http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1261-perang-dagang
*Perang Dagang*
Penulis: *Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group* Pada: Rabu, 11 Jul
2018, 05:00 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1261-perang-dagang>
<http://twitter.com/home/?status=Perang%20Dagang%20http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1261-perang-dagang%20via%20@mediaindonesia>
Perang Dagang
PERANG dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok sudah sepekan
berjalan. Tiongkok langsung membalas dengan menerapkan bea masuk
tambahan senilai US$34 miliar kepada produk-produk pertanian AS.
Pembalasan dilakukan karena Presiden Donald Trump mengenakan bea masuk
tambahan senilai itu terhadap produk-produk Tiongkok.
Semua negara mengantisipasi dampak dari perang dagang karena pasti akan
ada kelebihan produk dari kedua negara yang tidak bisa lagi dipasarkan.
Apalagi produk pertanian seperti kacang kedelai dan daging babi tidak
bisa tahan lama. Petani AS harus mencari pasar baru untuk membuat produk
mereka tidak membusuk.
Kondisi itu bahkan diperkirakan akan semakin memburuk karena Trump
mengancam akan memperbesar penerapan bea masuk tambahan. Tidak
tanggung-tanggung, Presiden AS itu akan mengenakan bea masuk tambahan
terhadap semua produk impor dari negara-negara Asia yang nilainya
mencapai US$500 miliar.
Itulah yang membuat pemerintah Indonesia segera mengambil ancang-ancang.
Tim negosiasi segera dikirim untuk mencari tahu apa kebijakan yang akan
diterapkan Washington. Itu penting untuk mengetahui produk-produk ekspor
Indonesia apa saja yang akan terkena dampaknya.
Kita tahu AS merupakan pasar utama produk-produk ekspor Indonesia.
Besarnya pasar AS membuat kita menjadikan mereka sebagai negara tujuan
utama ekspor mulai produk tekstil, perikanan, hingga biofuel. Menurut
Badan Pusat Statistik, ekspor kita ke AS setiap tahun di atas US$16
miliar. Dua negara lain yang nilai ekspor ke AS hampir sama dengan
Indonesia hanyalah Jepang dan Tiongkok.
Seperti halnya Tiongkok, penerapan bea masukan tambahan oleh AS akan
membuat produk kita menjadi tidak kompetitif. Ketika Washington
menerapkan bea masuk tambahan hampir 80% untuk produk biofuel, praktis
ekspor kita ke 'Negeri Paman Sam' itu terhenti.
Penerapan bea masuk tambahan oleh Trump merupakan bagian dari upayanya
untuk menghidupkan kembali perekonomian AS. Rakyat Amerika diminta untuk
menanggung beban kebangkitan itu dengan harga-harga kebutuhan yang lebih
mahal.
Pengusaha seperti Jack Ma berpendapat, ketertinggalan industri dan
perekonomian AS dari negara seperti Tiongkok bukan disebabkan kehebatan
orang-orang Tiongkok. Ketertinggalan Amerika disebabkan terlalu
seringnya AS berperang di banyak wilayah di dunia.
Setelah Perang Dunia II, Amerika terlibat sendiri dalam banyak
peperangan, mulai Perang Korea pada 1950-an hingga terakhir ini ikut
dalam perang di Suriah. Bahkan untuk menjadikan diri mereka sebagai
'polisi dunia', AS membangun pangkalan militer yang tersebar mulai
Afrika, Asia, Australia, hingga Eropa.
Menurut Jack Ma, berapa triliun dolar anggaran yang harus disisihkan AS
setiap tahunnya untuk mempertahankan hegemoni mereka. Sementara itu,
negara-negara lain dengan anggaran yang lebih kecil memakai dana itu
untuk membangun perekonomian negara. Akumulasi hampir enam dekade
membuat banyak negara kemudian menjadi lebih maju, sementara Amerika
lupa membangun negara.
Kolumnis Thomas Friedman terakhir menuliskan artikel ketika ia sedang
berada di Bandara Shanghai. Ia melihat bagaimana infrastruktur bandar
udara di banyak kota di Tiongkok begitu modern dan nyaman, sementara
ketika berada di bandara di negaranya tampak tua dan ketinggalan zaman.
Pertanyaannya, apakah dengan menutup diri lalu AS akan bisa mengatasi
ketertinggalannya? Mustahil kalau sikap agresif Amerika tidak berubah.
Tidak mungkin rakyat Amerika disuruh bekerja keras, tetapi hasil kerja
keras mereka dibuang untuk membiayai operasi militer di negara-negara lain.
Bahkan yang terjadi perekonomian AS justru akan semakin terpuruk. Kalau
produk-produk teknologi AS dipersulit masuk ke banyak negara di dunia,
maka perusahaan mereka tidak mampu untuk bertahan. Kalau Apple, Boeing,
atau GE sulit masuk pasar dunia, yang akan menikmati ialah Samsung
(Korea Selatan), Airbus (Eropa), dan Panasonic atau Mitsubishi (Jepang).
Kita tidak tahu apa sebenarnya yang diharapkan Trump. Semua sedang
menunggu apa sebenarnya yang dimintakan Trump dari Tiongkok untuk
membantu pemulihan perekonomian AS dan apa yang akan diberikan Presiden
Xi Jinping terhadap permintaan Amerika itu.
Kita hanya diingatkan, ketika gajah berkelahi dengan gajah, yang
terjepit di tengah ialah pelanduk. Kita tentunya tidak ingin menjadi
pelanduk yang mati di tengah-tengah. Untuk itulah, kita harus memperkuat
perekonomian domestik agar limpahan produk dunia itu tidak membanjiri
pasar kita.