tempo hari (1-2 th lalu) dikatakan oleh bapak presiden angka kemiskinan naik 
karena belum bagi raskin sudah di survey duluan, kali ini mungkin koordinasinya 
lebih tepat. he he he 

 kutipan:
 "Capaian ini menurut BPS disebabkan antara lain bansos tunai meningkat 87,6 
persen. Jumlah penerima PKH tahun 2017 sebanyak 6 juta Keluarga Penerima 
Manfaat (KPM) dan meningkat hingga 10 juta KPM tahun 2018. Pada tahap I bulan 
Februari dan tahap II bulan Mei telah disalurkan tepat waktu sebanyak 97%. 
Begitu juga penyaluran program beras sejahtera (Rastra) dan Bantuan Pangan 
Nontunai (BPNT) pada kuartal I 2018 sekitar 95% telah dilaksanakan sesuai 
jadwal," terang Dirjen.


---In [email protected], <ilmesengero@...> wrote :

 
 
 Berbicara tentang angka kemiskinan menurun pada masa mendekati Pemilihan Umum 
tidak lain dari memberi gambaran indah kampanye Pemilihan Umum pihak berkuasa. 
Kalau angka jumlah penduduk miskin menurun sepatutnya disertai dengan 
menurunnya angka pengangguran, jadi bukan karena penduduk miskin diberi 
tunjangan. Patut dicatat bahwa di NKRI yang dikuasai oleh rezim neo-Mojopahit, 
orang dikatakan tidak menganggur kalau ia bekerja 1 jam dalam semiggu. Apakah 
mereka yang bekerja 1 jam seminggu itu tidak miskin?Tentunya kalau pemilik 
modal besar yang bisa bekerja 1 jam seminggu keluarganya tidak hidup senin 
kemis. 
 
 
 
 
 
https://kumparan.com/direktorat-jenderal-perlindungan-dan-jaminan-sosial/dialog-nasional-pkh-indonesia-maju-jumlah-penduduk-miskin-turun-1-8-juta-jiwa-27431110790548890?ref=rel
 
https://kumparan.com/direktorat-jenderal-perlindungan-dan-jaminan-sosial/dialog-nasional-pkh-indonesia-maju-jumlah-penduduk-miskin-turun-1-8-juta-jiwa-27431110790548890?ref=rel
 
 
 
 
 USER STORY 
 Dialog Nasional PKH Indonesia Maju: Jumlah Penduduk Miskin Turun 1,8 juta Jiwa 
Dialog Nasional PKH Indonesia Maju: Jumlah Penduduk Miskin Turun 1,8 juta Jiwa 
Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kamis 19 Juli 2018 - 04:47
 

 
 
 Kediri (19 Juli 2018) - Jumlah penduduk miskin di Indonesia turun 1,8 juta 
jiwa dalam kurun waktu Maret 2017 hingga Maret 2018. 
 
 
 Hal ini mengemuka dalam Dialog Nasional PKH Indonesia Maju yang berlangsung di 
Pendopo Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, Rabu (18/7). Dialog ini 
menghadirkan narasumber Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial 
(Linjamsos) Kementerian Sosial RI Harry Hikmat, Anggota III Badan Pemeriksa 
Keuangan (BPK) RI Achsanul Qosasi, Anggota VI BPK RI Harry Azhar Azis, Anggota 
Komisi XI DPR RI Muhammad Sarmuji. 
 
 
 Dirjen Linjamsos menjelaskan pada September 2017 Badan Pusat Statistik (BPS) 
merilis jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per 
bulan di bawah garis kemiskinan) di Indonesia mencapai 26,58 juta orang (10,12 
persen), berkurang sebesar 1,19 juta orang dibandingkan dengan kondisi Maret 
2017 yang sebesar 27,77 juta orang (10,64 persen).
 
 
 Kemudian, lanjutnya, BPS kembali merilis jumlah penduduk miskin di Indonesia 
berkurang sekitar 630 ribu orang menjadi 25,95 juta orang pada Maret 2018. 
 
 
 "Capaian ini menurut BPS disebabkan antara lain bansos tunai meningkat 87,6 
persen. Jumlah penerima PKH tahun 2017 sebanyak 6 juta Keluarga Penerima 
Manfaat (KPM) dan meningkat hingga 10 juta KPM tahun 2018. Pada tahap I bulan 
Februari dan tahap II bulan Mei telah disalurkan tepat waktu sebanyak 97%. 
Begitu juga penyaluran program beras sejahtera (Rastra) dan Bantuan Pangan 
Nontunai (BPNT) pada kuartal I 2018 sekitar 95% telah dilaksanakan sesuai 
jadwal," terang Dirjen.
 
 
 Untuk itu, lanjutnya, ia meminta kepada SDM PKH yang bertugas di lapangan 
memastikan program pengentasan kemiskinan yang telah berjalan sejak tahun 2007 
ini berjalan dengan baik dan efektif. 
 
 
 "Saya minta langkah Pendamping PKH harus ada target. Pastikan kegiatan 
Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) atau Family Development Session 
(FDS) berlangsung paling sedikit 1 minggu sekali secara efektif, pastikan 
bansos yang diterima dimanfaatkan untuk pemenuhan gizi keluarga, biaya 
kebutuhan pendidikan anak-anak, dan tambahan modal usaha ekonomi produktif dan 
biaya perawatan lanjut usia dan disabilitas berat yang tinggal bersama KPM PKH. 
Indeks bansos PKH 1,89 juta per tahun memang tidak besar hanya menambah 8% dari 
pengeluaran konsumsi perkapita. Idealnya antara 25 sampai dengan 40%", paparnya.
 
 
 Selain itu, lanjutnya Pendamping PKH juga harus memastikan penerima PKH 
mendapat Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Bantuan 
Pangan Non Tunai (BPNT) atau Beras Sejahtera (Rastra), sertifikat tanah secara 
gratis, mendapatkan bantuan pemberdayaan ekonomi (KUBE, KUR, KUT, dll), 
rumahnya dipugar agar layak huni, bayar listrik bersubsidi dan mendapatkan LPG 
3 kg. Penyaluran bansos secara terintegrasi inilah sebenarnya faktor kunci yang 
mempunyai daya ungkit meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 
 
 
 "Bila satu keluarga sudah mendapatkan beragam bansos, subsidi pemerintah dan 
diberdayakan secara ekonomi produktif, nanti akan bisa kita lihat hasilnya 
dalam tiga sampai lima tahun. Indikator keberhasilannya adalah terjadi 
perubahan sikap dan perilaku KPM PKH yang akan mengarah pada kemandirian dan 
adanya peningkatan produktivitas secara ekonomi," katanya. 
 
 
 Jadi, lanjutnya, tidak benar kalau ada anggapan bahwa penurunan angka 
kemiskinan adalah semu karena pemerintah mengandalkan bansos. Transfer ke 
masyarakat, ya pakai mata anggaran bansos, tapi ada sistem dan mekanisme yang 
dibangun dengan pendekatan dan metode pemberdayaan, perlindungan dan jaminan 
sosial. Bukti nyata silakan cek ke lapangan bagaimana Family Development 
Session dilakukan secara rutin," tandas Harry Hikmat. 
 
 
 Harry menjelaskan PKH sebanyak 10 juta KPM dengan Pendamping sebanyak 40.225 
orang, dapat dipastikan mendorong keluarga penerima manfaat PKH menjadi 
sejahtera sehingga keluar dari perangkap kemiskinan. Tahun 2017 ada 320.000 KPM 
yang telah naik kelas graduasi sejahtera mandiri. Selain itu PKH mendorong 
kreativitas keluarga dalam meningkatkan produktivitasnya. Lebih dari 80% ibu 
penerima PKH sekarang telah menjadi pelaku usaha ekonomi produktif, sehingga 
dapat mengurangi kesenjangan antar kelompok pendapatan. PKH juga Menendorong 
keluarga untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menurunkan angka gizi 
buruk dan stunting 37% serta mencegah putus sekolah lebih dari 95%.
 
 
 "Jadi PKH ini bukan sekedar
 bansos yang sifatnya karitatif seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), tapi PKH 
merupakan bansos bersyarat atau dikenal sebagai Conditional Cash Transfer (CCT) 
yang menjadi instrumen yg telah terbukti efektif meningkatkan kesejahteraan 
masyarakat di 72 negara di dunia," tegasnya.
 
 
 Dirjen optimistis program ini akan terus memberikan kontribusi positif dalam 
upaya pengentasan kemiskinan. Terlebih pada tahun 2019 akan ada penambahan 
anggaran bansos PKH, sesuai dengan arahan Bapak Presiden dalam berbagai rapat 
kabinet maupun pada saat kunjungan kerja ketika penyaluran PKH. Rencananya 
indeks bantuan sosial bagi 10 juta KPM PKH akan dinaikan signifikan dari Rp15,4 
triliun pada tahun 2018 menjadi Rp32 triliun pada tahun 2019. Untuk menajamkan 
sasaran yg akan dicapai maka bansos diberikan bervariasi sesuai dengan beban 
tanggungan keluarga. 
 
 
 
 
 Dukung PKH
 
 
 Sementara itu di tempat yang sama Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat 
Republik Indonesia (DPR RI) Sarmuji mendukung rencana kenaikan anggaran Program 
Keluarga Harapan (PKH) pada tahun 2019 menjadi Rp32 triliun dengan catatan 
disalurkan tepat sasaran dan sesuai tujuan program. 
 
 
 "Alhamdulillah sejak PKH lahir kemiskinan kita makin lama makin menurun. Ini 
adalah kontribusi yang sangat nyata. Maka DPR tidak segan-segan berapapun 
anggaran yang diminta pemerintah, DPR akan meloloskan," katanya.
 
 
 Ia mengungkapkan apa yang sudah dilakukan pemerintah dalam PKH ini sudah 
sangat baik, sehingga DPR mendukung penuh usaha pemerintah dalam upaya 
pengentasan kemiskinan. 
 
 
 Anggota Badan Legislasi DPR ini mengatakan PKH adalah program prioritas 
pemerintah yang tujuannya tercantum dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 
yakni memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. 
 
 
 "Jadi program pemerintah disesuaikan dengan tujuan dalam pembukaan UUD 1945," 
katanya. 
 
 
 Dikatakan Sarmuji, DPR mendukug PKH karena sejalan dengan 4 Target Pembangunan 
DPR yakni (1) Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Setiap rupiah harus 
berkontribusi terhadap IPM, (2) Penurunan angka kemiskinan, (3) Pengurangan 
angka pengangguran dan (4) Pengurangan kesenjangan ekonomi atau gini ratio. 
 
 
 "Inilah dasar kita mengapa PKH harus dilanjutkan. Melalui PKH kita berharap 
Indonesia semakin sejahtera," katanya. 
 
 
 Anggota III BPK RI Achsanul Kosasi mengatakan pihaknya mendukung penuh 
pelaksanaan PKH. BPK, lanjutnya, akan terus mengawal anggaran PKH agar tepat 
sasaran. 
 
 
 "Apalagi tahun depan anggarannya akan ditambah. Maka pengawasan harus semakin 
ditingkatkan," katanya. 
 
 
 Sebanyak 750 undangan menyimak dialog dari awal hingga akhir dengan penuh 
antusias. Mereka terdiri dari para penerima PKH, pendamping, operator, 
Koordinator Kabupaten/Kota PKH, Koordinator Wilayah PKH, Taruna Siaga Bencana, 
Sakti Peksos, dan Tenaga Pelopor Perdamaian. Hadirnya unsur camat dan lurah 
sekabupaten Kediri. Terlihat juga hadir pimpinan wilayah dan pimpinan cabang 
BNI serta perwakilan dan Bank Indonesia. 
 
 
 Acara berlangsung santai, hangat, dan tak berjarak. Saat Qosasi menyampaikan 
paparan dan pertanyaan, hadirin berebut menjawab.
 
 
 "Coba sebutkan apa kepanjangan dari BPK dan apa fungsinya," tanya Qosasi 
sambil berjalan ke tengah-tengah pendopo seraya menyapa beberapa Penerima dan 
Pendamping PKH. 
 
 
 Pada sesi berikutnya, giliran Sarmuji melempar pertanyaan tentang tujuan 
negara dalam UUD 1945. Kali ini seorang Pendamping PKH yang berhasil menjawab. 
Hadirinpun bertepuk tangan meriah saat Sarmuji menyerahkan hadiah laptop. 
 
 
 "Suasana yang sedekat ini penting kita bangun dengan masyarakat. Sosialisasi 
program dan kemajuan yg dicapai dengan cara yang ringan sehingga mereka mampu 
memahami. Mudah-mudahan mereka makin termotivasi untuk mandiri," kata Dirjen. 
 
 
 Dalam acara tersebut diserahkan juga Sertifikat Graduasi bagi tiga KPM 
Sejahtera Mandiri dan lima anak berpretasi diberbagai bidang. 
 
 
 n



  

Kirim email ke