa kalau nggak
salah, ya benar, kalau enggak benar, ya salah? Apa enggak mungkin dua yang
berbeda tapi dua-duanya benar? Two value logic.
Fuzzy logic, chaos berkem-bang seperti itu. Tidak linier karena cara
berpikir manusia tidak linier juga. Fisika in a way memang tak mudah karena
memerlukan rumusan matematika canggih, pemikiran cermat, tapi bidang lain
juga butuh intellectual ability serupa.

Punya impian menulis fisika untuk publik luas, seperti Fritjof Capra?
Ya, tapi bukan seperti yang ditulis Capra.

Buku apa yang Anda bayangkan?
Saya mungkin agak down to earth, tapi sementara ini sebetulnya saya enggak
mikir itu. Saya lebih memikirkan kemungkinan setelah pensiun masih bisa
meneliti. Dengan kurangnya beban rutin, saya bisa secara tenang memikirkan
soal-soal yang lebih fundamental. Saya soalnya masih suka yang lebih
fundamental, fisika partikel, yang ada unsur hobinya. Seorang fisikawan itu
godaannya mau memahami lebih jauh, lebih jauh, dan selalu ke sana…

Kirim email ke