Disini, kami mempunyai sistem dimana setiap rumah dikasih oleh pemerintah setempat dua macam bin yg. satu bin berwarna coklat utk buang sampah dan yg. lain bin berwarna biru utk. barang2 yg. bisa di recyle (seperti kertas, karton, metal). Selain itu di kota ada tempat/kantor2 recycle dimana kami bisa membawa botol2 gelas atau kaleng2 kesana. Kemudian mereka akan menghitung botol2 nya dan kami mendapat uang utk. botol2 itu sesuai dgn. jumlahnya..
---In [email protected], <ehhlin@...> wrote : Dimanakah masalahnya?? Soal utama adalah pemisahan sampah yg bio-degradeble dari sampah lain, plastic, metal, kertas, botol gelas dll..... Di sementara negara ada bin2 tertentu utk jenis sampah dan para penduduk mentaati dan aktif memisahkan sampah dari rumah masing2 menurut jenis sampah..... nah ini kuncinya. Menggunakan cacing untuk mrngkompos sampah, nenek2 kita pun sudah tahu, zaman itu jenis sampah kan jauh berbeda dr sampah sekarang. On 16 Jul 2018 8:41 a.m., "'Karma, I Nengah [PT. BI-POS]' inengahk@... mailto:inengahk@... [GELORA45]" <[email protected] mailto:[email protected]> wrote: Kenapa hal ini tidak dilakukan di TPA-TPA dikota kota besar, sehingga sampah tidak menumpak kayak gunung. Katanya ada juga ulat bambu yang bisa menguraikan sampah-sampah plastik From: [email protected] mailto:[email protected] [mailto:GELORA45@yahoogroups. com mailto:[email protected]] Sent: Monday, July 16, 2018 10:35 AM To: GELORA_In <[email protected] mailto:[email protected]> Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Laskar Hijau kembangkan pengolahan sampah dengan cacing Muntok (ANTARA News) - Kelompok Swadaya Masyarakat Laskar Hijau Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melakukan ujicoba pengolahan sampah organik menggunakan bantuan cacing pengurai. "Ujicoba sudah dilakukan beberapa bulan terakhir dan hasilnya cukup menggembirakan. Kami berharap ke depan pola ramah lingkungan ini bisa dikembangkan warga dan kelompok lain agar sampah organik bisa dikendalikan bersama-sama," kata penggerak Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Laskar Hijau, Arie Kurniadi di Muntok, Minggu. Menurut dia, pola penguraian sampah organik menggunakan cacing pengurai sudah dilakukan di beberapa lokasi di Pulau Jawa, dan sudah terbukti mampu mengendalikan penumpukan sampah rumah tangga. Selain mampu mengurai sampah organik dengan cepat, kotoran cacing yang dihasilkan juga memiliki nilai ekonomi tinggi karena dimanfaatkan sebagai kompos organik. "Kami akan coba kembangkan dalam skala lebih besar dalam pengolahan sampah organik yang berasal dari anggota KSM Laskar Hijau yang saat ini berjumlah sekitar 350 rumah tangga," kata Arie. Dari 350 rumah tangga yang terdaftar, KSM Laskar Hijau berhasil mengendalikan kurang lebih 0,6 ton sampah rumah tangga per hari. Pada awalnya gerakan yang swadaya yang berdiri pada awal 10 Januari 2018 tersebut beranggotakan sekitar 100 rumah tangga di wilayah Kelurahan Sungaidaeng, Muntok, namun saat ini terus berkembang hingga 350 anggota yang tersebar di Kelurahan Sungaidaeng, Sungaibaru, Tanjung, Airbelo dan Belolaut. Ia optimistis dengan pola pengendalian sampah yang dikembangkan akan membawa dampak dalam pelestarian lingkungan sekaligus memberi manfaat positif bagi kesejahteraan masyarakat. "Kami menargetkan selain bisa mengendalikan sampah secara mandiri, ke depan juga bisa memberi andil dalam pengembangan agrowisata yang edukatif dan sehat," katanya. Pewarta: Donatus Dasapurna Putranta Editor: Unggul Tri Ratomo http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient 不含病毒。www.avg.com http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient
