pengalaman sejarah mengajarkankehidupan serba susah dan kemiskinansering 
dijadikan sarana kaum politikus hipokritmenghasut kebencian guna mengalihkan 
sasarandi mana kelompok rakyat minoritasoleh kelompok rakyat mayoritasdijadikan 
sasaran kebenciandiperlakukan di luar batas nilai nilai kemanusiaan tragis 
memangrakyat menjadikan sesama rakyat sebagai sasaran kebencianbukan kaum 
politikus korup dan hipokritsumber segala kesengsaraan rakyat kebanyakan bagi 
kaum politikus hipokritkerbencian apapun yang berkecamuk di lapangansiapapun 
yang jadi korban kebencianbukanlah hal yang patut dipedulikanyang penting 
kekuasaan harus ada ditangan semua cara sahihasal saja tujuan teraih  
Noroyonoxx/10/2017



 

    Op zondag 12 augustus 23:08 2018 schreef "[email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> het volgende:
 

    

 

Nasib Suram Kaum Minoritas di antara Impitan Kubu Jokowi & Prabowo


Prabowo Subianto menyambut kedatangan Presiden Jokowi saat berkunjung ke 
kediamannya, di Padepokan Garuda Yaksa, Desa Bojong Koneng, Hambalang, Bogor, 
Jawa Barat, Senin (31/10) siang. [Foto/Humas Setkab/Rahmat]
Oleh: Haris Prabowo - 12 Agustus 2018Dibaca Normal 1 menitDua orang yang bakal 
maju pada pemilihan presiden tahun depan punya catatan tak menyenangkan terkait 
HAM.tirto.id - Pemilihan presiden 2019 telah memasuki babak baru dengan 
munculnya dua kandidat yang dipastikan bakal bersaing memperebutkan suara 
masyarakat: Joko Widodo (Jokowi) sebagai petahana berdampingan dengan Ma'ruf 
Amin dan Prabowo Subianto dengan Sandiaga Salahuddin Uno.

Namun, ada catatan dari empat orang capres dan cawapres di atas kaitannya 
dengan persoalan Hak Asasi Manusia (HAM). Dua orang di antara mereka punya 
rekam jejak yang sama sekali tidak mulus soal HAM.

Pada pihak pertama ada Prabowo Subianto. Namanya kerap dikaitkan dengan 
penghilangan paksa aktivis pro-reformasi pada 1996-1998. Ia bahkan dipecat dari 
dinas militer karena masalah itu. Pun pada kubu satunya lagi. Ma'ruf Amin 
adalah otak di balik beragam fatwa yang menyudutkan kelompok marjinal. 

Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asfinawati, 
mengatakan keduanya punya rekam jejak yang sama. "Kita tahu kelompok apa yang 
mendukung Prabowo dan kawan-kawan, banyak dari mereka, tentu saja tidak semua, 
terlibat kasus-kasus intoleransi. Sedangkan Ma'ruf Amin, dalam catatan kami, 
mengeluarkan fatwa-fatwa yang menimbulkan diskriminasi, bahkan kekerasan kepada 
minoritas," kata Asfin kepada Tirto, Minggu (12/8/18).

Baca juga:   
   - Menjadi Muslim, Menjadi Minoritas

Ada banyak cela Ma'ruf, salah satunya ketika 2016 lalu menjadi salah satu saksi 
yang memberatkan Basuki Tjahaja Purnama dalam persidangan atas tuduhan penodaan 
agama. Pernyataan ini turut membikin Ahok, yang ketika itu masih jadi Gubernur 
DKI, mendekam di sel.

Pada 2005, dalam Munas VII MUI, Ma'ruf Amin yang ketika itu menjabat Komisi 
Fatwa MUI memutuskan Ahmadiyah adalah aliran sesat dan menyesatkan. "Kami juga 
meminta pemerintah melarang aliran Ahmadiyah," katanya kala itu, seperti 
dikutip dari Detik. 

Menurut Asfin, MUI memang punya hak untuk mengeluarkan fatwa. Namun MUI sudah 
melebihi kewenangan mereka karena dalam keputusan yang sama juga meminta 
pemerintah pusat menutup rumah ibadah Ahmadiyah. 

"Itu sudah melampaui wewenang pendapat keagamaan. Tahun 1980an ada pandangan 
terhadap Ahamdiyah yang sangat berbeda, tapi tidak bisa meminta negara untuk 
mengeksekusi, menutup rumah-rumah ibadah. Itu sudah di luar kepantasan," 
jelasnya.

Pernyataan terbuka Ma'ruf juga kerapkali kontroversial dan mendiskreditkan 
kelompok minoritas, dan ini sejalan dengan pandangannya bertahun-tahun 
sebelumnya. Ketika Satpol PP Depok menyegel masjid milik Jemaat Ahmadiyah 
Indonesia (JAI) di kawasan Sawangan, Depok, pada 2016, Ma'ruf mendukung itu. 

Baca juga:   
   - Intoleransi Masih Tinggi, Terbanyak di Jawa Barat

Ma'ruf juga pernah mengatakan bahwa LGBT itu haram dan seharusnya dipidana. Ia 
bilang, kaum LGBT seharusnya direhabilitasi. Pernyataan-pernyataan tersebut, 
kata Asfin, tentu saja mampu memicu konflik dan kekerasan berkepanjangan karena 
keluar dari mulut orang yang punya otoritas.


Nasib Minoritas di Masa Depan

Peneliti Human Rights Watch (HRW), Andreas Harsono, mengaku pesimistis kasus 
pelanggaran HAM dan intoleransi bisa selesai dan tidak terulang lagi meski 
nanti presiden-wakil presiden berganti. Ia menilai kedua kubu sulit menerima 
keberagaman.

"Saya ragu mereka akan berubah, kecuali ada tekanan luar biasa. Jadinya, nasib 
kalangan minoritas agama dan gender bisa makin memburuk di Indonesia," katanya 
kepada Tirto, Minggu (12/8/18).

Andreas memprediksi akan banyak sekali kemungkinan buruk jika dua sosok ini 
menjadi salah satu orang terpenting di Indonesia. "Berbagai diskriminasi ini 
akan bertambah dan makin sering dipakai. Kalau diskriminasi ini berubah jadi 
krisis, bisa memicu kekerasan besar. Bagaimana mengatasinya? Bila dilakukan 
dengan bijaksana—termasuk dengan aktor internasional—mungkin masih bisa," 
katanya.

Baca juga:   
   - Tiga Jam Menentukan Ma'ruf Amin Dipilih Cawapres Jokowi

Sementara itu, juru bicara jemaat Ahmadiyah, Yendra Budiandra, mengatakan 
"harapan kami kepada Ma'ruf Amin, jika menjadi wakil presiden, bisa 
memposisikan diri menjadi pejabat publik yang harus keluar dari jubah sebagai 
Ketua MUI atau sebagai ketua organisasi NU," kata Yendra kepada Tirto.

"Kami akan selalu mendukung pemerintahan yang sah, apapun itu yang terjadi. 
Siapa pun yang menjadi presiden dan wakil presiden," tutupnya.
Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Haris 
Prabowo
(tirto.id - Politik) 

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Rio Apinino

  #yiv4193562471 -- #yiv4193562471ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471ygrp-mkp #yiv4193562471hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv4193562471 #yiv4193562471ygrp-mkp #yiv4193562471ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv4193562471 #yiv4193562471ygrp-mkp .yiv4193562471ad 
{padding:0 0;}#yiv4193562471 #yiv4193562471ygrp-mkp .yiv4193562471ad p 
{margin:0;}#yiv4193562471 #yiv4193562471ygrp-mkp .yiv4193562471ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv4193562471 #yiv4193562471ygrp-sponsor 
#yiv4193562471ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471ygrp-sponsor #yiv4193562471ygrp-lc #yiv4193562471hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471ygrp-sponsor #yiv4193562471ygrp-lc .yiv4193562471ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv4193562471 #yiv4193562471actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv4193562471
 #yiv4193562471activity span {font-weight:700;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv4193562471 #yiv4193562471activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv4193562471 #yiv4193562471activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv4193562471 #yiv4193562471activity span 
.yiv4193562471underline {text-decoration:underline;}#yiv4193562471 
.yiv4193562471attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv4193562471 .yiv4193562471attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv4193562471 .yiv4193562471attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv4193562471 .yiv4193562471attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv4193562471 .yiv4193562471attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv4193562471 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv4193562471 .yiv4193562471bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv4193562471 
.yiv4193562471bold a {text-decoration:none;}#yiv4193562471 
dd..yiv4193562471last p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4193562471 
dd.yiv4193562471last p span 
{margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4193562471 
dd.yiv4193562471last p span.yiv4193562471yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv4193562471 div.yiv4193562471attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv4193562471 div.yiv4193562471attach-table 
{width:400px;}#yiv4193562471 div.yiv4193562471file-title a, #yiv4193562471 
div.yiv4193562471file-title a:active, #yiv4193562471 
div.yiv4193562471file-title a:hover, #yiv4193562471 div.yiv4193562471file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv4193562471 div.yiv4193562471photo-title a, 
#yiv4193562471 div.yiv4193562471photo-title a:active, #yiv4193562471 
div.yiv4193562471photo-title a:hover, #yiv4193562471 
div.yiv4193562471photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv4193562471 
div#yiv4193562471ygrp-mlmsg #yiv4193562471ygrp-msg p a 
span.yiv4193562471yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv4193562471 
.yiv4193562471green {color:#628c2a;}#yiv4193562471 .yiv4193562471MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv4193562471 o {font-size:0;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471photos div {float:left;width:72px;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv4193562471
 #yiv4193562471reco-category {font-size:77%;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471reco-desc {font-size:77%;}#yiv4193562471 .yiv4193562471replbq 
{margin:4px;}#yiv4193562471 #yiv4193562471ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv4193562471 #yiv4193562471ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471ygrp-mlmsg select, #yiv4193562471 input, #yiv4193562471 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471ygrp-mlmsg pre, #yiv4193562471 code {font:115% 
monospace;}#yiv4193562471 #yiv4193562471ygrp-mlmsg * 
{line-height:1..22em;}#yiv4193562471 #yiv4193562471ygrp-mlmsg 
#yiv4193562471logo {padding-bottom:10px;}#yiv4193562471 #yiv4193562471ygrp-msg 
p a {font-family:Verdana;}#yiv4193562471 #yiv4193562471ygrp-msg 
p#yiv4193562471attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471ygrp-reco #yiv4193562471reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv4193562471 #yiv4193562471ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv4193562471 #yiv4193562471ygrp-sponsor 
#yiv4193562471ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471ygrp-sponsor #yiv4193562471ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471ygrp-sponsor #yiv4193562471ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv4193562471 #yiv4193562471ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv4193562471 #yiv4193562471ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv4193562471 #yiv4193562471ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv4193562471 
#yiv4193562471ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv4193562471 

   

Kirim email ke