*Erdogan Sebut AS Bermental Zionis*
*CNN Indonesia*, CNN Indonesia | Jumat, 03/08/2018 07:25 WIB
Bagikan :
Erdogan Sebut AS Bermental ZionisJuru bicara Gedung Putih Sarah Sanders.
(Reuters/Leah Millis)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut
Amerika Serikat bermental Zionis karena mengancam akan menjatuhkan saksi
besar jika Ankara tidak membebaskan pastornya. Departemen Keuangan
Amerika Serikat memberikan sanksi Menteri Kehakiman dan Menteri Dalam
Negeri Turki sebagai respons atas penahanan pendeta Amerika, Andrew
Brunson, Rabu (1/8).
Departemen Keuangan mengumumkan bahwa Amerika Serikat memberikan sanksi
kepada dua pejabat Turki, Menteri Kehakiman, Abdulhamit Gul dan Menteri
Dalam Negeri, Suleyman Soylu, atas peran mereka dalam penangkapan dan
penahanan Brunson.
"Kami tidak akan pernah menerima bahasa ancaman dan tekanan Amerika
Serikat yang bermental zionis," kata Erdogan seperti dilansir media
Iran,/PressTV/
<https://www.presstv.com/Detail/2018/08/01/569916/Turkey-Erdogan-pastor-Brunson-US-Zionist-mentality>.
Amerika Serikat terus mendesak Turki untuk membebaskan Brunson. "Kami
tidak melihat bukti bahwa pastor Brunson melakukan kesalahan," kata juru
bicara Gedung Putih, Sarah Sanders, Rabu (1/8). Dia menyebut penahanan
Brunson tidak adil.
Menurut Sanders, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden
Turki, Recep Tayyip Erdogan mendiskusikan penahanan Brunson beberapa
kali. Dia menyatakan Trump telah menyatakan kepada Erdogan bahwa AS
tidak senang dengan keputusan Turki untuk menahan Brunson.
Lihat juga:
Trump Terima Surat Baru dari Kim Jong Un
<https://www.cnnindonesia.com/internasional/20180803023520-134-319115/trump-terima-surat-baru-dari-kim-jong-un/>
Di bawah sanksi tersebut, aset-aset kedua menteri Turki di bawah
yurisdiksi AS akan diblokir. Warga AS juga dilarang bertransasksi dengan
kedua menteri.
Dalam sebuah pernyataan, Departemen Keuangan AS menyebut bahwa kedua
menteri bertindak sebagai pemerintah Turki yang bertanggung jawab
menerapkan pelanggaran hak-hak asasi manusia Turki. "Mereka menjadi
target Perintah Eksekutif 13818, 'Memblokir properti orang-orang yang
terlibat pelanggaran HAM serius atau korupsi'."
"Penahanan pastor Brunson yang tidak adil dan persekusi terus-menerus
dari para pejabat Turki tidak bisa diterima," kata Menteri Keuangan AS,
Steven Munchin. "Presiden Trump jelas menyatakan bahwa Amerika
mengharapkan Turki segera membebaskannya."
Lihat juga:
AS Sanksi Dua Pejabat Turki karena Penahanan Pendeta
<https://www.cnnindonesia.com/internasional/20180802160349-134-318991/as-sanksi-dua-pejabat-turki-karena-penahanan-pendeta/>
Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu lewat akun Twitter
menyatakan bahwa "Usaha yang dilakukan AS dengan menjatuhkan sanksi
kepada dua menteri adalah sia-sia. Kita tak bisa menyelesaikan masalah
sampai pemerintah AS memahami bahwa mereka tidak bisa mendapatkan
tuntutan yang melanggar hukum dengan cara ini."
Kementerian Luar Negeri Turki juga merespons keras atas sanksi yang
dijatuhkan kepada kedua menteri. "Kami memprotes keputusan sanksi yang
diumumkan Departemen Keuangan AS. Respons balasan akan segera diumumkan
atas sikap agresif tanpa tujuan itu." Kementerian Luar Negeri Turki juga
menyerukan agar AS mencabut 'keputusan salah' tersebut.
Menteri Luar Negeri Mike Pompeo diharapkan bertemu dengan Cavusoglu di
sela-sela pertemuan ASEAN di Singapura, Jumat (3/8). Komandan AS di
Eropa Jenderal Curtis M. Scapparrotti sedang berada di Ankara untuk
bertemu dengan rekan-rekannya dari Turki pada pekan ini.
Lihat juga:
Erdogan: Turki Bakal Bertahan Hadapi Sanksi AS
<https://www.cnnindonesia.com/internasional/20180729082545-134-317817/erdogan-turki-bakal-bertahan-hadapi-sanksi-as/>
"Pemerintah Turki menolak untuk membebaskan pastor Brunson setelah
sejumlah percakapan antara Presiden Trump dengan presiden Erdogan dan
percakapan saya dengan Menteri Luar Negeri Cavusoglu. Presiden Trump
menyimpulkan bahwa sanksi ini adalah tindakan yang tepat," kata Pompeo.
Penahanan yang tidak adil ini harus diakhiri, kata Juru Bicara
Departemen Luar Negeri Heather Nauert. "Turki tahu posisi kami dengan
baik. Ini sudah terlalu lama."
Brunson ditangkap pada 2016 saat pemerintah Turki mengambil tindakan
keras pasca upaya kudeta militer yang gagal. Pada Maret lalu, Brunson
secara resmi dituduh melakukan spionase dan memiliki hubungan dengan
organisasi teroris. Dia terancam hukuman 35 tahun penjara jika terbukti
bersalah. Namun Brunson menegaskan bahwa dirinya tidak bersalah.
Lihat juga:
Turki Cabut Status Darurat Dua Tahun Pasca Kudeta Militer
<https://www.cnnindonesia.com/internasional/20180719141717-134-315386/turki-cabut-status-darurat-dua-tahun-pasca-kudeta-militer/>
Pekan lalu, Brunson menjadi tahanan rumah dan diminta untuk memakai alat
pemantau elektronik.
Setelah status Brunson berubah menjadi tahanan rumah, Trump Dan Wakil
Presiden, Mike Pence mengancam akan memberikan sanksi besar jika Turki
tidak membebaskan dan memulangkan Brunson.
"Amerika Serikat akan memberikan sanksi besar kepada Turki atas
penahanan Pastor Andrew Brunson, seorang Kristen yang hebat, seorang
pria keluarga, dan manusia yang luar biasa," kata Trump melalui
cuitannya di Twitter.
"Dia sangat menderita," Tulisan dia menambahkan, "Orang yang tidak
bersalah ini harus segera dibebaskan!"
Lihat juga:
Erdogan Sebut Keputusan Oezil Keluar Timnas Jerman Patriotik
<https://www.cnnindonesia.com/internasional/20180725105314-134-316794/erdogan-sebut-keputusan-oezil-keluar-timnas-jerman-patriotik/>
Pekan lalu pejabat senior AS mengatakan pada/CNN/bahwa Erdogan dan Trump
sepakat untuk menukar pembebasan Brunson dengan seorang warga Turki yang
ditahan Israel.
Namun Erdogan membantah kesepakatan tersebut dan memperingatkan bahwa
Turki tidak akan menuruti tekanan AS untuk membebaskan Brunson.
*(cin/nat)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com