Nasib Suram Kaum Minoritas di antara Impitan Kubu Jokowi & Prabowo 
https://tirto.id/nasib-suram-kaum-minoritas-di-antara-impitan-kubu-jokowi-amp-prabowo-cRWL
 
 
https://tirto.id/nasib-suram-kaum-minoritas-di-antara-impitan-kubu-jokowi-amp-prabowo-cRWL
 

 Prabowo Subianto menyambut kedatangan Presiden Jokowi saat berkunjung ke 
kediamannya, di Padepokan Garuda Yaksa, Desa Bojong Koneng, Hambalang, Bogor, 
Jawa Barat, Senin (31/10) siang. [Foto/Humas Setkab/Rahmat]

 Oleh: Haris Prabowo - 12 Agustus 2018
 Dibaca Normal 1 menit

 
 Dua orang yang bakal maju pada pemilihan presiden tahun depan punya catatan 
tak menyenangkan terkait HAM.
 tirto.id https://tirto.id/ - Pemilihan presiden 2019 telah memasuki babak baru 
dengan munculnya dua kandidat yang dipastikan bakal bersaing memperebutkan 
suara masyarakat: Joko Widodo (Jokowi) sebagai petahana berdampingan dengan 
Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto dengan Sandiaga Salahuddin Uno.

Namun, ada catatan dari empat orang capres dan cawapres di atas kaitannya 
dengan persoalan Hak Asasi Manusia (HAM). Dua orang di antara mereka punya 
rekam jejak yang sama sekali tidak mulus soal HAM.

Pada pihak pertama ada Prabowo Subianto. Namanya kerap dikaitkan dengan 
penghilangan paksa aktivis pro-reformasi pada 1996-1998. Ia bahkan dipecat dari 
dinas militer karena masalah itu. Pun pada kubu satunya lagi. Ma'ruf Amin 
adalah otak di balik beragam fatwa yang menyudutkan kelompok marjinal. 

Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asfinawati, 
mengatakan keduanya punya rekam jejak yang sama. "Kita tahu kelompok apa yang 
mendukung Prabowo dan kawan-kawan, banyak dari mereka, tentu saja tidak semua, 
terlibat kasus-kasus intoleransi. Sedangkan Ma'ruf Amin, dalam catatan kami, 
mengeluarkan fatwa-fatwa yang menimbulkan diskriminasi, bahkan kekerasan kepada 
minoritas," kata Asfin kepada Tirto, Minggu (12/8/18).

 Baca juga: Menjadi Muslim, Menjadi Minoritas 
https://tirto.id/menjadi-muslim-menjadi-minoritas-b9SV

Ada banyak cela Ma'ruf, salah satunya ketika 2016 lalu menjadi salah satu saksi 
yang memberatkan 
https://tirto.id/mui-tegaskan-pandangan-keagamaan-kasus-ahok-tidak-tergesa-ch4G 
Basuki Tjahaja Purnama dalam persidangan atas tuduhan penodaan agama. 
Pernyataan ini turut membikin Ahok, yang ketika itu masih jadi Gubernur DKI, 
mendekam di sel.

Pada 2005, dalam Munas VII MUI, Ma'ruf Amin yang ketika itu menjabat Komisi 
Fatwa MUI memutuskan Ahmadiyah adalah aliran sesat dan menyesatkan. "Kami juga 
meminta pemerintah melarang aliran Ahmadiyah," katanya kala itu, seperti 
dikutip dari Detik 
https://news.detik.com/berita/d-412058/mui-kembali-fatwakan-ahmadiyah-sebagai-aliran-sesat.
 

Menurut Asfin, MUI memang punya hak untuk mengeluarkan fatwa. Namun MUI sudah 
melebihi kewenangan mereka karena dalam keputusan yang sama juga meminta 
pemerintah pusat menutup rumah ibadah Ahmadiyah. 

"Itu sudah melampaui wewenang pendapat keagamaan. Tahun 1980an ada pandangan 
terhadap Ahamdiyah yang sangat berbeda, tapi tidak bisa meminta negara untuk 
mengeksekusi, menutup rumah-rumah ibadah. Itu sudah di luar kepantasan," 
jelasnya.

Pernyataan terbuka Ma'ruf juga kerapkali kontroversial dan mendiskreditkan 
kelompok minoritas, dan ini sejalan dengan pandangannya bertahun-tahun 
sebelumnya. Ketika Satpol PP Depok menyegel masjid milik Jemaat Ahmadiyah 
Indonesia (JAI) di kawasan Sawangan, Depok, pada 2016, Ma'ruf mendukung  
https://tirto.id/ketua-mui-sebut-penyegelan-masjid-ahmadiyah-sudah-tepat-cp6iitu.
 

 Baca juga: Intoleransi Masih Tinggi, Terbanyak di Jawa Barat 
https://tirto.id/intoleransi-masih-tinggi-terbanyak-di-jawa-barat-cgSE

Ma'ruf juga pernah mengatakan bahwa LGBT itu haram 
https://tirto.id/mui-dorong-pemidanaan-lgbt-uk dan seharusnya dipidana. Ia 
bilang, kaum LGBT seharusnya direhabilitasi. Pernyataan-pernyataan tersebut, 
kata Asfin, tentu saja mampu memicu konflik dan kekerasan berkepanjangan karena 
keluar dari mulut orang yang punya otoritas.

 Nasib Minoritas di Masa Depan
Peneliti Human Rights Watch (HRW), Andreas Harsono, mengaku pesimistis kasus 
pelanggaran HAM dan intoleransi bisa selesai dan tidak terulang lagi meski 
nanti presiden-wakil presiden berganti. Ia menilai kedua kubu sulit menerima 
keberagaman.

"Saya ragu mereka akan berubah, kecuali ada tekanan luar biasa. Jadinya, nasib 
kalangan minoritas agama dan gender bisa makin memburuk di Indonesia," katanya 
kepada Tirto, Minggu (12/8/18).

Andreas memprediksi akan banyak sekali kemungkinan buruk jika dua sosok ini 
menjadi salah satu orang terpenting di Indonesia. "Berbagai diskriminasi ini 
akan bertambah dan makin sering dipakai. Kalau diskriminasi ini berubah jadi 
krisis, bisa memicu kekerasan besar. Bagaimana mengatasinya? Bila dilakukan 
dengan bijaksana—termasuk dengan aktor internasional—mungkin masih bisa," 
katanya.

 Baca juga: Tiga Jam Menentukan Ma'ruf Amin Dipilih Cawapres Jokowi 
https://tirto.id/tiga-jam-menentukan-maruf-amin-dipilih-cawapres-jokowi-cRFm

Sementara itu, juru bicara jemaat Ahmadiyah, Yendra Budiandra, mengatakan 
"harapan kami kepada Ma'ruf Amin, jika menjadi wakil presiden, bisa 
memposisikan diri menjadi pejabat publik yang harus keluar dari jubah sebagai 
Ketua MUI atau sebagai ketua organisasi NU," kata Yendra kepada Tirto.

"Kami akan selalu mendukung pemerintahan yang sah, apapun itu yang terjadi. 
Siapa pun yang menjadi presiden dan wakil presiden," tutupnya.
 
Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 
https://tirto.id/q/pilpres-2019-c2Z?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword 
atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo 
https://tirto.id/author/harisprabowo?utm_source=internal&utm_medium=topauthor


 (tirto.id - Politik) 

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Rio Apinino



 

 

Kirim email ke