https://tekno.tempo.co/read/1111984/ilmuwan-hidupkan-kembali-cacing-berumur-40-000-tahun?
TeknoUtama&campaign=TeknoUtama_Click_2
Ilmuwan Hidupkan Kembali Cacing Berumur
40.000 Tahun
Reporter:
Tempo.co
Editor:
Erwin Prima
Senin, 30 Juli 2018 17:23 WIB
0 komentar
<https://tekno.tempo.co/read/1111984/ilmuwan-hidupkan-kembali-cacing-berumur-40-000-tahun?TeknoUtama&campaign=TeknoUtama_Click_2#comments>
000
#
#
#
#
Para ilmuwan berhasil menghidupkan kembali cacing yang membeku di
permafrost Siberia selama 42.000 tahun. Kredit: K-State Research and
Extension/CC BY 2.0
<https://statik.tempo.co/data/2018/07/30/id_722699/722699_720.jpg>
Para ilmuwan berhasil menghidupkan kembali cacing yang membeku di
permafrost Siberia selama 42.000 tahun. Kredit: K-State Research and
Extension/CC BY 2.0
TEMPO.CO, Moskwa - Para ilmuwan
<https://tekno.tempo.co/read/1108061/ilmuwan-penerima-bj-habibie-award-ramah-lingkungan-itu-sehat>
asal Rusia berhasil menemukan cara menghidupkan kembali cacing yang
membeku selama 40 ribu tahun di daratan Sirebia. Tanah dengan titik beku
di Sirebia memang terkenal dengan kemampuannya untuk melestarikan alam
lewat pembekuan sisa-sisa kehidupan dari zaman Pleitosen jutaan tahun lalu.
Baca: Ilmuwan Penerima BJ Habibie Award: Ramah Lingkungan itu Sehat
<https://tekno.tempo.co/read/1108061/ilmuwan-penerima-bj-habibie-award-ramah-lingkungan-itu-sehat>
Baca: Ilmuwan MIT Ungkap Keberadaan Gunung Berlian, Ini Lokasinya
<https://tekno.tempo.co/read/1108043/ilmuwan-mit-ungkap-keberadaan-gunung-berlian-ini-lokasinya>
Dua cacing, yang berjenis kelamin betina, dibekukan secara alami lewat
di dalam lapisan pemafrost tersebut, yang membuatnya menjadi makhluk
hidup tertua di planet ini. Selain itu, cacing tersebut juga menjadi
organisme multiseluler pertama yang bertahan dari proses cryobiosis yang
sangat lama.
Para ilmuwan menemukan kedua cacing berusia 40.000 tahun setelah
mengambil dan menganalisa lebih dari 300 sampel dari tanah permafrost.
Salah satu cacing dengan panjang 30 meter ditemukan di liang tupai di
daerah Duvanny Yar. Cacing tersebut diperkirakan telah berumur 32 ribu
tahun. Cacing yang kedua, dengan panjang kira-kira 11 meter, didapat
dekat sungai Alazeya yang disebut berumur sekitar 41,700 tahun.
Kedua cacing tersebut di tempatkan di penyimpanan dingin pada suhu minus
20 derajat Celsius. Setelah beradaptasi selama beberapa minggu, suhu
dinaikkan menjadi 20 derajat Celsius sampai dipastikan dapat bergerak
kembali. Cacing tersebut memakan bakteri E. coli sebagai sumber asupan.
“Data kami menunjukkan adanya kemampuan organisme multiseluler untuk
bertahan dalam jangka waktu yang panjang (puluhan ribu tahun) di bawah
kondisi pengawetan alami,” kata peneliti dalam sebuah pernyataan.
“Kemampuan ini memperlihatkan nematodea pleistosen mempunyai mekanisme
beradaptasi yang mungkin dapat digunakan sebagai penelitian ilmiah dan
praktis dalam bidang sains cryomedicine, cryobiology, dan astrobiology.”
Proses pengawetan cryobiosis telah dipelajari dan digunakan pada
organisme dengan sel tunggal seperti bakteri dan amoeba, juga beberapa
tanaman yang tetap hidup setelah dibekukan bertahun-tahun. Namun, bagi
organisme multiseluler, cacing ini merupakan yang pertama yang dapat
bertahan hidup.
Meskipun begitu, cacing adalah makhluk yang sangat sederhana. Proses ini
tidak dapat dilakukan pada manusia ataupun hewan besar. Penemuan terbaik
yang pernah diraih dalam penghidupan kembali makhluk Pleistosen adalah
mencampur cloning dan perkawinan silang ala Jurassic Park pada mamut.
Simak artikel lainnya tentang ilmuwan <https://www.tempo.co/tag/ilmuwan>
di kanal Tekno Tempo.co.
NEW ATLAS | GIZMODO | FARAH DIBAJ