Fw dari WA:
Frdw dr Kak *Miranda Goeltom*
**DOLLAR, UMR DAN BERAS JELANG REFORMASI DAN ERA JOKOWI**
Beberapa waktu terakhir banyak orang membandingkan nilai tukar Rupiah
terhadap Dollar sudah menyamai kegentingan seperti 20 tahun lalu
menjelang reformasi. Mereka meng-identikan situasi ekonomi yang sama
darurat nya dengan situasi di jelang kejatuhan Soeharto.
Apakah benar demikian? Mari kita bandingkan data data nya antara Dollar,
UMR dan harga beras.
**Pertama, Nilai Dollar dan UMR :**
Nilai tukar Dollar di akhir Agustus 1997 berada di kisaran 1 USD senilai
Rp 2.500,-. Sementara pada saat yang sama, UMR (Upah Minumum Regional)
DKI di tetapkan Rp 172.500 per bulan atau sekitar 69 USD per bulan.
Dalam waktu tidak lebih dari 10 bulan dari jelang akhir Agustus 1997
hingga rentang Januari - Juli 1998 nilai tukar Dollar merayap naik lalu
melonjak mendekati Rp 16,800-. Di saat Dollar menyentuh Rp 16.800 itu
UMR DKI ada di angka Rp 192.000 per bulan atau satu bulan UMR setara
dengan 11,4 USD.
Dari 1997 ke 1998 kenaikan UMR hanya Rp 20.000 atau sekitar 13%
sementara kenaikan nilai Dollar mencapai 600%.
Berdasar data itu maka turunnya daya beli masyarakat saat jelang
Reformasi memang sangat tajam. UMR 1997 yang setara dengan 69 USD di
tahun 1998 terjun bebas menjadi setara dengan 11,4 USD. Situasi ini di
sisi lain juga membuat banyak perusahaan yang gulung tikar diikuti PHK
massal.
Sekarang kita bandingkan dengan situasi hari ini di era pemerintahan
Jokowi. Pada saat Jokowi dilantik menjadi Presiden, Oktober 2014 nilai
tukar Dollar berada di kisaran Rp 12.200,- pada saat yang sama UMR DKI
berada di angka Rp 2.441.000 per bulan. Artinya di bulan Oktober 2014
UMR DKI setara dengan 200 USD.
Hari ini Juli 2018 nilai tukar Dollar ada di kisaran Rp 14.400,-
sementara UMR DKI Rp 3.648.000 per bulan atau setara dengan 253 USD.
Dari Oktober 2014 hingga Juli 2018 Dollar merayap naik Rp 2.200 atau
sekitar 18% sementara kenaikan UMR DKI dari Rp 2.441.000 menjadi Rp
3.648.000 atau naik sekitar Rp 1.200.000,- yaitu sekitar 49% dari
Oktober 2014.
Perbandingan kurs Dollar dengan UMR saat ini menunjukan bahwa naik nya
kurs Dollar sebesar 18% tidak berdampak pada daya beli seperti pada
situasi Mei - Juli 1998 dikarenakan pada kurun waktu yang sama saat ini
UMR justeru mengalami kenaikan 49%. Jika di konversi dengan Dollar maka
dari tahun 2014 hingga 2018 UMR naik 26% dari 200 USD menjadi 253 USD.
Jika di bandingkan dengan nilai tukar Dollar dan UMR pada Mei - Juli
1998 maka situasi nya tentu jauh berbeda karena UMR Mei - Juli 1998
setara dengan 11,4 USD sementara dengan nilai tukar Dollar hari ini UMR
setara dengan 253 Dollar artinya daya beli Rakyat jika menggunakan UMR
sebagai alat ukur justeru lebih besar 23 kali lipat dari Mei - Juli 1998.
**Kedua, UMR dan Harga Beras.**
Mari kita bandingkan daya beli Masyarakat tahun 1998 dan hari ini dengan
menggunakan perbandingan UMR dan harga Beras. Pada Juli 1998 besaran UMR
Rp 192.000 per bulan. Harga beras medium saat itu Rp 2800 per kilogram.
Artinya pada saat itu Rakyat dengan UMR nya hanya dapat membeli 69 kg
beras perbulan.
Saat ini UMR Rp 3.648.000 per bulan sementara Harga beras Medium sesuai
HET (Harga Eceran Tertinggi) berada di kisaran Rp 9.500 hingga Rp 10.000
per kg. Dengan demikian saat ini setiap bulan Rakyat bisa membeli 364 kg
beras hingga 384 kg beras per bulan.
Jika dibandingkan kemampuan Rakyat membeli beras tahun 1998 dan saat ini
maka kemampuan membeli beras naik dari 69 kg menjadi 384 kg per bulan
atau naik sekitar 315 kg lebih banyak per bulan. Peningkatan ini hampir
6 kali lipat dari tahun 1998.
Dari perbandingan perbandingan tersebut di atas maka tentu tidak tepat
jika nilai tukar Dollar hari ini yang berada di kisaran Rp 14.400 di
samakan dengan kegentingan ekonomi yang sama dengan tahun 1998.
Hanya ada dua kemungkinan kenapa ada ada orang orang yang menyamakan
nilai tukar Dollar hari ini sudah segenting 20 tahun lalu. Pertama
mereka itu hanya melihat angka Dollar tapi tidak mengetahui angka angka
lainnya termasuk UMR artinya data yang di miliki orang orang itu sangat
minim sementara nafsu bicara mereka sangat besar.
Kedua, mereka paham data data tersebut di atas tapi mereka mencoba
mendramatisir situasi seolah menakutkan dan berbahaya. Opini ini bisa
jadi di desain untuk tujuan politik.
Desainer opini bermotif politik itu tentu berharap Rakyat percaya bahwa
nilai tukar Rupiah terhadap Dollar di pemerintahan Jokowi seolah olah
sedang berada dalam situasi yang persis sama dengan situasi 20 tahun lalu.
19 - Juli - 2018
Salam
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com