http://mediaindonesia.com/read/detail/172079-ketua-dewan-penasihat


 *Ketua Dewan Penasihat*

Penulis: *Ono Sarwono* Pada: Minggu, 15 Jul 2018, 00:20 WIB Opini <http://mediaindonesia.com/opini> <http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/172079-ketua-dewan-penasihat> <http://twitter.com/home/?status=Ketua%20Dewan%20Penasihat%20http://mediaindonesia.com/read/detail/172079-ketua-dewan-penasihat%20via%20@mediaindonesia>
Ketua Dewan Penasihat

DALAM dunia partai politik di negeri ini kadang jabatan ketua dewan pembina atau ketua dewan kehormatan parpol dan semacamnya hanyalah simbol. Uniknya lagi, di antara mereka ada yang sibuk pada bidang bukan tupoksi, biasanya di wilayah yang nyerempet-nyerempet kekuasaan. Begitu ada ‘angin’ berpihak, mereka bangkit trengginas memburunya, sampai tega menyikut rekan-rekan sejawat.

Pertanyaannya, kelirukah itu? Tidak. Sejauh tidak melanggar peraturan perundang-undangan, tentu perilaku itu tidak ada masalah. Namun, berpolitik eloknya bukan hanya patuh pada aturan baku. Masih ada etika dan moral yang sejatinya lebih bernilai daripada aturan-aturan formal.

Dalam dunia wayang, ada contoh bagaimana kiprah ‘ketua dewan penasihat’ yang teguh pada tupoksi. Ia pun mengindahkan etika dan moral. Berkat dedikasinya itulah ia menjaga muruah organisasinya sehingga terjaga kehormatannya. Dia yang terhormat itu bernama Bathara Narada, ketua dewan penasihat Kahyangan Jonggring Saloka.


*Bertapa di samudra*

Nama lain Bathara Narada ialah Sanghyang Kanekaputra. Ia putra Sanghyang Caturkaneka. Dari ayahnya, ia mendapat warisan pusaka Cupu Linggamanik. Namun, Narada tak ingin berpengaruh dan terpandang karena trah. Oleh karena itulah ia tawaduk mengasah diri meningkatkan ilmu.

Di antara laku prihatinnya yang sempat mengguncang dunia hingga membuat Kahyangan horeg (kepanasan) ialah ketika ia bertapa di atas samudra dengan menggenggam Linggamanik. Saking genturnya bertapa, Narada sempat menghadapi cobaan luar biasa dari para dewa.

Penguasa Kahyangan Bathara Manikmaya alias Bathara Guru benar-benar terganggu dengan perilaku Narada yang dianggap lajak. Ia memerintahkan para dewa yang dipimpin Bathara Indra membangunkan sang petapa dari ‘tidurnya’ dan menggelandangnya ke Kahyangan untuk diadili.

Namun, upaya sewenang-wenang para dewa gagal. Tidak ada satu pun yang mampu menggoyahkan sang petapa dari semadinya. Jangankan membangunkan, sekadar menyentuh kulitnya saja tidak mampu. Langkah mereka semua kaku dan beku ketika baru saja berusaha mendekati Narada.

Para dewa bergegas balik ke kahyangan dan melaporkannya semua yang mereka alami kepada Bathara Guru. Betapa gusarnya Guru mendengar laporan Indra tentang kesaktian sang petapa. Ia lalu mengambil keputusan turun sendiri dan berniat memberi pelajaran sang petapa.

Dengan kekuatan gaibnya, Guru mampu menyadarkan sang petapa. Dengan baik-baik, raja kahyangan meminta Narada tidak meneruskan semadinya. Namun, Narada menolak permintaan tersebut karena tiada makhluk yang berhak melarangnya, termasuk raja kahyangan sekalipun.

Kemudian terjadilah perdebatan sengit antara keduanya tentang rahasia hidup dan kehidupan. Mereka berebut unggul penguasaan ilmu kasunyatan. Singkat cerita, Guru kalah pintar. Ia tersulut amarahnya, lalu mengeluarkan aji kemayan dan menghukum Narada. Akibatnya, Narada yang semula berwajah tampan menjadi buruk rupa dan badannya pun mengerut hingga cebol.

Meski demikian, Guru mengakui keunggulan Narada. Ia meminta sang petapa menjadi penasihatnya. Sebagai tambahan atas penghormatannya, Guru menyeniorkan Narada dengan panggilan kakang (kakak) serta diberi tempat tinggal di Kahyangan Sidikpangudal-udal.


*Junjung kebenaran*

Sebagai penasihat, Narada teguh memegang independensinya. Ia hanya berpihak kepada kebenaran semata. Tidak ada peluang kompromistis sedikitpun akan sikapnya tersebut. Narada pun sadar akan konsekuensi dan siap menanggung semua akibat atas wataknya itu.

Walau berwatak keras, Narada bukan sosok serius dan kaku. Ia periang dan suka bercanda. Bukan hanya pada gaya bicaranya, gerakan dan cara berjalanya pun selalu jenaka. Semua makhluk tribuana menghormatinya.

Selama menjabat, berulang kali Narada berseberangan dengan Guru ketika sang raja dewa itu mengambil keputusan melenceng. Narada selalu menyela atau menegur Guru bila keliru. Bila usulan dan pendapatnya diabaikan, Narada memilih meninggalkan kahyangan untuk sementara waktu sambil mencari bukti kebenaran tentang apa yang ia sampaikan.

Misalnya, itu terjadi ketika Bathara Guru memerintahkan Bathara Brama memutus pernikahan putrinya, Bathari Dresanala, dengan Arjuna. Itu gara-gara putra Guru, Dewasrani, yang menginginkan Dresanala menjadi istrinya. Narada menginterupsi itu keputusan salah.

Alkisah, Dewasrani merajuk ibunya, Bathari Durga, untuk dinikahkan dengan Dresanala yang ketika itu sudah menjadi istri Arjuna. Durga kemudian mengajak Dewasrani menghadap bapaknya, Guru. Langkah ini diambil karena sebagai bapak, Guru mesti bertanggung jawab atas permintaan anaknya. Apalagi, Guru memiliki kekuasaan mutlak. Semula Guru menolak karena Dresanala telah berumah tangga dan dalam keadaan mengandung. Namun, karena terus dipojokkan Durga dan ditangisi Dewasrani, Guru akhirnya goyang.

Ia bersabda Dresanala harus dipisahkan dengan Arjuna. Di sinilah Narada meluruskan keputusan yang diambil Guru tidak bisa dibenarkan. Namun, Guru kukuh pada pendiriannya dan menyilakan siapa saja yang tidak setuju dengan langkahnya diperkenankan minggat.

Narada tidak ciut dengan pernyataan Guru. Mendadak Narada meminta pamit meninggalkan kahyangan. Dia berpesan, tidak ikut bertanggung jawab dengan semua yang akan terjadi di kahyangan sepeninggalnya.


*Teguh berdedikasi*

Cerita selanjutnya, Durga memaksa jabang bayi yang masih dalam kandungan Dresanala keluar. Orok yang tidak berdosa itu kemudian ia lemparkan ke dalam kawah candradimuka. Ini untuk memperlancar urusan pernikahan Dewasrani dengan Dresanala. Namun, jabang bayi yang semula diharapkan lebur, ternyata tetap hidup dan malah tumbuh sehat. Narada, yang sejak awal mengawal peristiwa itu, lalu menemui anak baru gede tersebut dan memberi nama Wisanggeni.

Setelah Narada memberi wejangan tentang asal usulnya, Wisanggeni lalu mengamuk di kahyangan. Siapa pun yang ditemui ia gebuki. Ajaibnya, tidak ada satu pun dewa yang mampu menghentikan Wisanggeni.

Guru lalu ingat Narada dan meminta Indra mencarinya. Betapa kagetnya Guru ketika melihat Narada dengan mudah menghentikan amarah Wisanggeni. Ia lalu mengingatkan Guru bahwa keputusannya yang salah telah menghadirkan bencana bagi Kahyangan.

Kisah itu merupakan contoh tentang dedikasi penasihat yang mengembang tugasnya dengan semestinya. Ia teguh menjaga muruah organisasinya sehingga terjaga kehormatannya, bukan untuk urusan yang lain. (M-3)






Kirim email ke