*Berbicara tentang angka kemiskinan menurun pada masa mendekati Pemilihan
Umum tidak lain dari memberi gambaran indah kampanye Pemilihan Umum pihak
berkuasa. Kalau angka jumlah penduduk miskin menurun sepatutnya disertai
dengan menurunnya angka pengangguran, jadi bukan karena penduduk miskin
diberi tunjangan. Patut dicatat bahwa di NKRI yang dikuasai oleh rezim
neo-Mojopahit, orang dikatakan tidak menganggur kalau ia bekerja 1 jam
dalam semiggu. Apakah mereka yang bekerja 1 jam seminggu itu tidak
miskin?Tentunya kalau pemilik modal besar yang bisa bekerja 1 jam seminggu
keluarganya tidak hidup senin kemis.*



https://kumparan.com/direktorat-jenderal-perlindungan-dan-jaminan-sosial/dialog-nasional-pkh-indonesia-maju-jumlah-penduduk-miskin-turun-1-8-juta-jiwa-27431110790548890?ref=rel



USER STORY
Dialog Nasional PKH Indonesia Maju: Jumlah Penduduk Miskin Turun 1,8 juta
Jiwa Dialog Nasional PKH Indonesia Maju: Jumlah Penduduk Miskin Turun 1,8
juta Jiwa
------------------------------
Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial
<https://kumparan.com/direktorat-jenderal-perlindungan-dan-jaminan-sosial>

Kamis 19 Juli 2018 - 04:47
<https://kumparan.com/direktorat-jenderal-perlindungan-dan-jaminan-sosial/dialog-nasional-pkh-indonesia-maju-jumlah-penduduk-miskin-turun-1-8-juta-jiwa-27431110790548890>



Kediri (19 Juli 2018) - Jumlah penduduk miskin di Indonesia turun 1,8 juta
jiwa dalam kurun waktu Maret 2017 hingga Maret 2018.


Hal ini mengemuka dalam Dialog Nasional PKH Indonesia Maju yang berlangsung
di Pendopo Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, Rabu (18/7). Dialog ini
menghadirkan narasumber Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial
(Linjamsos) Kementerian Sosial RI Harry Hikmat, Anggota III Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) RI Achsanul Qosasi, Anggota VI BPK RI Harry Azhar Azis,
Anggota Komisi XI DPR RI Muhammad Sarmuji.


Dirjen Linjamsos menjelaskan pada September 2017 Badan Pusat Statistik
(BPS) merilis jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per
kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Indonesia mencapai 26,58
juta orang (10,12 persen), berkurang sebesar 1,19 juta orang dibandingkan
dengan kondisi Maret 2017 yang sebesar 27,77 juta orang (10,64 persen).


Kemudian, lanjutnya, BPS kembali merilis jumlah penduduk miskin di
Indonesia berkurang sekitar 630 ribu orang menjadi 25,95 juta orang pada
Maret 2018.


"Capaian ini menurut BPS disebabkan antara lain bansos tunai meningkat 87,6
persen. Jumlah penerima PKH tahun 2017 sebanyak 6 juta Keluarga Penerima
Manfaat (KPM) dan meningkat hingga 10 juta KPM tahun 2018. Pada tahap I
bulan Februari dan tahap II bulan Mei telah disalurkan tepat waktu sebanyak
97%. Begitu juga penyaluran program beras sejahtera (Rastra) dan Bantuan
Pangan Nontunai (BPNT) pada kuartal I 2018 sekitar 95% telah dilaksanakan
sesuai jadwal," terang Dirjen.


Untuk itu, lanjutnya, ia meminta kepada SDM PKH yang bertugas di lapangan
memastikan program pengentasan kemiskinan yang telah berjalan sejak tahun
2007 ini berjalan dengan baik dan efektif.


"Saya minta langkah Pendamping PKH harus ada target. Pastikan kegiatan
Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) atau Family Development
Session (FDS) berlangsung paling sedikit 1 minggu sekali secara efektif,
pastikan bansos yang diterima dimanfaatkan untuk pemenuhan gizi keluarga,
biaya kebutuhan pendidikan anak-anak, dan tambahan modal usaha ekonomi
produktif dan biaya perawatan lanjut usia dan disabilitas berat yang
tinggal bersama KPM PKH. Indeks bansos PKH 1,89 juta per tahun memang tidak
besar hanya menambah 8% dari pengeluaran konsumsi perkapita. Idealnya
antara 25 sampai dengan 40%", paparnya.


Selain itu, lanjutnya Pendamping PKH juga harus memastikan penerima PKH
mendapat Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Bantuan
Pangan Non Tunai (BPNT) atau Beras Sejahtera (Rastra), sertifikat tanah
secara gratis, mendapatkan bantuan pemberdayaan ekonomi (KUBE, KUR, KUT,
dll), rumahnya dipugar agar layak huni, bayar listrik bersubsidi dan
mendapatkan LPG 3 kg. Penyaluran bansos secara terintegrasi inilah
sebenarnya faktor kunci yang mempunyai daya ungkit meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.


"Bila satu keluarga sudah mendapatkan beragam bansos, subsidi pemerintah
dan diberdayakan secara ekonomi produktif, nanti akan bisa kita lihat
hasilnya dalam tiga sampai lima tahun. Indikator keberhasilannya adalah
terjadi perubahan sikap dan perilaku KPM PKH yang akan mengarah pada
kemandirian dan adanya peningkatan produktivitas secara ekonomi," katanya.


Jadi, lanjutnya, tidak benar kalau ada anggapan bahwa penurunan angka
kemiskinan adalah semu karena pemerintah mengandalkan bansos. Transfer ke
masyarakat, ya pakai mata anggaran bansos, tapi ada sistem dan mekanisme
yang dibangun dengan pendekatan dan metode pemberdayaan, perlindungan dan
jaminan sosial. Bukti nyata silakan cek ke lapangan bagaimana Family
Development Session dilakukan secara rutin," tandas Harry Hikmat.


Harry menjelaskan PKH sebanyak 10 juta KPM dengan Pendamping sebanyak
40.225 orang, dapat dipastikan mendorong keluarga penerima manfaat PKH
menjadi sejahtera sehingga keluar dari perangkap kemiskinan. Tahun 2017 ada
320.000 KPM yang telah naik kelas graduasi sejahtera mandiri. Selain itu
PKH mendorong kreativitas keluarga dalam meningkatkan produktivitasnya.
Lebih dari 80% ibu penerima PKH sekarang telah menjadi pelaku usaha ekonomi
produktif, sehingga dapat mengurangi kesenjangan antar kelompok pendapatan.
PKH juga Menendorong keluarga untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia, menurunkan angka gizi buruk dan stunting 37% serta mencegah putus
sekolah lebih dari 95%.


"Jadi PKH ini bukan sekedar

bansos yang sifatnya karitatif seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), tapi
PKH merupakan bansos bersyarat atau dikenal sebagai Conditional Cash
Transfer (CCT) yang menjadi instrumen yg telah terbukti efektif
meningkatkan kesejahteraan masyarakat di 72 negara di dunia," tegasnya.


Dirjen optimistis program ini akan terus memberikan kontribusi positif
dalam upaya pengentasan kemiskinan. Terlebih pada tahun 2019 akan ada
penambahan anggaran bansos PKH, sesuai dengan arahan Bapak Presiden dalam
berbagai rapat kabinet maupun pada saat kunjungan kerja ketika penyaluran
PKH. Rencananya indeks bantuan sosial bagi 10 juta KPM PKH akan dinaikan
signifikan dari Rp15,4 triliun pada tahun 2018 menjadi Rp32 triliun pada
tahun 2019. Untuk menajamkan sasaran yg akan dicapai maka bansos diberikan
bervariasi sesuai dengan beban tanggungan keluarga.



Dukung PKH


Sementara itu di tempat yang sama Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat
Republik Indonesia (DPR RI) Sarmuji mendukung rencana kenaikan anggaran
Program Keluarga Harapan (PKH) pada tahun 2019 menjadi Rp32 triliun dengan
catatan disalurkan tepat sasaran dan sesuai tujuan program.


"Alhamdulillah sejak PKH lahir kemiskinan kita makin lama makin menurun.
Ini adalah kontribusi yang sangat nyata. Maka DPR tidak segan-segan
berapapun anggaran yang diminta pemerintah, DPR akan meloloskan," katanya.


Ia mengungkapkan apa yang sudah dilakukan pemerintah dalam PKH ini sudah
sangat baik, sehingga DPR mendukung penuh usaha pemerintah dalam upaya
pengentasan kemiskinan.


Anggota Badan Legislasi DPR ini mengatakan PKH adalah program prioritas
pemerintah yang tujuannya tercantum dalam Pembukaan Undang-undang Dasar
1945 yakni memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.


"Jadi program pemerintah disesuaikan dengan tujuan dalam pembukaan UUD
1945," katanya.


Dikatakan Sarmuji, DPR mendukug PKH karena sejalan dengan 4 Target
Pembangunan DPR yakni (1) Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Setiap rupiah harus berkontribusi terhadap IPM, (2) Penurunan angka
kemiskinan, (3) Pengurangan angka pengangguran dan (4) Pengurangan
kesenjangan ekonomi atau gini ratio.


"Inilah dasar kita mengapa PKH harus dilanjutkan. Melalui PKH kita berharap
Indonesia semakin sejahtera," katanya.


Anggota III BPK RI Achsanul Kosasi mengatakan pihaknya mendukung penuh
pelaksanaan PKH. BPK, lanjutnya, akan terus mengawal anggaran PKH agar
tepat sasaran.


"Apalagi tahun depan anggarannya akan ditambah. Maka pengawasan harus
semakin ditingkatkan," katanya.


Sebanyak 750 undangan menyimak dialog dari awal hingga akhir dengan penuh
antusias. Mereka terdiri dari para penerima PKH, pendamping, operator,
Koordinator Kabupaten/Kota PKH, Koordinator Wilayah PKH, Taruna Siaga
Bencana, Sakti Peksos, dan Tenaga Pelopor Perdamaian. Hadirnya unsur camat
dan lurah sekabupaten Kediri. Terlihat juga hadir pimpinan wilayah dan
pimpinan cabang BNI serta perwakilan dan Bank Indonesia.


Acara berlangsung santai, hangat, dan tak berjarak. Saat Qosasi
menyampaikan paparan dan pertanyaan, hadirin berebut menjawab.


"Coba sebutkan apa kepanjangan dari BPK dan apa fungsinya," tanya Qosasi
sambil berjalan ke tengah-tengah pendopo seraya menyapa beberapa Penerima
dan Pendamping PKH.


Pada sesi berikutnya, giliran Sarmuji melempar pertanyaan tentang tujuan
negara dalam UUD 1945. Kali ini seorang Pendamping PKH yang berhasil
menjawab. Hadirinpun bertepuk tangan meriah saat Sarmuji menyerahkan hadiah
laptop.


"Suasana yang sedekat ini penting kita bangun dengan masyarakat.
Sosialisasi program dan kemajuan yg dicapai dengan cara yang ringan
sehingga mereka mampu memahami. Mudah-mudahan mereka makin termotivasi
untuk mandiri," kata Dirjen.


Dalam acara tersebut diserahkan juga Sertifikat Graduasi bagi tiga KPM
Sejahtera Mandiri dan lima anak berpretasi diberbagai bidang.


n

Kirim email ke