Mahasiswa ITB raih emas dalam kompetisi Matematika di Bulgaria
Senin, 30 Juli 2018 10:56 WIB
Mahasiswa ITB raih emas dalam kompetisi Matematika di Bulgaria
American University of Bulgaria yang menjadi tuan rumah Kompetisi
Matematika Internasional untuk Mahasiswa (IMC) ke-24 tahun 2017 yang
juga diikuti mahasiswa Indonesia dengan sejumlah prestasi, Minggu
(6/8/2017). (aubg.edu)
Bandung (ANTARA News) - Mahasiswa Prodi Teknik Informatika, STEI-ITB,
Bimo Adityarahman Wiraputra meraih medali emas dalam ajang International
Mathematic Competition (IMC) 2018 di Bulgaria.
Direktorat Humas dan Publikasi ITB, dalam siaran persnya, menyatakan
dalam kompetisi yang berlangsung sejak 22-28 Juli 2018 di Kota
Blagoevrad itu, Bimo berhasil mendapatkan medali emas atau first prize
setelah ia bersaing dengan 351 peserta lain dari berbagai negara di
dunia, termasuk bersaing dengan sembilan delegasi lain dari Indonesia.
Bimo mengaku tak menyangka dapat meraih medali emas di kompetisi
tersebut. Ia bersyukur karena bisa membawa nama harum ITB di dunia
internasional.
Medali tersebut ia persembahkan kepada almamater tercinta, orangtua,
teman-teman satu tim dan pembimbing. "Pastinya senang dan bersyukur bisa
meraih juara, ini suatu kebanggaan tersendiri," kata Bimo.
Ia menyatakan, tak ada persiapan khusus untuk ikut kompetisi tersebut,
hanya saja dengan pembimbing dan rekan-rekan tim dia sering mengerjakan
soal bersama.
Di rumah ia pun sering membaca kembali buku-buku dan topik yang
sekiranya bakal diujikan dalam tes.
Ia mengakui soal-soal yang diujikan di IMC memang lebih sulit levelnya
bila dibanding olimpiade. "Selama ikut lomba, ada beberapa soal yang
diujikan, mulai dari tingkatan mudah, sedang dan sulit, semuanya bisa
dilewati dengan baik," ujarnya.
Bimo yang sangat menyukai analisis riil dan kombinatorika dalam
matematika itu melanjutkan, setelah meraih medali emas ia akan lebih
fokus mendalami dunia informatika sesuai dengan program studinya saat ini.
Pengalaman ikut IMC dan Olimpiade FMIPA menjadi bekal baginya untuk
belajar lebih giat lagi. "Tentunya banyak pengalaman berharga telah
didapat dari sana," ucap Bimo yang juga pernah ikut olimpiade saat SMP
dan SMA.
Dosen muda Kelompok Keahlian Aljabar, Prodi Matemika FMIPA-ITB, Afif
Humam, MSi mengatakan, prestasi tersebut merupakan kedua kalinya setelah
sebelumnya pada 2015 mahasiswa ITB Muhammad Al-Kahfi juga mendapatkan
first prize di ajang yang sama.
"Cukup bahagia sekali akhirnya kita bisa dapat first prize lagi. Untuk
tahun lalu kita dapat second prize dan third prize. Jadi tahun ini kita
malah berhasil meloloskan 4 orang itu sebuah prestasi juga dari
kontingen tim Indonesia," katanya.
Afif Humam sendiri merupakan pembimbing Bimo dkk di ajang tersebut.
Selain Bimo, ada tiga mahasiswa ITB lainnya dari Prodi Matematika yang
mengikuti IMC 2018. Mereka adalah Hopein Cristofen Tang yang meraih
Third Prize, Laurence Petrus Wijaya meraih Honorable Mention, dan
Mochammad Zulfikar Aditya juga meraih Honorable Mention.
Mereka yang mengikuti IMC 2018 sebelumnya telah melalui seleksi terlebih
dahulu.
Peserta seleksi merupakan 20 mahasiswa jebolan Olimpiade Nasional MIPA
pada Mei 2018 lalu yang mendapatkan medali dan "honorable mention".
Perwakilan ITB paling banyak ikut seleksi dengan enam mahasiswa.
Selanjutnya ke-20 peserta itu disaring sampai mengerucut menjadi 9 orang
yang berhak ikut IMC.
Afif mengatakan selama proses bimbingan, Bimo dkk lebih banyak belajar
soal-soal sendiri. Sebab mereka sudah diberikan bimbingan maksimal
ketika ON MIPA beberapa bulan lalu yang waktunya tak begitu jauh dengan
IMC 2018.
"Pembekalan yang saya lakukan lebih banyak di persiapan Olimpiade MIPA
kemarin. Saya jelaskan dari ON MIPA tingkatan levelnya berbeda. Saya
berikan contoh-contoh soal, selebihnya mereka belajar sendiri kemarin
beberapa orang saya pinjamkan berkas atau buku buku untuk dipelajari,"
katanya.
Dia mengatakan, ITB bisa dibilang punya kelebihan ketika ikut kompetisi
seperti ON MIPA atau IMC. Lantaran soal-soal yang ada di ujian mata
kuliah sudah hampir setingkat dengan ON MIPA.
"Memang secara pelatihan sebagai pembina di sini tidak begitu banyak
ngasih materi. Karena sudah ada materi kuliah sendiri, kami hanya
membantu memberikan latihan untuk mereka kerjakan sendiri, jadi lebih
dominan ini hasil belajar mereka sendiri," katanya.
*Baca juga:Indonesia pertahankan tradisi emas di kompetisi matematika
internasional
<https://www.antaranews.com/berita/730998/indonesia-pertahankan-tradisi-emas-di-kompetisi-matematika-internasional>
Baca juga:Indonesia raih medali emas kompetisi matematika dunia
<https://www.antaranews.com/berita/645378/indonesia-raih-medali-emas-kompetisi-matematika-dunia>*
Pewarta:Ajat Sudrajat
Editor: AA Ariwibowo
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com