https://bisnis.tempo.co/read/1106923/neraca-perdagangan-diprediksi-surplus-usd-600-juta
Neraca Perdagangan Diprediksi Surplus USD 600
Juta
Reporter:
Muhammad Hendartyo
Editor:
Rr. Ariyani Yakti Widyastuti
Sabtu, 14 Juli 2018 19:50 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta,
20 Oktober 2017. Penurunan nilai ekspor Indonesia pada September 2017
sebesar US$ 14,54 miliar, turun 4,51% dibanding bulan sebelumnya.
Tempo/Tony Hartawan
<https://statik.tempo.co/data/2017/10/20/id_656450/656450_720.jpg>
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta,
20 Oktober 2017. Penurunan nilai ekspor Indonesia pada September 2017
sebesar US$ 14,54 miliar, turun 4,51% dibanding bulan sebelumnya.
Tempo/Tony Hartawan
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Ekonom dari Institute for
Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara
memprediksi neraca perdagangan
<https://bisnis.tempo.co/read/1105101/bi-proyeksikan-neraca-perdagangan-juni-2018-surplus-usd-900-juta> Juni
bakal surplus US$ 600 juta. "Investor menanti data neraca perdagangan
bulan Juni yang diprediksi surplus US$ 600 juta," kata Bhima saat
dihubungi Sabtu, 14 Juli 2018.
Menurut Bhima, surplus neraca perdagangan didorong oleh ekspor yang
terpotong libur panjang. Ada efek proteksi dagang juga yang menghambat
ekspor komoditas sawit dan karet.
*Baca:* Darmin Nasution Perkirakan Neraca Perdagangan Juni Defisit
<https://bisnis.tempo.co/read/1106018/darmin-nasution-perkirakan-neraca-perdagangan-juni-defisit>
Namun, Bhima mengatakan dari sisi impor memang anjlok dari Mei ke Juni.
Impor bahan baku dan barang modal agak direm karena dua faktor, yaitu
industri libur lebaran, dan kurs rupiah yang membuat biaya impor naik.
Kondisi surplus itu ,menurut Bhima, sebenarnya semu karena selama Juni
aktivitas ekspor impor terpotong libur panjang lebaran. "Diprediksi pada
Juli kembali terjadi defisit perdagangan seiring aktivitas perdagangan
internasional kembali normal," katanya.
*Baca:* BI Yakin Surplus Neraca Perdagangan Juni USD 1 M, Ini Sebabnya
<https://bisnis.tempo.co/read/1105874/bi-yakin-surplus-neraca-perdagangan-juni-usd-1-m-ini-sebabnya>
Pada 25 Juni 2018, Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat neraca
perdagangan pada Mei 2018 kembali mengalami defisit sebesar US$ 1,52
miliar. Naiknya harga minyak dunia membuat impor minyak dan gas semakin
meningkat sehingga membuat neraca perdagangan kembali tertekan.
"Impor melonjak tinggi karena kenaikan harga minyak dan gas, padahal
ekspor sih sudah lumayan baik," kata Kepala BPS Suhariyanto di
kantornya saat itu. "Harga minyak dunia naik membuat impor melonjak tajam."
BPS mencatat nilai impor Indonesia selama Mei 2018 mencapai US$ 17,64
miliar atau meningkat 9,17 persen dibandingkan dengan April 2018.
Komposisi kenaikan terbesar memang disumbang oleh impor migas yang naik
hingga 20,95 persen atau jauh melampaui kenaikan impor nonmigas sebesar
7,19 persen.
Bulan Mei 2018 ini, nilai impor nonmigas berada di angka US$ 14,82
miliar. Sementara, nilai ekspor tumbuh lebih rendah yaitu US$ 16,12
miliar atau meningkat 10,90 persen dibanding April 2018. Performa ekspor
masih cukup lebih baik karena sektor nonmigas menyumbang pertumbuhan
yang lebih tinggi sebesar 28,8 persen. Sementara ekspor migas tumbuh
9,25 persen. "Jadi kami melihat ekspor bulan Mei ini cukup
menggembirakan," ujar Suhariyanto.
Baca berita menarik lainnya tentang neraca perdagangan
<https://www.tempo.co/tag/neraca-perdagangan> hanya di /Tempo.co/ .
------------------------------------------------------------------------