https://tirto.id/kekecewaan-kartosoewirjo-yang-memicu-proklamasi-nii-cQxD
7 Agustus 1949
Kekecewaan Kartosoewirjo yang
Memicu Proklamasi NII
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (7 Januari 1905-5 September 1962),
proklamator Negara Islam Indonesia. tirto.id/Sabit
<https://tirto.id/kekecewaan-kartosoewirjo-yang-memicu-proklamasi-nii-cQxD>
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (7 Januari 1905-5
September 1962), proklamator Negara Islam Indonesia.
tirto.id/Sabit
Oleh: Petrik Matanasi - 7 Agustus 2018
Dibaca Normal 3 menit
/Gerak milisi.
Pekikan deklarasi
negara syar'i./
tirto.id <https://tirto.id/> - Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo bukan
orang Sunda asli. Dia kelahiran Cepu dan masih keponakan Mas Marco
Kartodikromo. Menurut buku /Siliwangi Dari Masa Ke Masa/, ketika
Kartosoewirjo dipecat dari sekolah kedokteran NIAS di Surabaya,
diketemukan buku-buku sosialisme dan komunisme “yang diperoleh dari
pamannya yang bernama Marko Kartodikromo” (hlm. 516).
Setelahnya dia akrab dengan H.O.S. Tjokroaminoto dan terlibat dalam
Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) di Jawa Barat. Pada 1929,
Kartosoewirjo kawin dengan putri dari Adiwisastra, salah satu tokoh PSII
Jawa Barat, yang bernama Dewi Siti Kalsum.
Setelah kesehatannya dirasa menurun, Kartosoewirjo memilih pulang ke
kampung mertuanya di Malangbong. Salah satu kecamatan di Garut itu pun
jadi basis penting Kartosoewirjo. Pada 1940, ia mendirikan Institut
Suffah di Malangbong.
Institut Suffah, menurut Cornelis van Dijk dalam /Darul Islam: Suatu
Pemberontakan/ (1995), “mulanya dimaksudkan untuk memberikan pendidikan
umum dan agama, [….] akhirnya ia berubah menjadi suatu lembaga yang
memberikan latihan kemiliteran selama pendudukan Jepang” (hlm. 29).
Pemerintah pendudukan Jepang juga memberi latihan kemiliteran secara
resmi bagi pemuda Islam. Dari situ, kemudian terbentuk lah milisi
bernama Hizbullah.
Baca juga:
* Kartosoewirjo, Proklamator Negara Islam Indonesia
<https://tirto.id/kartosoewirjo-proklamator-negara-islam-indonesia-bXqX>
* H.O.S. Tjokroaminoto Memadukan Islam dan Sosialisme
<https://tirto.id/hos-tjokroaminoto-memadukan-islam-dan-sosialisme-cwW1>
Bermula dari Perjanjian Renville
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Kartosoewirjo dan pengikutnya
juga melawan tentara Belanda. Tapi, mereka termasuk golongan yang
menolak perundingan Renville. Dalam perjanjian itu, pemerintah Indonesia
setuju untuk meninggalkan Jawa Barat. Atas dasar itu lah Kartosoewirjo
beserta pengikutnya menganggap Jawa Barat bukan lagi daerah Republik
setelah Renville.
Menurut van Dijk, Komandan Sabilillah Tasikmalaya yang bernama Oni
bertemu Kartosoewirjo. Mereka berdua sepakat agar anggota Sabilillah dan
Hizbullah harus tetap di Jawa Barat. Mereka yang ikut pergi dari Jawa
Barat harus dilucuti senjatanya (hlm. 76-77).
Baca juga: Manuver AS Merugikan Indonesia di Perjanjian Renville
<https://tirto.id/manuver-as-merugikan-indonesia-di-perjanjian-renville-cDhy>
Pada Februari 1948, di desa Pangwedusan, distrik Cisayong—daerah
segitiga Garut, Tasikmalaya, dan Malangbong—diadakan suatu pertemuan,
yang belakangan disebut Konferensi Cisayong. Tak hanya Hizbullah dan
Sabilillah yang hadir, tapi juga Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII).
Disepakati dalam pertemuan itu soal pembentukan Tentara Islam Indonesia
(TII) dan pengangkatan Oni sebagai Panglima TII daerah Priangan.
Meski ada tentara bernama TII, menurut van Dijk (1995:78-79), “negara
Islam sendiri belumlah terbentuk. Hanya ditekankan pada suatu hari, bila
pemerintah Republik umpamanya digulingkan Belanda.” Setidaknya, lanjut
van Dijk, “Kartosoewirjo menahan diri selama lebih dari setahun untuk
terang-terangan menolak menentang kekuasaan Republik” (hlm. 78-79).
Agresi Militer Belanda II berupa serangan dadakan atas ibu kota Republik
Indonesia pada 19 Desember 1948—yang disertai penawanan para pejabat
tingginya—kemudian dijadikan dalih oleh Kartosoewirjo untuk memulai
suatu negara baru.
Belum juga ada negara baru, pada 25 Januari 1949, ada bentrokan antara
TNI dari Divisi Siliwangi yang sudah kembali dari Jawa Tengah dengan
satuan TII. Gambaran atas kondisi masa ini tergambar dalam film /Mereka
Kembali/ <https://www.youtube.com/watch?v=kVWsxaxkYE8> (1972). Dalam
film itu digambarkan ada tiga pihak yang saling berseteru di Jawa Barat:
Belanda, Republik Indonesia, dan pengikut Kartosoewirjo.
Petinggi Republik macam Mohamad Hatta atau Mohammad Natsir sudah mampu
membaca niatan Kartosoewirjo untuk lepas dari Republik. Keduanya tak mau
laki-laki yang pernah tinggal di rumah Tjokroaminoto di Jalan Paneleh
Surabaya ini jadi musuh Republik dan bikin negara baru.
Masa itu adalah masa ketika komunikasi antara daerah satu dengan daerah
lain tergolong sulit. Meski sudah ada radio, jumlahnya sangat sedikit.
Kartosoewirjo kemungkinan kurang mengikuti perkembangan situasi sengketa
Indonesia-Belanda setelah Sukarno dan pejabat Republik lainnya
dibebaskan. Di mata Kartosoewirjo, Republik Indonesia, yang pernah ia
dukung di awal-awal kemerdekaannya, sudah mati.
Sebelum Hatta berangkat ke Belanda dalam rangka perundingan lanjutan
setelah Perjanjian Roem-Royen, Konferensi Meja Bundar (KMB), Natsir
diberi pekerjaan. Seperti tercatat dalam buku /Muhammad Natsir 70 tahun:
kenang-kenangan kehidupan dan perjuangan/ (1978: 186), waktu menginap di
Hotel Homann di Bandung pada 4 Agustus 1949, Natsir berusaha kirim surat
ke Kartosoewirjo. Tokoh yang diamanahi untuk mengirim surat itu bukan
orang sembarangan, yaitu Ustaz A. Hassan. Orang mengenalnya sebagai
ulama yang disegani Kartosoewirjo. Sayangnya, pada Agustus 1949 itu,
Kartosoewirjo sulit ditemui Hassan. Tentu saja, seseorang harus melewati
berlapis-lapis penjagaan untuk bertemu Kartosoewirjo.
Setelah itu Hassan pun harus menanti. Sementara Hassan menunggu,
Kartosoewirjo kian merasa mantap untuk menegakkan Darul Islam alias
Negara Islam Indonesia (NII). Saat itu ia meyakini bahwa perundingan
Roem-Royen tidak bisa membawa hasil baik.
Baca juga: Alotnya Perundingan Roem-Royen Menuju Kedaulatan RI
<https://tirto.id/alotnya-perundingan-roem-royen-menuju-kedaulatan-ri-cJXj>
Infografik Mozaik Negara Islam Indonesia
Proklamasi NII
Bertempat di Desa Cisampang, distrik Cisayong, pada 7 Agustus 1949,
tepat hari ini 69 tahun lalu, NII diproklamasikan. Oleh Kartosoewirjo,
Cisayong kemudian disebut sebagai Madinah. Tiga hari setelah proklamasi
itu, surat dari Natsir akhirnya sampai juga ke tangan Kartosoewirjo.
Surat Natsir terlambat sampai. NII sudah berdiri.
“Bagi dia (Kartosoewirjo), yang berat itu menjilat ludah sendiri,” kata
Natsir.
Natsir yang pernah jadi Perdana Menteri Republik Indonesia itu kenal
watak Kartosoewirjo. Jika surat itu sampai beberapa waktu sebelum
proklamasi, sangat sulit untuk mengubah sikap Kartosoewirjo.
NII jalan terus. Kartosoewirjo bersama pengikutnya harus bergerilya
belasan tahun menjaga keutuhan NII, yang dalam buku sejarah Indonesia
dianggap DI/TII saja. Dia tidak kalah keras dengan pamannya, pembela
rakyat yang dicap komunis dan pernah dibuang ke Boven Digoel oleh
pemerintah kolonial. Pamannya yang terbunuh ganasnya malaria di Digoel
itu adalah orang yang teguh melawan Belanda. Sementara sang keponakan
teguh dengan NII alias DI/TII yang dipimpinnya.
Dalam proklamasi Negara Islam Indonesia disebut dengan jelas bahwa
Republik Indonesia sudah selesai riwayatnya. Entah setelah Roem Royen
(1949) atau Renville (1948). Dalam kalimat pembuka maklumat pemerintah
NII no II/7 menyebut, “syahdan, maka perjuangan kemerdekaan nasional,
yang dimulai dengan Proklamasi berdirinya Republik Indonesia 17 Agustus
1945, sudahlah mengakhiri riwayatnya.”
Penandatanganan Renville, yang merugikan Indonesia dan menguntungkan
Belanda, karena Jawa Barat juga harus dikosongkan, membuat kaum
Republiken pengikut Sukarno dianggap gagal memerdekakan Indonesia.
Baca juga: Makam Pemberontak yang Ditakuti Penguasa
<https://tirto.id/makam-pemberontak-yang-ditakuti-penguasa-bwhH>
Lebih lanjut, maklumat NII itu menyebut: “setinggi-tinggi bangau
terbang, kembali ke kubangan juga. Maka Republik jatuh pula kepada
tingkatan sebelum proklamasi; kembali kepada pokok pangkal pertama, di
tangan musuh, di tangan Belanda penjajah.”
“Alhamdulillah, pada saat kosong (vacuum), saat dimana tiada kekuasaan,
dan pemerintahan yang bertanggungjawab (gezag en regeringsvacuum), maka
pada saat yang kritis (membahayakan) dan psychologisch yang lemah itulah
Umat Islam Bangsa Indonesia memberanikan diri menyatakan sikap dan
pendiriannya yang jelas-tegas kepada seluruh dunia: Proklamasi
berdirinya Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1949,” tulis Maklumat itu.
Naskah prokamasi NII dimulai dengan kalimat “/Bismillahirrahmanirrahim
Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah/” dan
selanjutnya adalah “Kami Umat Islam Bangsa Indonesia Menyatakan
berdirinya Negara Islam Indonesia. Maka hukum yang berlaku atas Negara
Islam Indonesia itu ialah: Hukum Islam.”
Dan takbir pun jadi penutupnya. Nama tempat ditulis Madinah, dengan
tanda tangan Kartosoewirjo sebagai Imam NII.
Baca juga artikel terkait NEGARA ISLAM INDONESIA
<https://tirto.id/q/negara-islam-indonesia-fpA?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
<https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Kaum Republiken pengikut Sukarno dianggap gagal memerdekakan Indonesia
karena Perjanjian Renville.