http://www.kemenperin.go.id/artikel/18153/Politeknik-Industri-Logam-Morowali-Jadi-Pusat-Inovasi-Berbasis-Nikel

*SIARAN PERS*
Politeknik Industri Logam Morowali Jadi Pusat Inovasi Berbasis Nikel

Politeknik Industri Logam Morowali akan menjadi pusat inovasi teknologi dan
pengembangan produk berbasis nikel. Sekolah tinggi vokasi yang
pembangunannya difasilitasi oleh Kementerian Perindustrian ini merupakan
salah satu *best practic*e dalam pelaksanaan pendidikan yang mengusung
konsep *link and match* dengan dunia industri.

“Jadi, selain menyelenggarakan pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang
kompeten dan siap kerja, kampus ini akan melakukan pengembangan riset-riset
terapan yang bekerja sama dengan industri,” kata Menteri Perindustrian
Airlangga Hartarto dalam sambutannya pada Peresmian Politeknik Industri
Logam Morowali, Sulawesi Tengah, Senin (18/9).

Menurut Menperin, penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang terampil adalah
faktor penting dalam memacu pertumbuhan industri, selain melalui
pengembangan teknologi dan peningkatan investasi. “Bahkan, adanya
politeknik ini, kami yakini akan mendukung penambahan investasi di industri
pengolahan logam, khususnya di wilayah Sulawesi dan Indonesia bagian
timur,” tutur Airlangga.

Politeknik Industri Logam Morowali juga diharapkan dapat memberdayakan
masyarakat lokal agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhan
perusahaan-perusahaan yang berada di dalam kawasan industri Morowali. Saat
ini, kawasan yang memiliki luas 2.000 hektare (ha) tersebut telah diisi
sebagian besar oleh pabrik smelter berbasis nikel dengan menyerap tenaga
kerja lebih dari 10 ribu orang.

Apabila beberapa perusahaan yang saat ini masih tahap konstruksi sudah
beroperasi penuh, Kawasan Industri Morowali akan mampu menyerap tenaga
kerja sebanyak 80 ribu orang. Apalagi, industri logam nasional mengalami
pertumbuhan tertinggi dibandingkan sektor lainnya pada kuartal II tahun
2017 yang mencapai 7,5 persen. Hal ini bisa berdampak pada peningkatan
kebutuhan tenaga kerja karena adanya investasi baru dan ekspansi.

Airlangga menjelaskan, sejak awal pendirian Politeknik Industri Logam
Morowali, Kemenperin dan pelaku industri telah merancang bersama, mulai
dari identifikasi kebutuhan kompetensi, kurikulum, dan pemilihan tenaga
pengajar. “Sehingga implementasi sistem pembelajarannya akan terintegrasi
antara pendidikan di kampus dengan praktik kerja di industri atau yang
disebut *dual system*,” terangnya.

Kemudian, politeknik seluas 30 ha ini juga telah dilengkapi dengan
fasilitas dan peralatan penelitian yang lengkap. Misalnya, ruang kelas,
laboratorium, bengkel kerja, pusat inovasi, gedung direktorat, dan
perpustakaan. Sarana penunjang tersebut untuk mempercepat proses alih
teknologi dan menjadikan sebagai *center of excellence* industri nikel di
wilayah timur Indonesia.

Menurut Menteri Airlangga, Politeknik Industri Logam Morowali
menerapkan pendidikan
berkualitas dengan beasiswa dan ikatan kerja. Bahkan, selama satu tahun
pertama, mahasiswa akan mendapatkan fasilitas asrama yang disediakan oleh PT
Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) selaku pengelola Kawasan Industri
Morowali. Pembangunan kawasan ini merupakan hasil kerja sama antara Bintang
Delapan Group dari Indonesia dengan Tsingshan Group dari Tiongkok.

Angkatan pertama di politeknik ini sebanyak 96 mahasiswa, yang telah
dinyatakan lulus ujian saringan masuk dari 679 peserta sejak dibuka
pendaftaran pada 14 Juli 2017. Mereka berasal dari Morowali, Palu, Kendari,
dan Makassar. Program studi dengan jenjang D-III ini, nantinya menghasilkan
lulusan Teknik Perawatan Mesin, Teknik Listrik dan Instalasi, serta Teknik
Kimia Mineral.

“Untuk itu, kami berpesan kepada para mahasiswa yang akan menjalani
pendidikan selama tiga tahun ke depan, manfaatkanlah kesempatan ini dengan
sebaik-baiknya, karena pendidikan di Politeknik Industri Logam Morowali ini
didesain untuk melatih saudara dengan disiplin dan sikap kerja sesuai
dengan kebutuhan industri saat ini,” paparnya.

Chairman Indonesia Morowali Industrial Park, Halim Mina memproyeksikan, Kawasan
Industri Morowali akan membutuhkan tenaga kerja langsung sebanyak 25 ribu
orang dengan jenjang D-III dan D-IV pada tahun 2025. “Kami membutuhkan
banyak tenaga kerja profesional pada level supervisi. Diharapkan,
Politeknik Industri Logam Morowali menghasilkan anak-anak bangsa yang dapat
menguasai kemampuan teknologi pembuatan pabrik yang ada di kawasan industri
ini,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi
Mohamad Nasir memberikan materi kuliah perdana kepada para mahasiswa
angkaan pertama Politeknik Industri Logam Morowali.  Kemudian, dilanjutkan
Menperin serta Menrisetkdikti menandatangani prasasti Pembukaan dan Kuliah
Perdana Politeknik Industri Logam Morowali.

“Kami memberikan apresiasi dan berterima kasih kepada Kemenperin yang
memfasilitasi pembangunan Politeknik Industri Logam Morowali ini karena
telah melibatkan industrinya dengan dunia pendidikan. Pasalnya, negara dan
industri bisa maju kalau sumber daya manusianya berkualitas baik. Dan,
sekali lagi, kami selaku kementerian di bidang pendidikan tinggi sangat
mendukung langkah yang diinisiasi oleh Kemenperin ini untuk mengembangkan
akademik,” papar Menristekdikti.

*Tingkatkan perekonomian*

Pada kesempatan tersebut, Menperin juga menyampaikan, pembangunan kawasan
industri dapat membawa efek yang luas bagi pertumbuhan ekonomi di daerah
dan nasional. Misalnya, Kawasan Industri Morowali telah mampu
meningkatkan Pertumbuhan
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Morowali rata-rata mencapai
29 persen selama tahun 2010-2016.

“Langkah ini sesuai dengan Nawacita Pemerintah untuk membangun Indonesia
dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa, meningkatkan
produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, serta
mewujudkan kemandirian  ekonomi dengan  menggerakan  sektor-sektor
strategis  ekonomi domestik,” ungkapnya.

Menurut Airlangga, pembangunan Kawasan Industri Morowali ini menjadi salah
satu upaya percepatan beberapa pengembangan proyek industri logam di Tanah
Air, seperti industri berbasis nikel dan baja tahan karat (*stainless steel*).
Dari kawasan ini diharapkan bisa menghasilkan empat juta ton baja *stainless
steel* dan pabrik baja karbon berkapasitas 3,5 juta ton per tahun.

Selama ini, Kemenperin memfasilitasi pembangunan kawasan industri yang
dekat dengan sumber bahan baku sebagai program hilirisasi guna meningkatkan
nilai tambah di dalam negeri. Hal ini berdasarkan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang menargetkan pembangunan 14
kawasan industri di luar pulau Jawa, salah satunya adalah Kawasan Industri
Morowali karena memiliki potensi sumber daya alam nikel yang besar.

Lebih lanjut, untuk meningkatkan daya saing, kawasan industri ke depan juga
akan dibangun menjadi kawasan modern yang mengarah pada pengembangan kota
baru yang terintegrasi, dengan seluruh dukungan sarana prasarana termasuk
di dalamnya pendirian pusat pendidikan serta pusat *research and
development *(R&D).

Selain di Morowali, Kemenperin juga tengah membangun beberapa Politeknik
atau Akademi Komunitas di kawasan industri atau wilayah pusat pertumbuhan
industri. Tujuannya untuk mendukung penyediaan tenaga kerja kompeten di
sektor industri.

“Saat ini, Kemenperin mendapatkan mandat atau penugasan dari
Kemenristekdikti untuk membangun  delapan Politeknik atau Akademi Komunitas
Industri, antara lain di Kendal, Banten, Dumai, Sei Mangke, Bantaeng, Batu
Licin, Gresik dan Teluk Bintuni, yang akan dilaksanakan secara bertahap
sampai dengan tahun 2019,” papar Airlangga.

Dalam rangka pendirian Politeknik dan Akademi Komunitas tersebut,
Kemenperin sudah menjalin kerja sama dengan pemerintah Swiss dalam
pengembangan pendidikan *dual system*. Pada tahap awal, implementasinya
telah disepakati di empat Politeknik dan Akademi Komunitas, yaitu
Politeknik Industri Logam di Morowali, Akademi Komunitas Industri
Manufaktur di Bantaeng, Politeknik Industri Baja di Batu Licin, dan
Politeknik Industri Furniture di Kendal.

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan

Kirim email ke