Dari ESDM itu yang 40 juta adalah ongkos beli dan pasang paneel, belum ongkos accuu, converter dll. Dia hitungnya rupanya dari teoritis enersi yang maximum dapat dibangkitkan. Ada hujan , mendung, kabut tidak diperhitungkan. Sedangkan data yang lain, adalah data dari orang yang sudah pasang. Mungkin sebentar lagi, sedang ramai2nya persoalan ini, akan muncul data baru dengan harga terbaru. Kalau pasangnya di Indonesia Timur dengan 9 bulan tidak hujan, pasti lebih untun dengan solar panel ?
2018-07-20 16:39 GMT+02:00 Jonathan Goeij <[email protected]>: > Bung Djie, ini ada keterangan dan ESDM, balik modal dalam tiga tahun. > Dibawah disebutkan hemat 50% sedang Jonan mengatakan tagihan listriknya > hemat 80%, mungkin tergantung kapasitas solar panel yg dipasang dan harga > listrik yg progressif. > > --- > "Kami memasangnya 40 juta rupiah untuk instalasi `rooftop`. Biaya iuran > listrik misalnya sampai Rp2 juta, mungkin dengan ini bisa menghemat lebih > dari setengahnya per bulan," kata Noor. > > Dengan penghematan 50 persen dari iuran listrik per bulan, pengguna panel > surya atap sudah bisa balik modal atas investasinya dalam waktu sekitar > tiga tahun. > > ---In [email protected], <jonathangoeij@...> wrote : > > > Panel surya atap solusi penuhi kebutuhan listrik rumah tangga > <https://www.antaranews.com/berita/726289/panel-surya-atap-solusi-penuhi-kebutuhan-listrik-rumah-tangga> > > Jumat, 13 Juli 2018 00:33 WIB > [image: Panel surya atap solusi penuhi kebutuhan listrik rumah tangga] > > Pekerja mengecek Panel Surya di atap rumah di Menteng, Jakarta. (ANTARA > FOTO/Ujang Zaelani) > > Jakarta (ANTARA News) - Kementerian ESDM menilai pemasangan teknologi > panel surya atap (rooftop) bisa menjadi solusi jangka panjang untuk > memenuhi kebutuhan listrik di rumah-rumah. > > "Hitungannya lebih hemat investasinya karena umur dari `rooftop` yang > tanpa baterai itu `long life` bisa 20 tahunan asal dibersihkan setiap tiga > bulan sekali," kata Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur > Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian > ESDM Noor Arifin Muhammad pada seminar tentang Pengembangan Energi Surya > Atap di Jakarta, Kamis. > > Noor menjelaskan biaya instalasi panel surya atap memang tidak murah, > yakni sekitar Rp40 juta untuk satu rumah dengan kapasitas dua kilo Watt > peak (kWp). > > Namun, dengan listrik sebesar dua kWp tersebut, pengguna dapat > menghidupkan alat elektronik di rumahnya sampai sore hari. Setelah itu, > penggunaan listrik melalui jaringan PLN. > > Dari hitungan kasar, pemanfaatan listrik dari energi matahari melalui > panel surya atap bisa menghemat setengah dari rata-rata biaya penggunaan > listrik per bulan. > > "Kami memasangnya 40 juta rupiah untuk instalasi `rooftop`. Biaya iuran > listrik misalnya sampai Rp2 juta, mungkin dengan ini bisa menghemat lebih > dari setengahnya per bulan," kata Noor. > > Dengan penghematan 50 persen dari iuran listrik per bulan, pengguna panel > surya atap sudah bisa balik modal atas investasinya dalam waktu sekitar > tiga tahun. > > Menurut Noor, upaya untuk mewujudkan Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap > Menuju Gigawatt Fotovoltaik di Indonesia pada 2025 harus didukung > masyarakat. > > Baca juga: Panel surya solusi jangkau desa terpencil > <https://www.antaranews.com/berita/655024/panel-surya-solusi-jangkau-desa-terpencil> > > "Kami memerlukan partisipasi dari masyarakat lebih luas untuk pemanfaatan > energi surya terutama `rooftop`. Caranya adalah dengan menyadarkan > masyarakat betapa panel surya mudah dipasang, sangat aplikatif dan cepat > dilakukan," kata dia. > > Gerakan Sejuta Surya Atap merupakan upaya Ditjen EBTKE untuk mendukung > Kebijakan Energi Nasional yang menargetkan bauran energi terbarukan sebesar > 23 persen pada 2025. > > Dari target tersebut, proyeksi pembangkit listrik tenaga surya adalah > sebesar 5.000 MW pada 2019 dan 6.400 MW pada 2025. > > Baca juga: Asei catat 400 rumah pasang panel surya > <https://www.antaranews.com/berita/726263/asei-catat-400-rumah-pasang-panel-surya> > > Pewarta: Mentari Dwi Gayati > Editor: Suryanto > COPYRIGHT © ANTARA 2018 > > > >
