Sebut Politik Identitas Salah Kaprah, JK Singgung soal Ahok
POLITIK <https://www.jawapos.com/nasional/politik>
02/08/2018, 16:20 WIB|Editor: Imam Solehudin
Jusuf Kalla
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut apa yang terjadi di Pilgub DKI
Jakarta bukanlah Politik Identitas. (Dok.JawaPos)
Share this image
*JawaPos.com*- Pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta telah lama usai. Namun,
momentum tersebut tentu membekas hampir di seluruh kalangan masyarakat.
Pilkada DKI Jakarta menimbulkan banyak kontroversi dan memunculkan isu
suku, ras dan agama (SARA) yang tidak hanya terjadi di Jakarta. Hanya
saja banyak yang salah kaprah terkait apa yang terjadi di Pilkada Ibukota
Hal tersebut diungkapkan Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika menjadi
pembicaara dalam Bussines Launch. JK menyebut politik identitas kerap
kali diartikan sebagai politik yang mengedepankan relasi emosional,
seraya merendahkan pertimbangan rasional.
"Jadinya pilihan yang diambil lebih karena bersifat dorongan primordial
yang kurang mengedepankan pertimbangan kemanfaatan umum," ujar JK di
Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (2/8).
JK menilai politik identitas terjadi hampir di semua negara. Sementara
apa yang terjadi pada Pilkada DKI Jakarta, dianggap banyak yang salah
kaprah.
Menurutnya, yang dialami oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, bukan
politik identitas. Sebab, masih banyak pemilih mantan Bupati Belitung
juga banyak berasal dari kalangan muslim.
"Politik identitas ada di semua negara demokrasi. Banyak orang salah
kaprah Pilkada DKI Jakarta itu ada suatu perpecahan, ada politik
identitas yang besar. Padahal kalau dilihat, non Islam itu 23 persen,
kalau memilih Ahok itu 41 persen, jadi banyak pemilih islam," ujarnya
Dia mencontohkan di negara lain seperti Amerika, butuh waktu 175 tahun
untuk bisa dipimpin oleh Presiden beragama katolik. Sebelum itu,
pemimpin Negeri Paman Sam ini begitu kental dengan agama Protestan.
Dia menegaskan, hal itu menandakan bahwa politik identitas tidak hanya
terjadi di Indonesia saja melainkan juga negara lain. Sehingga,
masyarakat tidak perlu salah kaprah atas paradigma politik di Tanah Air.
"Contoh sederhana, Amerika karena mayoritas protestan, presiden katolik
pertama 175 tahun. Butuh 240 tahun bagi Amerika untuk orang hitam jadi
presiden. Jadi itu terjadi dimana-mana," tandasnya.
*(hap/JPC)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com