https://news.detik.com/kolom/d-4112696/tgb-dan-air-mata-warga-ahmadiyah-ntb
Jumat 13 Juli 2018, 11:09 WIB
Kolom
TGB dan Air Mata Warga Ahmadiyah NTB
Muhammad Nurdin - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4112696/tgb-dan-air-mata-warga-ahmadiyah-ntb#>
Muhammad Nurdin
<https://news.detik.com/kolom/d-4112696/tgb-dan-air-mata-warga-ahmadiyah-ntb#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4112696/tgb-dan-air-mata-warga-ahmadiyah-ntb#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4112696/tgb-dan-air-mata-warga-ahmadiyah-ntb#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4112696/tgb-dan-air-mata-warga-ahmadiyah-ntb#>
12 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4112696/tgb-dan-air-mata-warga-ahmadiyah-ntb#>
TGB dan Air Mata Warga Ahmadiyah NTB Rumah warga Ahmadiyah yang diserang
(Foto: Dok. Pemkab Lombok Timur)
<https://news.detik.com/kolom/d-4112696/tgb-dan-air-mata-warga-ahmadiyah-ntb#><https://news.detik.com/kolom/d-4112696/tgb-dan-air-mata-warga-ahmadiyah-ntb#><https://news.detik.com/kolom/d-4112696/tgb-dan-air-mata-warga-ahmadiyah-ntb#><https://news.detik.com/kolom/d-4112696/tgb-dan-air-mata-warga-ahmadiyah-ntb#>
*Jakarta* - Warga Ahmadiyah di Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah mereka
yang paling menderita dalam 20 tahun terakhir. Pengrusakan, kekerasan,
intimidasi, bahkan pembunuhan menjadi derita yang tidak pernah surut
bagi mereka. Bahkan, baru-baru ini rumah mereka dihancurkan dan
pemiliknya diungsikan. Bukankah mereka adalah warga negara yang harus
dilindungi?
Secara kontras, Gubernur NTB, Zainul Majdi yang akrab dipanggil Tuan
Guru Bajang (TGB) justru asyik berselancar dalam hiruk-pikuk politik
nasional. Bahkan tak jarang ia berbicara tentang pentingnya hidup damai,
memberi rasa aman, dan persatuan. Tapi, lain di mulut lain pula di
kenyataan. Warga Ahmadiyah di Pulau Lombok terus menderita. Air mata
mereka mengalir laksana banjir yang tak pernah surut.
Faktanya, dua periode kepemimpinan TGB tak mampu memberikan solusi
konkret atas penderitaan warga Ahmadiyah di pulau seribu masjid itu.
Bukannya memberikan penyelesaian, kepemimpinan TGB malah menambah
catatan kelam karena masih ada persekusi terhadap warga Ahmadiyah, dan
ironisnya pelaku kekerasan itu belum ditangkap sampai sekarang!
Sampai tulisan ini dibuat, peristiwa pengrusakan rumah warga Ahmadiyah
di desa Greneng, Lombok Timur belum mendapat penyelesaikan. Meski sempat
viral di berbagai media, sepertinya itu belum cukup memberikan kepastian
hukum terhadap mereka.
Sudah satu setengah bulan sejak peristiwa itu terjadi, 26 orang warga
Ahmadiyah masih berada dalam pengungsian. Mereka tidak diizinkan kembali
ke rumahnya yang telah rata dengan tanah. Yang kini mereka bisa lakukan
hanya menunggu. Menunggu berbagai macam ketidakpastian hukum. Bahkan,
seperti kasus-kasus yang mendahuluinya: "pembiaran".
Akankah kasus persekusi di desa Greneng bernasib sama dengan apa yang
terjadi di Ketapang, Lombok Barat? Belum lama beberapa intel dari Polda
NTB datang ke pengungsian warga Ahmadiyah di Lombok Timur. Sepertinya,
Pemda NTB berkeinginan agar para pengungsi di Lombok Timur direlokasi ke
"wisma transito".
Opsi ini diberikan oleh utusan Polda yang bertujuan agar warga Ahmadiyah
di Lombok Timur hidup dengan aman. Opsi ini jelas bertentangan dengan
prinsip keadilan yang kita junjung tinggi. Aparat bukan menjamin korban
untuk mendapatkan haknya, justru aparat kalah terhadap tekanan massa.
Pada 2015 kali pertama saya ke Lombok dan saat itu juga pertama kali
saya melihat "wisma transito". Kata "wisma" terasa seperti sebuah
penginapan layaknya di Senggigi. Tapi, tidak untuk "wisma transito".
Pada 2006, bangunan itu beralih fungsi menjadi tempat penampungan para
warga Ahmadiyah. Tahun itu adalah tahun yang paling "memprihatinkan"
bagi para pengikut Ahmadiyah di Pulau Lombok.
Saya ke Lombok tidak sendirian. Ada ayah yang menemani walau kami tidak
berbarengan berangkat ke sana. Ayah saya adalah pengikut "/awalin/"
Ahmadiyah. Tak tahan dengan persekusi yang terus menerus terjadi,
akhirnya memutuskan hijrah ke Ibukota.
Ayah mengajak saya untuk menemui kakak, lebih tepatnya kakak sepupu.
Namanya Salehah. Saya kira usianya tak jauh beda. Nyatanya, kami terpaut
puluhan tahun, mungkin 40 tahun. Kakak tinggal bersama suaminya di
sebuah ruangan kecil berukuran 4 x 4 meter. Bersekatkan triplek dan
kain-kain bekas. Sumpek juga pengap. Situasi ini dirasakan oleh semua
penghuni wisma transito.
Suami kakak bernama Sadarudin. Meninggal pada 2016, beberapa hari
setelah kunjungan kedua saya ke Lombok. Saat meninggal usianya 90 tahun.
Saat saya dan ayah menemuinya pada 2015, ia sudah tak mampu berjalan.
Berucap pun hampir mustahil. Badannya kurus disebabkan sakit yang
berkepanjangan. Saya hanya bisa berkata dalam diam, betapa sulitnya
kehidupan mereka. Tak sanggup mulut ini mengucapkan satu kalimat simpati
yang paling pahit sekalipun. Hanya keperihan yang berteriak dalam senyap
yang mampu saya lakukan.
Pada 2006 adalah tahun yang mengubah kehidupan mereka. Rumah hancur,
toko dijarah, tak menyisakan sedikit pun kekayaan untuk bisa dinikmati
di hari tua. Dan, yang paling parah, suami kakak hampir kehilangan
nyawanya.
Saat peristiwa penyerangan, suami kakak mendapat luka bacok di beberapa
tempat. Melihat keadaannya yang begitu mengenaskan, banyak orang yang
beranggapan bahwa nyawanya sudah tidak bisa tertolong. Entah mengapa,
dia masih bisa hidup bahkan hingga 10 tahun ke depan dengan keadaan yang
serapuh itu. Efek luka itu masih meninggalkan jejak sakit yang amat
perih, baik itu di tubuhnya juga di kedalaman batinnya.
Saya tidak ingat persis obrolan apa yang sempat kami bicarakan antara
saya, ayah, dan kakak Salehah. Saat itu, suami kakak hanya bisa duduk
terdiam. Di matanya tersimpan banyak kenangan yang hendak diungkapkan.
Kenangan tentang beratnya menjadi seorang /Ahmadi/ (sebutan untuk
anggota Jemaat Ahmadiyah) yang ikhlas menghadapi ujian. Pandangannya
tertunduk lesu tapi sesekali menatap ke arah saya. Saya hanya bisa
menerjemahkannya sebagai nasihat yang terucap dalam diam.
Panjang lebar kami bercerita dalam hening dan pilu, sampai juga pada
titik akhirnya. Saya mengajak ayah, kakak dan suaminya berdoa. Saya
sudah tak sanggup lagi. Saya ingin melapor kepada-Nya meski saya tahu
Dia Maha Tahu. Saya ingin memohon kepada-Nya untuk perlindungan para
pengungsi, meski saya juga tahu Dia selalu melindungi mereka jauh
sebelum ini. Saya juga ingin memohon rahmat-Nya yang tak disangka-sangka
untuk para pengungsi, meski saya juga tahu Dia selalu mengabulkan doa
orang-orang yang teraniaya.
Air mata pun menetes. Tapi, apalah artinya air mata ini. Mereka sudah
terlalu sering menangis. Untung Tuhan tidak pernah bosan mendengar
rengekan mereka, di saat pemerintah sudah bosan sejak dulu. Itulah yang
mereka pegang sebagai sebuah "jaminan keselamatan", di saat tidak ada
lagi jaminan dunia yang bisa diandalkan.
Saya tidak tahu kapan penderitaan mereka sebagai pengungsi dapat
berakhir. Yang saya tahu hanyalah, orang-orang ini sudah tidak punya
rasa takut lagi untuk kehilangan. Sebab, semua hal yang sempat mereka
miliki sudah mereka pasrahkan. Dan, menganggapnya sebagai ujian yang
harus dilewati.
Apakah warga Ahmadiyah di desa Greneng harus bernasib sama dengan mereka
yang berada di "wisma transito"? Hanya TGB dan jajarannya yang tahu.
Jika pemerintah dan khususnya TGB masih punya hati nurani, bahkan
sebesar biji sawi sekalipun, tentu pembiaran ini tak akan pernah terjadi.
Yang kita lihat sekarang ini, TGB tengah sibuk menjawab keberatan dan
hujatan atas dukungannya untuk petahana. Padahal tidak ada yang perlu
diselesaikan di situ. Tidak ada hak fundamental seorang anak Adam yang
tercederai. Itu cuma soal politik. Anda tidak akan kelaparan jika
membiarkannya berlalu.
Tapi, jika TGB tetap diam dan membiarkan masalah Ahmadiyah
berlarut-larut tanpa solusi, juga menganggapnya selesai seiring
dukungannya ke Jokowi, Anda sedang berhadapan dengan hak hidup banyak
orang. Anda sedang berhadapan dengan masa depan anak-anak yang tak tahu
menahu soal keyakinan. Bukankah orang yang melihat kezaliman, lalu ia
diam, bahkan membiarkannya, maka kezaliman itu akan kembali kepada dirinya?
*Muhammad Nurdin* /mubalig Ahmadiyah keturunan Lombok/
*(mmu/mmu)*