https://news.detik.com/kolom/d-4158428/skenario-politik-prabowo?_ga
=2.156396795.1703351572.1533828212-2101035625.1533828205
Kamis 09 Agustus 2018, 17:03 WIB
Kolom
Skenario Politik Prabowo
Teddy Firman Supardi - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4158428/skenario-politik-prabowo?_ga=2.156396795.1703351572.1533828212-2101035625.1533828205#>
Teddy Firman Supardi
<https://news.detik.com/kolom/d-4158428/skenario-politik-prabowo?_ga=2.156396795.1703351572.1533828212-2101035625.1533828205#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4158428/skenario-politik-prabowo?_ga=2.156396795.1703351572.1533828212-2101035625.1533828205#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4158428/skenario-politik-prabowo?_ga=2.156396795.1703351572.1533828212-2101035625.1533828205#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4158428/skenario-politik-prabowo?_ga=2.156396795.1703351572.1533828212-2101035625.1533828205#>
13 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4158428/skenario-politik-prabowo?_ga=2.156396795.1703351572.1533828212-2101035625.1533828205#>
Skenario Politik Prabowo Ilustrasi: Fuad Hasim/Infografis
<https://news.detik.com/kolom/d-4158428/skenario-politik-prabowo?_ga=2.156396795.1703351572.1533828212-2101035625.1533828205#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4158428/skenario-politik-prabowo?_ga=2.156396795.1703351572.1533828212-2101035625.1533828205#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4158428/skenario-politik-prabowo?_ga=2.156396795.1703351572.1533828212-2101035625.1533828205#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4158428/skenario-politik-prabowo?_ga=2.156396795.1703351572.1533828212-2101035625.1533828205#>
*Jakarta* - Prabowo masuk dalam dilema politik yang dibuatnya sendiri
untuk terus merawat mobilisasi suara Islam --Prabowo menjadi sekutu yang
baik bagi PKS dan proponen gerakan populisme Islam 212. Kini, manuver
dan strateginya memaksa ia harus berpikir jernih tentang keputusan
politik yang tepat untuk siap bertarung kembali melawan Jokowi pada
Pilpres 2019.
Keputusan politik yang berlipat cepat dengan waktu pendaftaran
Capres-Cawapres membuat Prabowo masuk dalam kesepakatan politik yang
sulit. Sekarang, ada Partai Demokrat yang bergabung dengan Gerindra,
yang secara otomatis akan menjadikan koalisi Prabowo memiliki sumber
daya politik baru. Tapi, pada sisi lain posisi PKS sebagai bagian dari
/inner circle/ politik Gerinda membuat Prabowo harus memiliki pendekatan
dan tawaran politik yang adil dengan PKS.
Pada kondisi seperti ini, Partai Demokrat memiliki fleksibilitas
penjajakan kesepakatan politik yang lebih terbuka. Bagaimanapun daya
tawar SBY sebagai mantan presiden menjadi tambahan peluru dan juga
logistik untuk Prabowo, terlebih lagi jika Prabowo memilih AHY menjadi
Cawapres.
*Serba Salah*
Hasil Itjima Ulama dan Tokoh Nasional yang dilaksanakan oleh GNPF Ulama
menghasilkan rekomendasi Prabowo sebagai calon presiden dan dua skenario
Cawapres yaitu Habib Salim Segaf Al Jufri dan Ustadz Abdul Somad.
Tradisi itjima ini merupakan bagian dari dorongan politik umat yang
tentu dimotori oleh PKS dan GNPF Ulama, dan merupakan bagian dari
gerakan yang diasosiasikan dengan Rizieq Shihab (HRS). PKS dan para
proponen Islam politik seperti HRS dan FPI tentu saja menjadi silang
koalisi untuk terus merawat mobilisasi umat dalam diskursus publik
menjelang Pilpres.
Dua skenario Cawapres yang ditetapkan oleh hasil itjima juga merupakan
bagian dari manuver politik terakhir PKS untuk mendapatkan kursi
Cawapres. PKS mendorong dua skenario Cawapres yang tentu akan membuat
Prabowo semakin tersudut. Nama pertama adalah kader PKS, Salim Segaf
Al-Jufri yang juga Ketua Majelis Syuro --meskipun terdapat
gonjang-ganjing dalam pemilihan Salim Segaf menjadi Cawapres. Survei
internal PKS menunjukkan elektabilitas Salim Segaf hanya 1,7%, kalah
jauh dibandingkan dengan Ahmad Heryawan sebesar 31,72%. Hal ini juga
yang menjadi bagian pertimbangan politik Prabowo untuk memilih Salim
Segaf menjadi Cawapres.
Prabowo menatap kesepakatan politik dalam posisi yang serba salah, dan
PKS memainkan intervensi kesepakatan politik yang begitu sangat rapi.
Nama lain yang dijadikan proposal politik PKS adalah Abdul Somad. Nama
yang digadang-gadang menjadi ustadz sejuta umat ini memiliki jangkauan
pemilih Islam yang juga dimungkinkan memiliki /vote getter/ yang
menjanjikan. Skenario memunculkan nama Abdul Somad bukan tidak memiliki
alasan bagi PKS. Masuknya Demokrat dan SBY dengan menyodorkan Cawapres
AHY membuat PKS harus bermain kesepakatan politik lebih lincah lagi jika
tidak ingin menjadi teman yang ditinggalkan.
Nama Abdul Somad (UAS) menjadi peluru politik PKS. Dengan memunculkan
nama UAS, PKS menembak Prabowo untuk masuk dalam citra massa Islam yang
lebih luas. Karena UAS bukanlah milik PKS, maka mendorong UAS merupakan
cara agar Prabowo memikirkan ulang bagaimana massa pemilih Islam dan
gerakan pendukung lainnya menjadi penting dalam koalisi menghadapi
Jokowi. Jika Prabowo memilih UAS menjadi Cawapresnya, maka PKS tidak
begitu sulit untuk bermanuver dalam koalisi Prabowo. PKS tetap dapat
mempertahankan citra dan jangkauan politiknya untuk pemilih Islam di
luar pemilihnya. Gerakan lain seperti #2019GantiPresiden yang dipelopori
oleh Mardani Ali Sera juga menjadi gerakan untuk memobilisasi sentimen
anti-Jokowi, dan pemilih di luar Prabowo.
/*Zero* *Sum Game*/
Prabowo tentu sangat sadar bahwa manuver politik PKS akan semakin
menyudutkan posisinya. Ancaman dari PKS akan memikirkan ulang kembali
berkoalisi dengan Prabowo tentu menjadi rambu merah yang cukup serius,
dan secara tidak langsung memukul posisi Demokrat yang tentu akan kuat
mendorong AHY sebagai Cawapres Prabowo.
Dalam posisi seperti ini, Prabowo tentu harus berpikir panjang. Partai
Gerindra tentu akan terkena dampak jika Prabowo tidak maju menjadi
Capres. Pileg dan Pilpres yang dilaksanakan serentak membuat format
strategi politik harus disusun secara matang. Figur kharismatik Prabowo
tentu menjadi pendulang suara paling efektif bagi Gerindra. Ambang batas
parlemen yang naik menjadi 4 persen tentu menjadi pertimbangan khusus
bagi Gerindra untuk tetap mengusung Prabowo.
Menjelang detik-detik akhir pendaftaran Capres-Cawapres membuat Prabowo
harus bermain dalam keputusan politik yang saling menguntungkan dengan
koalisi partai yang lain. Ketegangan antar PKS-Demokrat dan Prabowo
menjadikan skenario /zero/ /sum game/ menjadi pilihan yang tepat untuk
Prabowo. Artinya, tidak memilih Demokrat dan PKS sebagai Cawapres. Jalan
tengah seperti ini tentu akan memperkuat posisi Prabowo dan lepas dari
tekanan politik dari Demokrat dan PKS.
*Teddy Firman Supardi* /peneliti di Depublica Institute (Center for
Local Development Research and Studies), associate consultant di Visi
Strategic Consulting/
*(mmu/mmu)
*