Bung Djie terimakasih reaksinya dan infonya. Sangat menarik kalau bung hubungkan artikel Perang Dagang dengan artikel Ketua Dewan Penasihat. Dari kedua artikel tersebut kita bisa belajar. Memang artikel Ketua Dewan Penasihat diambil dari mitos/dogeng,, dan saya juga percaya bahwa dongeng/mitos sukar dibenarkan maupun disalahkan. Tetapi kita tetap bisa menarik pelajaran dari padanya.
Salam hangat, A.Awind Pada 15 Juli 2018 11.54, kh djie [email protected] [GELORA45] < [email protected]> menulis: > > > Angkatan Perang Singapore dilatih oleh instruktur Israel, seorang kolonel.. > 10 tahun kemudian kolonel itu diundang datang berkunjung oleh Lee Kuan yew. > Kolonel itu menunjukkan keheranannya mengapa Singapore bisa maju jauh > lebih > cepat, melewati Israel. > Lee Kuan yew jawab, ya kami kan tidak pernah berperang, jadi bisa > membangun terus. > Kalian kan perang terus, kesempatan dan keuangan untuk membangun jadi > terbatas. > Singapore, tank2nya banyak ada di Brunei. Angkatan udaranya sebagian ada > di Australia > > 2018-07-15 11:14 GMT+02:00 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] < > [email protected]>: > >> >> >> >> >> http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1261-perang-dagang >> *Perang Dagang* >> Penulis: *Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group* Pada: Rabu, 11 Jul >> 2018, 05:00 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums> >> >> <http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1261-perang-dagang> >> >> <http://twitter.com/home/?status=Perang%20Dagang%20http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1261-perang-dagang%20via%20@mediaindonesia> >> [image: Perang Dagang] >> >> PERANG dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok sudah sepekan berjalan.. >> Tiongkok langsung membalas dengan menerapkan bea masuk tambahan senilai >> US$34 miliar kepada produk-produk pertanian AS. Pembalasan dilakukan karena >> Presiden Donald Trump mengenakan bea masuk tambahan senilai itu terhadap >> produk-produk Tiongkok. >> >> Semua negara mengantisipasi dampak dari perang dagang karena pasti akan >> ada kelebihan produk dari kedua negara yang tidak bisa lagi dipasarkan. >> Apalagi produk pertanian seperti kacang kedelai dan daging babi tidak bisa >> tahan lama. Petani AS harus mencari pasar baru untuk membuat produk mereka >> tidak membusuk. >> >> Kondisi itu bahkan diperkirakan akan semakin memburuk karena Trump >> mengancam akan memperbesar penerapan bea masuk tambahan. Tidak >> tanggung-tanggung, Presiden AS itu akan mengenakan bea masuk tambahan >> terhadap semua produk impor dari negara-negara Asia yang nilainya mencapai >> US$500 miliar. >> >> Itulah yang membuat pemerintah Indonesia segera mengambil ancang-ancang. >> Tim negosiasi segera dikirim untuk mencari tahu apa kebijakan yang akan >> diterapkan Washington. Itu penting untuk mengetahui produk-produk ekspor >> Indonesia apa saja yang akan terkena dampaknya. >> >> Kita tahu AS merupakan pasar utama produk-produk ekspor Indonesia. >> Besarnya pasar AS membuat kita menjadikan mereka sebagai negara tujuan >> utama ekspor mulai produk tekstil, perikanan, hingga biofuel. Menurut Badan >> Pusat Statistik, ekspor kita ke AS setiap tahun di atas US$16 miliar. Dua >> negara lain yang nilai ekspor ke AS hampir sama dengan Indonesia hanyalah >> Jepang dan Tiongkok. >> >> Seperti halnya Tiongkok, penerapan bea masukan tambahan oleh AS akan >> membuat produk kita menjadi tidak kompetitif. Ketika Washington menerapkan >> bea masuk tambahan hampir 80% untuk produk biofuel, praktis ekspor kita ke >> 'Negeri Paman Sam' itu terhenti. >> Penerapan bea masuk tambahan oleh Trump merupakan bagian dari upayanya >> untuk menghidupkan kembali perekonomian AS. Rakyat Amerika diminta untuk >> menanggung beban kebangkitan itu dengan harga-harga kebutuhan yang lebih >> mahal. >> >> Pengusaha seperti Jack Ma berpendapat, ketertinggalan industri dan >> perekonomian AS dari negara seperti Tiongkok bukan disebabkan kehebatan >> orang-orang Tiongkok. Ketertinggalan Amerika disebabkan terlalu seringnya >> AS berperang di banyak wilayah di dunia. >> Setelah Perang Dunia II, Amerika terlibat sendiri dalam banyak >> peperangan, mulai Perang Korea pada 1950-an hingga terakhir ini ikut dalam >> perang di Suriah. Bahkan untuk menjadikan diri mereka sebagai 'polisi >> dunia', AS membangun pangkalan militer yang tersebar mulai Afrika, Asia, >> Australia, hingga Eropa. >> >> Menurut Jack Ma, berapa triliun dolar anggaran yang harus disisihkan AS >> setiap tahunnya untuk mempertahankan hegemoni mereka. Sementara itu, >> negara-negara lain dengan anggaran yang lebih kecil memakai dana itu untuk >> membangun perekonomian negara. Akumulasi hampir enam dekade membuat banyak >> negara kemudian menjadi lebih maju, sementara Amerika lupa membangun negara. >> >> Kolumnis Thomas Friedman terakhir menuliskan artikel ketika ia sedang >> berada di Bandara Shanghai. Ia melihat bagaimana infrastruktur bandar udara >> di banyak kota di Tiongkok begitu modern dan nyaman, sementara ketika >> berada di bandara di negaranya tampak tua dan ketinggalan zaman. >> >> Pertanyaannya, apakah dengan menutup diri lalu AS akan bisa mengatasi >> ketertinggalannya? Mustahil kalau sikap agresif Amerika tidak berubah. >> Tidak mungkin rakyat Amerika disuruh bekerja keras, tetapi hasil kerja >> keras mereka dibuang untuk membiayai operasi militer di negara-negara lain. >> >> Bahkan yang terjadi perekonomian AS justru akan semakin terpuruk. Kalau >> produk-produk teknologi AS dipersulit masuk ke banyak negara di dunia, maka >> perusahaan mereka tidak mampu untuk bertahan. Kalau Apple, Boeing, atau GE >> sulit masuk pasar dunia, yang akan menikmati ialah Samsung (Korea Selatan), >> Airbus (Eropa), dan Panasonic atau Mitsubishi (Jepang). >> >> Kita tidak tahu apa sebenarnya yang diharapkan Trump. Semua sedang >> menunggu apa sebenarnya yang dimintakan Trump dari Tiongkok untuk membantu >> pemulihan perekonomian AS dan apa yang akan diberikan Presiden Xi Jinping >> terhadap permintaan Amerika itu. >> Kita hanya diingatkan, ketika gajah berkelahi dengan gajah, yang terjepit >> di tengah ialah pelanduk. Kita tentunya tidak ingin menjadi pelanduk yang >> mati di tengah-tengah. Untuk itulah, kita harus memperkuat perekonomian >> domestik agar limpahan produk dunia itu tidak membanjiri pasar kita. >> >> >> >> >> >> >> >> >> > >
