Sosialisme Bangkrut?
30 Juli 2018   
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
IlustrasiKoran Sulindo – Berbicara tentang sosialisme, acap kita dengar orang 
berkata: sosialisme hanya baik sebagai ide atau teori, tapi praktiknya sudah 
dibuktikan gagal. Saya pernah dengar orang “kiri” bahkan komunis mengatakan 
sosialisme itu hanya sebuah utopia. Sebagian lagi malah bilang sosialisme sudah 
bangkrut! Uni Soviet pun ditunjuk sebagai bukti, seolah-olah yang runtuh di 
sana adalah sosialisme.Restorasi kapitalisme di Tiongkok yang masih terus 
diselubungi dengan kedok “sosialisme dengan ciri Tiongkok” membuat orang 
cenderung percaya adanya jalan ketiga antara sosialisme dan kapitalisme melalui 
perkawinan 2 sistem ekonomi, sosial dan politik yang sebetulnya secara hakikat 
sepenuhnya bertentangan.Juga semakin absurd dan ngawur pendapat yang melihat 
kediktaturan proletariat sebagai sebab keruntuhan Uni Soviet dan dianggap telah 
melahirkan revisionisme. Mereka yang anti-komunis memandang kediktaturan 
proletariat sebagai kekuasaan mutlak tak terbatas dari orang yang memegang 
kekuasaan. Mereka melihat kediktaturan proletar sebagai masalah perorangan dan 
watak manusia.Melalui kediktaturan proletariat orang itu merealisasi “keinginan 
pribadinya” dan “kekuasaan mutlak” membuatnya “mabuk kekuasaan”! Tentu saja 
orang dimaksud adalah Stalin! Walau media borjuis dan kaum Trotskis tak bisa 
membantah penemuan fakta-fakta baru yang diajukan banyak penulis sejarah Uni 
Soviet yang telah dipalsukan oleh klik revisionis, namun lagu usang “Stalin 
diktator, kejam dan haus kekuasaan” terus mereka sebarkan dan 
pertahankan.Mereka memang tidak berkepentingan untuk menemukan kebenaran. 
Paradigma sejarah Soviet periode pemerintahan Stalin tidak bisa tidak harus 
negatif dan hitam. Kalau tidak membusukkan Stalin, tidak sah! Orang yang 
menolak pandangan anti-komunis ini langsung dicap Stalinis!Salah satu pelajaran 
yang disimpulkan Marx dari kekalahan Komune Paris adalah kekuasaan proletar 
tidak dapat berfungsi dengan menggunakan mesin birokrasi dan militer negara 
borjuis. Diperlukan kediktatoran proletariat untuk menghancurkan mesin 
kekuasaan borjuis dan mengatasi perlawanan sekaratnya.Lenin menjelaskan bahwa 
kediktatoran proletariat adalah perjuangan yang konsisten melawan kekuatan dan 
tradisi masyarakat lama di bidang militer, ekonomi, pendidikan dan 
administratif, berdarah atau tak berdarah, tanpa atau dengan kekerasan.Kita 
akan mengerti keharusan mutlak dari kediktaturan proletariat kalau kita 
mengakui bahwa masyarakat yang melahirkan sosialisme adalah masyarakat berkelas 
yang berdasarkan pada pengisapan dan penindasan. Sosialisme tidak jatuh dari 
langit! Sosialisme adalah satu-satunya sistem ekonomi, politik dan sosial yang 
bertujuan melenyapkan penindasan dan pengisapan manusia atas manusia.Dalam 
Kritik Kepada Program Gotha, Karl Marx menjelaskan bahwa masyarakat komunis 
lahir dari ‘rahim’ masyarakat kapitalis sehingga ‘tanda-tanda’ lahirnya itu 
terbawa dalam semua hal, ekonomi, moral dan intelektual.Sedangkan Lenin 
menegaskan bahwa kelas pengisap, tuan tanah dan kaum kapitalis tidak bisa 
lenyap sekaligus di bawah kediktaturan proletariat. Mereka masih punya basis 
dalam bentuk kapital internasional. Sejarah menunjukkan kaum kapitalis besar 
dan tuan tanah besar yang alat produksi dan kekayaannya disita serta semua hak 
istimewanya lenyap tidak menyerah dan bersedia menerima begitu saja tindakan 
rakyat yang selama berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun ditindas dan diisap. 
Dengan sekuat tenaga dan segala macam cara mereka akan melawan. Karena itu, 
dibutuhkan kediktaturan proletariat untuk menundukkan perlawanan sengit 
itu.Kelas buruh dan rakyat pekerja Rusia harus mempertahankan kemenangan 
Revolusi Oktober 1917 dihadapan serangan sekarat Tentara Putih yang mewakili 
kepentingan kerajaan Tsar, tuan tanah dan kaum kapitalis besar yang didukung 
koalisi imperialis serta antek-anteknya. Kekuasaan proletariat dan kaum tani 
berhasil menang tapi ekonomi Rusia hancur luluh dan rakyat mati kelaparan. 
Media Barat selalu menggambarkan korban perang sipil dan kelaparan itu sebagai 
hasil “kekejaman” rezim komunis.Kontradiksi dan Perjuangan Kelas
Kemenangan Revolusi Oktober Sosialis 1917 membuktikan kebenaran tesis Lenin 
yang menegaskan bahwa perkembangan kapitalisme tidak merata dalam zaman 
kapitalisme monopoli atau imperialisme, memungkinkan rakyat pekerja di negeri 
yang terbelakang untuk menghancurkan mata rantai imperialisme yang terlemah. 
Kelas buruh yang jumlahnya kecil menemukan mayoritas kaum tani sebagai 
sekutunya yang terpercaya. Namun kenyataan objektif ini juga membuat proses 
pembangunan sosialisme menjadi jauh lebih rumit dari pada pembangunan 
sosialisme di sebuah negeri kapitalis yang sudah menghancurkan feodalisme.
Ketika Uni Soviet mulai membangun sosialisme, terdapat berbagai bentuk ekonomi, 
dari embrio sosialisme sampai bentuk ekonomi abad menengah. Untuk keluar dari 
krisis ekonomi yang disebabkan oleh perang sipil, diambil New Economic Policy 
(NEP) yang mengizinkan kapitalisme untuk sementara. Perlu ditekankan, langkah 
mundur strategis ini hanya “untuk sementara”. Kaum revisionis modern 
menggunakan NEP untuk membenarkan restorasi kapitalisme Deng Xiaoping yang 
menghasilkan kapitalisme dan sosial-imperialisme. Artinya di mulut sosialisme, 
tapi imperialisme dalam praktik.Lenin memandang kaum tani sebagai sekutu kelas 
proletariat. Namun, ia juga sadar bahwa produksi kecil tiap hari, tiap jam, 
secara spontan, dan dalam skala massal melahirkan kapitalisme dan borjuasi. 
Demikian juga ideologi, adat kebiasaan, mentalitas dari puluhan juta orang 
merupakan kekuatan paling dahsyat dan buruk. Lenin menganggap seribu kali lebih 
mudah menaklukkan kaum borjuasi besar yang terkonsentrasi dari pada 
“menundukkan” berjuta-juta kaum pemilik kecil. Melalui kegiatan sehari-hari 
yang tak kelihatan dan sulit ditangkap, tapi menghilangkan semangat, mereka 
mencapai hasil yang dibutuhkan kaum borjuasi dan cenderung merestorasi 
kedudukan kaum borjuasi.Sementara itu, buruh juga tidak otomatis mempunyai 
kesadaran kelas proletar. Kesadaran itu hanya bisa didapat melalui praktik 
perjuangan kelas dan pendidikan teori yang membimbing perjuangannya. Karena 
kaum buruh juga berasal dari kaum tani. Secara relatif pendidikan dan 
pengorganisasian kaum buruh jauh lebih mudah ketimbang kaum tani karena kondisi 
kerja yang terpusat dan telah sedikit banyak memupuk perasaan kolektif dan 
disiplin.Dari mana datangnya anggota partai komunis yang merupakan detasemen 
buruh yang termaju? Dari ruang angkasa? Bukankah dari masyarakat di mana partai 
itu hidup dan berfungsi? Semua kontradiksi, ideologi, adat kebiasaan serta 
nilai-nilai moral yang diwarisi dari masyarakat lama akan terus hidup 
berdampingan, dalam satu periode sejarah panjang, dengan mentalitas, 
nilai-nilai moral, pandangan dunia dan hidup baru yang dilahirkan oleh proses 
pembangunan sosialisme. Karena itu, wajar perjuangan antara pikiran dan ide 
yang tepat dengan yang salah sebagai pencerminan perjuangan kelas dalam 
masyarakat akan terus hidup dalam partai komunis.Banyak kita dapatkan contoh 
perjuangan 2 garis dalam Partai Komunis Uni Soviet. Ketika Lenin mengajukan 
usul melancarkan pemberontakan, mayoritas anggota pimpinan setuju, namun 
Kamenev dan Zinoviev menolak. Lenin minta agar Kamenev dan Zinoviev dipecat 
dari partai. Mayoritas tidak setuju. Penandatanganan Persetujuan Brest-Litovsk 
dengan Jerman 1918, terulur panjang karena Lenin dan Stalin menghadapi 
tentangan Trotsky, Bukharin dan kawan-kawannya.Dalam masalah “Peran dan Tugas 
Serikat Buruh Periode Transisi 1920/21”, pendapat Lenin bertentangan dengan 
Trotksy dan Bukharin. Lenin menganggap pendapat Trotsky menempatkan serikat 
buruh sebagai embel-embel negara. Padahal dalam sebuah negara sosialis, di 
samping merupakan sekolah administrasi, manajemen ekonomi dan sekolah komunis, 
serikat buruh harus tetap menjadi alat perjuangan kaum buruh untuk membela 
kepentinganya di hadapan negara yang menurut Lenin, masih dililit kuat oleh 
birokrasi.Bahkan keputusan Kongres Partai X, Maret 1921, yang melarang kegiatan 
faksional, masih terus dilanggar oleh Trotsky, Bukharin, Zinoviev, Kamenev dan 
kawan-kawannya. Ketika Lenin mengusulkan NEP, Trotsky serta grup “kiri” menolak 
dan menuduh Lenin mengkhianati sosialisme.Berbagai macam sabotase ekonomi, 
tindakan teroris termasuk pembunuhan terhadap kader penting partai, dan 
penangkapan pendukung sosialisme, digunakan oleh kekuatan anti-sosialis untuk 
mendiskreditkan partai dan menumbangkan pemerintah. Kegagalan telah menyadarkan 
mereka, tidak mungkin menggulingkan pemerintah dari dalam. Faksi pimpinan 
Trotsky, meskipun ia sendiri tidak tinggal di Uni Soviet, pimpinan Zinoviev, 
Bukharin, faksi militer pimpinan Tukhachevsky dan faksi-faksi lainnya akhirnya 
berkomplot dengan kekuatan fasis Jerman. Mereka mengharapkan serangan militer 
Jerman dan mengkombinasikannya dengan pemberontakan di dalam negeri untuk 
menggulingkan pemerintahan Bolshevik dan merestorasi kapitalisme.Komplotan 
berhasil dibongkar dan para pelakunya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya 
di Pengadilan Moskow periode 1936 hingga 1938. Itulah yang dicap “pengadilan 
sandiwara” oleh kaum imperialis, revisionis modern, dan Trotskis. Stalin sadar 
akan bahaya dari kaum birokrat di dalam partai. Dalam pidato di Kongres Liga 
Pemuda Komunis Leninis VIII pada 16 Mei 1928, Stalin menunjuk birokrat komunis 
sebagai jenis birokrat paling berbahaya. Mengapa? Karena mereka menutupi 
birokrasinya dengan kartu anggota partai.Stalin berusaha menggempur kaum 
birokrat komunis. Dalam merancang konstitusi baru pada 1936, Stalin berusaha 
mempertahankan pasal-pasal yang ia usulkan tentang pemungutan suara universal, 
sama derajat, langsung, rahasia dan melalui kompetisi. Tidak hanya partai yang 
dapat mengajukan calon, tapi juga berbagai grup dan organisasi warga yang 
dibentuk berdasarkan tempat tinggal, afiliasi, agama, tempat kerja dan 
sebagainya. Sistem ini akan menjadi cambuk di tangan penduduk melawan 
badan-badan pemerintahan yang kerjanya buruk. Tapi mayoritas Komite Sentral 
menolak.Di sinilah kalau mau bicara tentang kesalahan dan kelemahan Stalin. Ia 
sadar akan perjuangan ideologi yang sudah berlangsung sejak 1917. Namun tidak 
mampu merumuskan sebuah teori yang menjelaskan bagaimana melancarkan perjuangan 
2 garis dalam partai. Stalin tidak melihat bentuk-bentuk mobilisasi massa buruh 
dan tani untuk melawan kaum birokrat borjuis baru yang bersarang di dalam 
partai. Stalin hanya memusatkan perhatiannya kepada kegiatan spionase dan 
konspirasi faksi-faksi penentang partai.Kediktatoran Proletariat, Sumber 
Revisionisme?

Mereka yang menentang dan menyalahkan kediktatoran proletariat, sebenarnya, 
pertama, tidak mengerti arti dan fungsinya. Dengan angkuh mengajukan pengertian 
diktator proletariat pribadinya sebagai “pengembangan” prinsip diktator 
proletariat Marxis-Leninis. Siapa yang mempertahankan arti dan fungsi 
kediktatoran proletariat Marxis-Leninis kontan dicap dogmatis!Kedua, di dunia 
modern sekarang ini hanya ada 2 macam kediktatoran: proletar atau borjuis. 
Bentuk tiap-tiap kediktatoran itu bisa berbeda, namun hakikat kelasnya sama. 
Bentuk kediktatoran borjuis di negeri setengah jajahan setengah feodal berbeda 
dengan kediktatoran borjuis di negeri kapitalis dan imperialis. Begitu juga 
kediktatoran proletariat pada tahap revolusi borjuis demokratis berbeda dengan 
kediktatoran proletariat pada tahap sosialis. Mereka yang menolak kedikatoran 
proletariat sebenarnya, secara sadar atau tidak, ingin mengabadikan 
kediktatoran borjuis.Ketiga, penentang kediktatoran proletariat tidak mengakui 
kenyataan bahwa ideologi, adat kebiasaan, mentalitas, dan nilai-nilai moral 
yang diwarisi dari masyarakat lama merupakan tanah subur untuk timbulnya 
berbagai macam aliran pikiran borjuis, termasuk revisionisme modern, yang tidak 
saja menghambat pembangunan sosialis, tapi bahkan membalikkannya menjadi 
kapitalis. Artinya, sebab dan dasar material dari revisionisme dan restorasi 
kapitalisme sudah ada secara objektif dan sama sekali terlepas dari keinginan 
subjektif siapapun.Revisionisme atau oportunisme kanan adalah sebuah aliran 
pikiran borjuis yang, menurut Mao Zedong, lebih berbahaya dibanding dogmatisme. 
Pendapat Mao ini dibuktikan dalam praktik. Sosialisme dilikuidasi di Uni Soviet 
dan juga Tiongkok oleh revisionisme yang dikenal dengan antara lain, teori 
koeksistensi secara damai (dengan kaum imperialis), negara dan partai seluruh 
rakyat, menolak mengakui masih adanya perjuangan kelas dalam tahap sosialisme, 
peralihan ke sosialisme secara damai.Semua partai komunis di negeri yang belum 
menang, yang menerapkan atau melakukan kesalahan revisionis juga telah terbukti 
gagal dalam memimpin perjuangan pembebasan rakyat negerinya. Di negeri-negeri 
itu tidak ada kediktaturan proletariat, tapi tak tertutup kemungkinan 
revisionisme menjadi panduan partai komunisnya, semisal, partai-partai penganut 
Euro-komunisme.Lenin meninggalkan Internasionale II, juga karena mayoritas 
Partai Sosial Demokrat menjadi revisionis karena bersatu dengan kaum borjuasi 
negeri masing-masing mendukung Perang Dunia I. Terbukti dengan jelas, 
revisionisme lahir tanpa adanya kediktaturan proletariat.Runtuhnya Kapitalisme 
Birokratik di Uni Soviet
Dengan pidato rahasia Khrushchov di Kongres Partai Komunis Uni Soviet XX pada 
1956, dimulai sebuah tahap sejarah yang bertolak belakang dengan tahap 
sebelumnya. Penerapan norma-norma kapitalisme seperti laba sebagai unsur 
regulasi produksi, reformasi dalam harga yang semakin mencerminkan nilai (yaitu 
biaya produksi dan laba rata-rata), penerapan rangsang material yang semakin 
luas, dan kebebasan semakin besar dalam pengelolaan perusahaan yang memproduksi 
untuk pasar demi mencapai laba, telah semakin melemahkan basis ekonomi sosialis 
Soviet.Berkuasanya klik revisionis-borjuis birokrat dalam partai dan negara 
serta perombakan basis ekonomi telah mengubah watak kelas kekuasaan politik 
serta semua mesin dan lembaga negara di Uni Soviet. Dalam internal PKUS juga 
terjadi perubahan besar. Sekitar 30% dari pimpinan pusat, 45% di tingkat 
menengah dan 40% di tingkat basis diganti. Kader-kader yang berasal dari kelas 
buruh disingkirkan dan diganti dengan elemen-elemen berpendidikan tinggi dan 
universitas. Perusahaan negara menjadi sapi perahan kaum kapitalis birokrat 
yang juga anggota PKUS. Keruntuhan Uni Soviet pada 1991 membuktikan 
kebangkrutan revisionisme modern. Yang runtuh bukan sosialisme, melainkan 
kapitalisme birokratik.Kapitalisme dihancurkan oleh kontradiksi-kontradiksi 
yang memang terkandung dalam sistem itu sendiri dan tak mungkin diatasi tanpa 
menghancurkannya. Sebaliknya, kontradiksi yang ada dalam sosialisme yang 
sebagian diwarisi dari masyarakat lama dan sebagian lagi dilahirkan dalam 
dinamika proses pembangunan sosialis dapat diatasi tanpa menghancurkan 
sistemnya. [Tatiana Lukman]

Kirim email ke