https://tirto.id/pasukan-andi-azis-menolak-tentara-dari-jawa-cmbD


Negara Indonesia Timur Pasukan Andi Azis Menolak Tentara dari Jawa

[image: Tentara KNIL Minahasa berpose di Semarang. Foto/Ipphos]
<https://tirto.id/pasukan-andi-azis-menolak-tentara-dari-jawa-cmbD>Tentara
KNIL Minahasa berpose di Semarang. Foto/Ipphos

Oleh: Petrik Matanasi - 5 April 2017

Dibaca Normal 5 menit

*KNIL-KNIL di Makassar gelisah akan masa depan mereka. Kedatangan pasukan
TNI dari Jawa membuat mereka berontak pada 5 April 1950.*

tirto.id - Bagi serdadu, kalah bukan hal yang mudah. Apalagi ditambah
ancaman kehilangan mata pencaharian. Inilah kegalauan yang dihadapi anggota
KNIL di Makassar pada pergantian tahun 1949-1950. Akibat kesepakatan
Konferensi Meja Bundar (KMB) dan dikembalikannya Kedaulatan Republik
Indonesia, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) yang ada sejak 4
Desember 1830 akan dibubarkan pada 26 Juli 1950.

Kebanyakan dari para serdadu KNIL itu menjadi KNIL karena tradisi keluarga.
Ayah mereka, kakek mereka, atau bahkan buyutnya adalah KNIL juga. Meski
begitu, mereka diberi pilihan untuk masuk Angkatan Perang Republik
Indonesia Serikat (APRIS).

Di daerah Sulawesi Selatan, meski sempat tiarap di zaman pendudukan Jepang,
setidaknya pernah ada tiga batalyon KNIL. Menurut catatan buku *Gedenkschrift
Koninklijk Nederlandsche Indische Leger 1830-1950* (1990) karya P. van
Meel, di Pare-pare terdapat batalyon INF XV, di Enrekeng batalyon INF XVI,
di Makasar ada batalion INF XVII. Sebagian dari mereka sempat menjadi
tawanan perang Jepang.

Setelah 1946, di tubuh KNIL sendiri terjadi banyak mutasi pasukan dari satu
tempat ke tempat lain. Di masa revolusi, peran besar KNIL di Indonesia
adalah menggempuri para pejuang Republik. Tanpa ampun. Ada yang bertempur
habis-habisan karena sumpah setia kepada Ratu Belanda, tapi ada pula yang
terjebak.

Menurut catatan harian *Kedaulatan Rakyat* (5/4/1950) dan Agoes Anwar
dalam *Soumokil
dan Hantjurnja RMS* (1964), banyak serdadu KNIL masuk tentara Belanda
karena terjebak propaganda bohong. Sebagian serdadu yang dalam Perang Dunia
II pergi ke Australia seperti heiho serta romusha sebenarnya tidak tahu apa
yang terjadi di tanah air selama berada di sana.

"Kepada mereka dikatakan bersama Belanda mereka harus memerdekakan tanah
air daripada tindasan Jepang, harus mengusir Sukarno-Hatta yang bersama
Jepang telah membawa Indonesia masuk dalam kesengsaraan. Ingatlah nyanyian
yang klimaksnya: Hancurkanlah musuh kita, itulah Sukarno-Hatta."

Dengan propaganda semacam itu, mereka kemudian sulit berdamai dengan
Republik Indonesia yang dipimpin Sukarno-Hatta.

Jelang bubarnya KNIL, menurut *Laporan Djawatan Kepolisian Negara (bagian
PAM) kepada Presiden perihal: Aksi Westerling* (21/02/1950), muncul isu di
kalangan mereka bahwa bekas KNIL yang masuk TNI akan disudutkan dan
dicari-cari kesalahannya. Bagaimanapun juga, bekas KNIL adalah musuh TNI di
masa revolusi.

Perwira-perwira TNI di mata mereka adalah orang-orang lemah ilmu
militernya. Mereka mengambil contoh Kepala Staf APRIS Kolonel Tahi Bonar
Simatupang (kawan Kolonel Abdul Haris Nasution, yang jadi KSAD) yang
hanyalah mantan vandrig KNIL yang masih muda. Ilmu dan pengalaman
militernya kalah dari perwira-perwira Belanda senior.

Di KNIL, meski seumur hidup punya pangkat rendah, mereka punya jenjang
karir dan gaji rutin yang jelas. Di TNI, gaji tentara lebih rendah. Tak
heran jika banyak bekas KNIL yang masuk TNI mendapat kenaikan pangkat.

Sejak Januari 1950, muncul tuntutan dari anggota KNIL, terutama di
Indonesia Timur, terkait pengalalihan mereka ke APRIS. Mereka hanya mau
masuk APRIS, bersama unsur Tentara Nasional Indonesia (TNI) di dalamnya,
atas dasar sukarela. Itu pun, ketika di APRIS nanti, mereka dibawah komando
mantan KNIL pula, bukan TNI.

Ketika syarat ini dimunculkan dalam pembicaraan 27 Maret 1950, muncul
masalah baru. Mereka merasa malu jika pasukan APRIS dari unsur TNI dari
Jawa dikirimkan ke Makassar. Para mantan KNIL ini merasa mampu untuk
menjaga ketertiban. Pemerintah Republik Indonesia, tentu punya pendapat
lain soal penolakan bekas KNIL itu.

Menurut Cornelis van Dijk dalam *Darul Islam: Sebuah Pemberontakan* (1995),
tindakan mantan KNIL itu di mata pemerintah pusat dinilai memiliki tujuan
untuk mempertahankan dan memperpanjang kehadiran mereka sebagai militer
yang menguasai sepenuhnya Sulawesi Selatan.

Menurut sumber militer Republik, seperti tertulis dalam *Penumpasan
Pemberontakan Separatisme di Indonesia* (1982), ide pengiriman pasukan dari
TNI ke Makassar itu adalah kemauan kaum Republiken di Sulawesi Selatan.
Termasuk anggota parlemen Negara Indonesia Timur (NIT) pro-republik yang
dipelopori A. Rasyid Fakih, Haji Mattekawang Daeng Raja, dan A. Karim
Mamangka.

Mereka mengirim mosi pada 23 Desember 1949 ke Menteri Pertahanan RIS, Sri
Sultan Hamengkubuwono IX yang isinya mendesak pemerintah RIS untuk segera
mengirimkan pasukan TNI ke Sulawesi Selatan. Sri Sultan menerima mosi itu
ketika mengadakan inspeksi ke Indonesia Timur. Kaum federalis tentu
menentang mosi tersebut.

Sri Sultan pun membentuk sebuah komisi militer sebelum kedatangan pasukan
TNI dari Jawa. Bertindak sebagai ketua komisi adalah Ir. Putuhena. Sebagai
anggota, ada Mayor Alex Nanlohy dari pihak KNIL dan Letnan Kolonel Ahmad
Junus Mokoginta dari pihak TNI. Mokoginta, sebelum Jepang mendarat di
Indonesia pada 1942, juga adalah perwira KNIL.

Ketika berkunjung, Sri Sultan didampingi oleh Mokoginta. Jebolan KMA
Bandung ini diangkat sebagai Kepala Tentara dan Teritorium di Indonesia
Timur. Komisi militer RI ini pada 27 Desember 1949—di hari pengembalian
kedaulatan RI dari pemerintah Belanda—menerima tanggung jawab dari Markas
Besar Tentara Belanda di Makassar atas keamanan Indonesia Timur.

Dalam penyerahan tanggung jawab itu, Komisi Militer diwakili oleh Letnan
Kolonel Mokoginta karena Ir. Putuhena dan Mayor Nanlohy belum datang ke
Makassar. Mokoginta dalam menjalankan tugasnya dibantu beberapa anggota
staf seperti Mayor Saleh Lahade, Mayor H.N.V. Sumual, Mayor Pieters, serta
seorang ajudan yakni Kapten Andi Muhamad Yusuf. Namun, apa pun perjanjian
dan wewenangnya, Mokoginta tak dihormati oleh serdadu-serdadu KNIL yang
kemudian mengamuk di Makassar.

Desakan pengiriman pasukan TNI dari Jawa semakin kuat lagi setelah adanya
konferensi 7 Februari 1950 di Polongbengkeng, daerah yang dikenal sebagai
basis republik selama revolusi kemerdekaan. Ada tuntutan dari bekas laskar
Republik di Sulawesi Selatan yang bertahan di pedalaman Sulawesi Selatan
yang ingin masuk dalam formasi seperti halnya TNI.

Petinggi militer berencana mengirimkan Batalyon Worang yang jumlah
personelnya 1000an orang, sebagai pasukan pertama TNI yang masuk ke wilayah
bekas Negara Indonesia Timur. Komandan pasukan tersebut adalah Mayor Hein
Victor Worang, mantan KNIL sebelum Jepang datang dan juga TNI pejuang 1945.
Dia berasal dari Sulawesi Utara, begitu pula sebagian anggotanya.

Di masa revolusi, dia dan pasukannya bergerilya di daerah Jawa Timur. Dari
Surabaya, mereka diangkut Kapal Waikelo dan Bontekoe. Mereka diberangkatkan
membawa keluarga mereka juga.

Menurut sumber militer lain, *Dinas Sejarah Angkatan Darat dalam bukunya
Sejarah TNI AD (1945-1973) 2 Peranan TNI AD Menegakkan Negara Kesatuan RI*
(1979), para bekas serdadu KNIL mengadakan rapat besar pada 3 April 1950.
Sekitar 700 KNIL datang. Mereka membentuk ‘Panitia Pembentukan Peralihan
KNIL ke APRIS’ yang disingkat PPPKA.

Tetua KNIL yang mereka tunjuk sebagai ketua adalah bekas Sersan Mayor
Christoffel. Lewat sebuah mosi, mereka mendesak pucuk pimpinan KNIL dan
APRIS agar KNIL Makassar dimasukan ke APRIS dan mendesak pemerintah RIS
supaya pengiriman bekas TNI ke Indonesia timur ditunda untuk sementara
waktu. Mosi itu mereka buat karena belum ada jaminan keamanan untuk
anggota-anggota KNIL jika pasukan dari TNI Jawa itu mendarat.

Di Makassar, meski bukan perwira KNIL dengan pangkat paling tinggi, Andi
Abdul Azis cukup dihormati oleh perwira KNIL lain. Dia adalah ajudan dari
Wali Negara alias Presiden NIT. Waktu di KNIL pangkatnya masih Letnan,
namun ketika masuk APRIS di awal April 1950, pangkatnya jadi Kapten di
APRIS. Meski sudah masuk APRIS, dia termasuk penolak pendaratan Batalyon
Worang juga.

“Buat apa didatangkan pasukan APRIS dari Jawa, toh pasukan eks-KNIL di
Makassar-pun telah pasukan APRIS dan sanggup mengamankan NIT,” kata Andi
Azis, seperti dicatat *Sejarah TNI AD (1945-1973) 2 Peranan TNI AD
Menegakan Negara Kesatuan RI* (1979).

Malam hari tanggal 4 April 1950, Andi Azis dipanggil oleh Soumokil
dirumahnya. Di rumah Soumokil itu, beberapa serdadu Ambon sudah menunggu.
Mereka sudah siap tempur bila pasukan TNI dari Batalyon Worang mendarat di
Makassar.

Dini hari Rabu, 5 April 1950, pukul 5 pagi, pasukan bebas penentang pasukan
Jawa di bawah komando Kapten Andi Azis pun menyerang perumahan perwira TNI
di staf kwartier dan asrama CPM di Verlegde Klapperlaan (Jalan Walter
Mongisidi). Alibi mereka adalah: Menolak Batalyon Worang.

Letnan Kolonel Mokoginta dan bawahannya pun mereka kepung. Pukul lima subuh
itu, seorang komandan peleton bawahan Andi Azis berpangkat Pembantu Letnan
datang pada Mokoginta dengan diantar letnan Tumbelaka. Tujuannya menangkap
dan menawan Mokoginta.

Semula Mokoginta berkeras tak mau dan hendak menelpon Andi Azis, tapi
jaringan telepon sudah terputus. Ia pun akhirnya pasrah dibawa ke markas
Andi Azis. Kepada Letnan Kolonel Ahmad Yunus Mokoginta, Kapten Andi Azis
bilang: “*Het Pijt me, Overste, maar ik moct het doen* [Saya menyesal,
overste, tapi saya harus melakukannya]."

Tal hanya menawan Mokoginta, pasukan yang turut komando Andi Azis itu pun
disiagakan ke posisi-posisi strategis dan siap tembak. Senapan mesin
watermantel juga disiagakan. Arah tembakan adalah kapal pemuat TNI dari
Jawa. Sebuah pesawat pembom B-25 Mitchel rupanya telah siap membantu
perlawanan Andi Azis.

Dengan Mokoginta ditangan, Andi Azis meminta lewat Mokoginta agar pasukan
jangan mendarat. Jumlah pasukan Andi Azis ada sekitar 800 orang dengan
senjata lengkap dengan lindungan senjata berat dan kendaraan lapis baja KL
rampasan. Atas kelakuan KNIL-KNIL yang belum masuk APRIS dan masih dalam
komando Belanda, Letnan Kolonel Musch, pimpinan militer Belanda di
Makassar, tidak bisa berbuat apa-apa.

Kapal Waekelo dan Bontekoe yang mengangkut seribu prajurit TNI dari
Batalyon Worang terpaksa berbalik arah. Keluarga anggota Batalyon Worang
yang ikut diangkut dalam kapal harus diamankan. Untuk sementara, anggota
keluarga ditinggalkan di Balikpapan.

Gerakan pasukan bebas Andi Azis itu mengaku tindakan Andi Azis tidak
mengatasnamakan KNIL, tetapi APRIS dan pemuka NIT macam Sukowati tidak ada
sangkut paut dengan gerakan militernya. Tujuan lain yang dibaca kaum
republiken atas gerakan adalah hendak mempertahankan NIT.

Pemerintah NIT sendiri mengaku kecewa. Lewat pidato Perdana Menteri Diapari
di Radio Makassar 7 April 1950, pemerintah NIT mengultimatum Andi Azis dan
pasukannya agar kembali ke asrama, melepaskan tawanan, dan menyerahkan
senjata-senjata.

Pemerintah pusat di Jakarta pun tak tinggal diam. Ultimatum yang
memerintahkan Andi Azis menghadap pun dikeluarkan di hari pertama ketika
pasukan Andi Azis berontak. Ultimatum itu tak dengan cepat direspons. Dia
terlambat datang ke Jakarta.

Demi menjaga wibawa pemerintah, pasukan militer dalam jumlah besar pun
dengan segera didatangkan ke Makassar. Tak hanya Batalyon Worang lagi, tapi
Brigade Mataram pimpinan Letnan Kolonel Soeharto juga. Untuk menangani
mantan KNIL itu, petinggi militer Republik menempatkan Kolonel Alex
Kawilarang sebagai komandan tertinggi operasi mengatasi sisa pemberontak
setelah Andi Azis di Jakarta.

Meski pasukan-pasukan KNIL itu sudah dikandangkan setelah 5 April 1950,
tapi ketegangan di Makassar terus berlangsung. Pertempuran hebat terjadi
pada 15 Mei dan 5 Agustus 1950. Karena kalah jumlah, mereka bisa dipukul
pasukan TNI. Setelah APRIS tampil sebagai pemenang, 9 Agustus 1950 diadakan
gencatan senjata dan pasukan KNIL diusir dari Makassar.

Menurut sumber militer, korban dari kalangan sipil adalah 1000 orang dan
350 rumah hancur. Gerakan ini belakangan hanya dicap sebagai separatisme,
meski sebetulnya lebih mirip sebagai dukungan atas federalisme di Indonesia..


Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA
<https://tirto.id/q/sejarah-indonesia-dwA?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
<https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>

(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani

Kirim email ke