Kalau kelebihan listrik yang dihasilkan dibeli PLN (disalurkan ke GRID)
rasanya accu/battery tidak diperlukan, tetapi ini tergantung harga beli PLN
mana yang lebih menguntungkan disimpan di battery atau ke GRID.
Di tempat saya perusahaan listrik (SMUD atau Edison) membeli seharga sama dgn
harga konsumen, siang hari yg peak hours pemakaian listrik lebih banyak
harganya lebih mahal dari malam hari, hal ini menguntungkan konsumen perumahan
karena siang hari hasil listrik dari panel surya lebih banyak dan pemakaian
dirumah tidak banyak (orangnya kerja/dikantor/atau sekolah) tetapi dibeli
dengan harga mahal. Yang terjadi sepanjang musim panas tidak perlu bayar
listrik bahkan punya kredit yg dipakai untuk musim dingin.
Untuk Indonesia yang panas sepanjang tahun tentu akan lebih menguntungkan lagi.
On Friday, July 20, 2018, 7:58:51 AM PDT, kh djie <[email protected]> wrote:
Dari ESDM itu yang 40 juta adalah ongkos beli dan pasang paneel, belum ongkos
accuu, converter dll.Dia hitungnya rupanya dari teoritis enersi yang maximum
dapat dibangkitkan. Ada hujan , mendung, kabuttidak diperhitungkan.Sedangkan
data yang lain, adalah data dari orang yang sudah pasang.Mungkin sebentar lagi,
sedang ramai2nya persoalan ini, akan muncul data baru dengan harga
terbaru.Kalau pasangnya di Indonesia Timur dengan 9 bulan tidak hujan, pasti
lebih untun dengan solar panel ?
2018-07-20 16:39 GMT+02:00 Jonathan Goeij <[email protected]>:
Bung Djie, ini ada keterangan dan ESDM, balik modal dalam tiga tahun. Dibawah
disebutkan hemat 50% sedang Jonan mengatakan tagihan listriknya hemat 80%,
mungkin tergantung kapasitas solar panel yg dipasang dan harga listrik yg
progressif.
---"Kami memasangnya 40 juta rupiah untuk instalasi `rooftop`. Biaya iuran
listrik misalnya sampai Rp2 juta, mungkin dengan ini bisa menghemat lebih dari
setengahnya per bulan," kata Noor.
Dengan penghematan 50 persen dari iuran listrik per bulan, pengguna panel surya
atap sudah bisa balik modal atas investasinya dalam waktu sekitar tiga tahun.
---In [email protected], <jonathangoeij@...> wrote :
Panel surya atap solusi penuhi kebutuhan listrik rumah tangga
Jumat, 13 Juli 2018 00:33 WIB
Pekerja mengecek Panel Surya di atap rumah di Menteng, Jakarta. (ANTARA
FOTO/Ujang Zaelani)
Jakarta (ANTARA News) - Kementerian ESDM menilai pemasangan teknologi panel
surya atap (rooftop) bisa menjadi solusi jangka panjang untuk memenuhi
kebutuhan listrik di rumah-rumah.
"Hitungannya lebih hemat investasinya karena umur dari `rooftop` yang tanpa
baterai itu `long life` bisa 20 tahunan asal dibersihkan setiap tiga bulan
sekali," kata Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Ditjen Energi
Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Noor Arifin
Muhammad pada seminar tentang Pengembangan Energi Surya Atap di Jakarta, Kamis.
Noor menjelaskan biaya instalasi panel surya atap memang tidak murah, yakni
sekitar Rp40 juta untuk satu rumah dengan kapasitas dua kilo Watt peak (kWp).
Namun, dengan listrik sebesar dua kWp tersebut, pengguna dapat menghidupkan
alat elektronik di rumahnya sampai sore hari. Setelah itu, penggunaan listrik
melalui jaringan PLN.
Dari hitungan kasar, pemanfaatan listrik dari energi matahari melalui panel
surya atap bisa menghemat setengah dari rata-rata biaya penggunaan listrik per
bulan.
"Kami memasangnya 40 juta rupiah untuk instalasi `rooftop`. Biaya iuran listrik
misalnya sampai Rp2 juta, mungkin dengan ini bisa menghemat lebih dari
setengahnya per bulan," kata Noor.
Dengan penghematan 50 persen dari iuran listrik per bulan, pengguna panel surya
atap sudah bisa balik modal atas investasinya dalam waktu sekitar tiga tahun.
Menurut Noor, upaya untuk mewujudkan Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap Menuju
Gigawatt Fotovoltaik di Indonesia pada 2025 harus didukung masyarakat.
Baca juga: Panel surya solusi jangkau desa terpencil
"Kami memerlukan partisipasi dari masyarakat lebih luas untuk pemanfaatan
energi surya terutama `rooftop`. Caranya adalah dengan menyadarkan masyarakat
betapa panel surya mudah dipasang, sangat aplikatif dan cepat dilakukan," kata
dia.
Gerakan Sejuta Surya Atap merupakan upaya Ditjen EBTKE untuk mendukung
Kebijakan Energi Nasional yang menargetkan bauran energi terbarukan sebesar 23
persen pada 2025.
Dari target tersebut, proyeksi pembangkit listrik tenaga surya adalah sebesar
5.000 MW pada 2019 dan 6.400 MW pada 2025.
Baca juga: Asei catat 400 rumah pasang panel surya
Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018