Menurut Naskah Kuno, Gempa di Bulan Agustus Bermakna Rakyat Berduka Cita dan 
Negeri Tidak Aman


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Menurut Naskah Kuno, Gempa di Bulan Agustus Bermakna Rakyat Berduka Cita...

Gempa, menurut Naskah Lontar Roga Sangara Bumi, bisa menetralisir atau 
meniadakan bencana di dunia.
 |

 |

 |



Senin, 6 Agustus 2018 14:39


 
Twitter/@Sutopo_PNWISATAWAN asing dievakuasi dari Gili Trawangan, Gili Air, dan 
Gili Meno di Lombok Utara, pasca gempa bumi yang melanda kawasan ini pada 
Minggu (5/8/2018) malam. Evakuasi dilakukan menggunakan tiga buah kapal.. 


 

GEMPA bumi di dasar laut, sekitar 18 kilometer sebelah Barat Laut Lombok Timur, 
Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (5/8/2018) pukul 18.46 WIB, membawa duka.
Gempa, menurut Naskah Lontar Roga Sangara Bumi, bisa menetralisir atau 
meniadakan bencana di dunia.
Dikutip dari situs Bali Shanti, www.balishanti.id; Naskah Lontar Roga Sangara 
Bumi berisi tentang penyebab, jenis, dan tanda-tanda datangnya bencana.

Baca: Angkasa Pura II Gelar Kampanye Keselamatan Penerbangan Sambut Asian Games 
2018

Menurut lontar Widhi Sastra yang terdapat dalam Roga Sangara Bumi, masyarakat 
Bali setiap lima tahun sekali harus melaksanakan upacara tawur agung yang 
disebut dengan Panca wali krama. Upacara ini dilaksanakan di Pura Besakih..
Dipaparkan, upacara tersebut merupakan sabda dan titah dari Bhatara Putrajaya 
yang beristana di Gunung Agung. Sehingga, apabila upacara itu tidak dilakukan, 
maka Bhatara Putrajaya akan kembali ke Gunung Mahameru.
Bhatara Putrajaya kemudian akan menyebarkan segala penyakit mematikan dan 
membuat hancur dunia, saudara saling bertengkar, dan terjadi kerusuhan.

Baca: Peninggian Jalan Tubagus Angke Arah Pesing Bikin Macet

Adapun tujuan dari upacara tawur agung Panca wali krama adalah untuk 
menghaturkan persembahan berupa jenis-jenis hasil bumi dan hewan ternak, kepada 
para dewa dan bhutakala.
Melalui upacara tawur agung Panca wali krama, diharapkan para dewa tidak marah 
lagi, dan dapat memaafkan kelakuan manusia. Bumi menjadi bersih (kaparisudha). 
Demikian pula para bhutakala dapat dinetralisir, sehingga tercipta kedamaian di 
bumi (sutrepti ikang rat).
Masyarakat Bali tidak akan menyalahkan pihak lain ataupun pemerintah terkait 
adanya bencana. Sebab, adanya bencana justru menyadarkan masyarakat Bali atas 
kesalahan. Para dewa dan bhutakala marah pada manusia, untuk itu masyarakat 
Bali lebih banyak menyikapi dengan kearifan lokal yang termanifestasikan di 
dalam Roga Sangara Bumi.

Baca: Tak Seperti Pertemuan Pertama, Kali Ini Warna Batik Prabowo dan SBY Tak 
Kompak

Sedangkan Taksuning Jagad Denpasar lewat akun @taksudenpasar menyebutkan makna 
gempa berdasarkan Kalender Karo. Gempa yang terjadi pada Bulan Agustus atau 
Kaulu, berarti rakyat berduka cita, negeri tidak aman, serta orang desa banyak 
bertengkar dan banyak pindah tempat.

"Gempa bumi jika terjadi menurut sasih tertentu," tulis admin @taksudenpasar 
pada Senin (6/8/2018).

'Makna gempa bumi menurut lontar Rogha Senggara Bumi, gempa atau di Bali 
disebut LINUH adalah sebuah pertanda alam. Gempa bumi jika terjadi pada sasih 
tertentu 'memiliki makna-makna tertentu' pula.



 *MAKNA GEMPA BUMI* . Menurut lontar Rogha Senggara Bumi, gempa atau di Bali 
disebut *LINUH adalah sebuah pertanda alam.* Gempa bumi jika terjadi pada sasih 
tertentu *memiliki makna² tertentu* pula. . Berikut adalah kutipan _makna gempa 
bumi_ pada sasih : . 1. *KASA* : _Pada sasih ini Bhatari Sri mayoga_. Dunia 
tentram, banyak orang berpindah tempat, banyak orang senang, ternak tak kurang 
makanan . 2. *KARO* : _Bhatari Gangga mayoga_. Hujan lebat berisi angin, pohon 
semua tumbuh, banyak orang memfitnah . 3. *KETIGA* : _Bhatara Wisnu mayoga_. 
Bayak hujan, tanaman subur, orang desa banyak bertengkar, banyak bahaya . 4. 
*KAPAT* : _Bhatara Brahma mayoga_. Jarang hujan, dunia tak aman, orang desa 
bertengkar, menfitnah dan kecurigaan, pala gantung rusak, dan panas terik. . 5. 
*KALIMA* : _Hyang Iswara mayoga_. Pikiran orang bimbang, banyak orang sakit, 
banyak orang berbuat tidak baik, tidak tentram hatinya. . 6. *KANEM* : _Bhatari 
Durga mayoga_. Ramalannya banyak orang akan merasa susah, jatuh sakit dan tak 
tertolongkan, hasil bumi rusak, didesa banyak pencuri, banyak berpindah tempat. 
. 7. *KAPITU* : _Bhatara Guru mayoga_. Dunia tak aman, orang bingung, 
menimbulkan keributan, banyak penyakit, krisis pangan, . 8. *KAULU* : _Bhatara 
Parameswara mayoga_. Rakyat berduka cita, negeri tidak aman, orang desa banyak 
bertengkar, banyak pindah tempat . 9. *KASANGA* : _Bhatari Uma mayoga_. Banyak 
orang desa bertengkar, kesusahan, pemerintah ditentang . 10. *KADASA* : 
_Bhatara Sangkara meyoga_. Buah-buahan banyak, dunia tidak aman, banyak orang 
dikutuk orang tuanya, orang-orang besar bertentangan, orang banyak lupa dengan 
orang tuanya, banyak orang mati, banyak pengungsi. . 11. *DESTA* : _Bhatara 
Shambu mayoga_. Dunia rusak, dagang-dagang susah, ada sesuatu meletus, orang 
berduka cita, banyak hujan. . 12. *SADDHA* : _Bhatara Anantaboga mayoga_. Dunia 
ribut, tanaman tidak berhasil, jual-beli sepi, banyak penyakit, orang berduka 
cita, . _Kirang langkung nunas Geng Rene Sinampura._ repost dr group wa pssnkk 
Repost @sekehedemenbali #taksudenpasar

Berikut adalah kutipan _makna gempa bumi_ pada sasih :
1. *KASA* : _Pada sasih ini Bhatari Sri mayoga_. Dunia tentram, banyak orang 
berpindah tempat, banyak orang senang, ternak tak kurang makanan
..
2. *KARO* : _Bhatari Gangga mayoga_. Hujan lebat berisi angin, pohon semua 
tumbuh, banyak orang memfitnah
..
3. *KETIGA* : _Bhatara Wisnu mayoga_. Bayak hujan, tanaman subur, orang desa 
banyak bertengkar, banyak bahaya
..
4. *KAPAT* : _Bhatara Brahma mayoga_. Jarang hujan, dunia tak aman, orang desa 
bertengkar, menfitnah dan kecurigaan, pala gantung rusak, dan panas terik.
..
5. *KALIMA* : _Hyang Iswara mayoga_. Pikiran orang bimbang, banyak orang sakit, 
banyak orang berbuat tidak baik, tidak tentram hatinya.
..
6. *KANEM* : _Bhatari Durga mayoga_. Ramalannya banyak orang akan merasa susah, 
jatuh sakit dan tak tertolongkan, hasil bumi rusak, didesa banyak pencuri, 
banyak berpindah tempat.
..
7. *KAPITU* : _Bhatara Guru mayoga_. Dunia tak aman, orang bingung, menimbulkan 
keributan, banyak penyakit, krisis pangan,
..
8. *KAULU* : _Bhatara Parameswara mayoga_. Rakyat berduka cita, negeri tidak 
aman, orang desa banyak bertengkar, banyak pindah tempat
..
9. *KASANGA* : _Bhatari Uma mayoga_. Banyak orang desa bertengkar, kesusahan, 
pemerintah ditentang
..
10. *KADASA* : _Bhatara Sangkara meyoga_. Buah-buahan banyak, dunia tidak aman, 
banyak orang dikutuk orang tuanya, orang-orang besar bertentangan, orang banyak 
lupa dengan orang tuanya, banyak orang mati, banyak pengungsi.
..
11. *DESTA* : _Bhatara Shambu mayoga_. Dunia rusak, dagang-dagang susah, ada 
sesuatu meletus, orang berduka cita, banyak hujan.
..
12. *SADDHA* : _Bhatara Anantaboga mayoga_. Dunia ribut, tanaman tidak 
berhasil, jual-beli sepi, banyak penyakit, orang berduka cita.' tulis 
@taksudenpasar. (*)



Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Menurut Naskah Kuno, 
Gempa di Bulan Agustus Bermakna Rakyat Berduka Cita dan Negeri Tidak Aman, 
http://wartakota.tribunnews.com/2018/08/06/menurut-naskah-kuno-gempa-di-bulan-agustus-bermakna-rakyat-berduka-cita-dan-negeri-tidak-aman.
Penulis: Dwi Rizki 
Editor: Yaspen Martinus













Kirim email ke