*Perang Dagang RRT-AS, Siapa RUGI?
*

*ChanCT*

Disaat beberapa bulan terakhir ini AS menggencarkan gempuran bertubi-tubi meningkatkan tarif pajak pemasukan sampai 25% terhadap barang produksi China, sebaliknya RRT tetap saja dengan tenang membalas seperlunya saja. Mengapa tidak memberi pukulan balas sama beratnya?

Nampak jelas, TUJUAN AS melancarkan perang dagang adalah berusaha keras MENGHADANG pertumbuhan ekonomi RRT yg sangat dahsyat lebih 30 tahun terakhir ini, khususnya menggagalkan target "Made In China-2025". Dengan kata lain, AS berusaha keras MEMPERTAHANKAN hegemoni dan pengangkangan atas dunia, mempertahankan AS no.1 disegala bidang. Prinsip yang dijalankan Trump, proteksionisme, mendahulukan kepentingan AS, merebut keuntungan bagi AS tanpa pedulikan merugikan orang lain! Maksud hati Trump menghadang dan menjegal kemajuan RRT, ... jangan sampai melampaui apalagi mengalahkan AS!

Sedang RRT yang sejak awal berseru, tidak hendak melancarkan perang dagang, tapi juga tidak takut menghadapinya. Dan yang pasti Tiongkok BUKANLAH Jepang, yang bisa dengan mudah ditundukkan AS dan berakibat sangat merugikan Jepang dan menguntungkan AS!

Sangat menarik kalau kita perhatikan sikap pemerintah Tiongkok dalam menghadapi Perang Dangang yg dilancarkan AS terhadap RRT ini, justru dianggap sebagai cambuk untuk membangkitkan semangat BERDIKARI, mendorong rakyat Tiongkok, khususnya ahli-ahli berusaha lebih keras mencipta dan mengatasi ketergantungan pada orang lain! Semboyan mereka, tidak hanya BISA mengerjakan apa yang sudah bisa dikerjakan orang lain, tapi juga harus bisa menciptakan sesuatu yang belum pernah dikerjakan orang lain, ...

Satu pelajaran sangat pahit, bagaimana denda US$7,8 Miliar dan embargo ditimpakan terhadap ZTE yang berani melanggar pelarangan dagang dengan Iran dan Korea-Utara, ... nyaris sesaat berhenti produksi!

Sebenarnya saja, usaha memproduksi chip sendiri juga sudah berlangsung, .... hanya saja kwalitas masih kurang memuaskan. Kalau sebelumnya, tahun 2017 yl, sudah dengar sebenarnya RRT sudah bisa produksi chip KIRIN-970 sendiri, kemarin terbaca berita, sebentar lagi, 31 Agustus yad., *Huawei Mate-20* akan gunakan Chip *KIRIN-980 *buatan Tiongkok sendiri, dengan penegasan berhasil mengatasi kelemahan2 chip yang terjadi sebelumnya!

Ada 2 tulisan terakhir ini yang menjadi perhatian dunia untuk melihat SIKAP pemerintah Tiongkok menghadapi Perang Dagang yang dilancarkan AS: "Ditengah Badai Taufan Menciptakan Kehidupan Nyaman" dan "Lanjutkan Reformasi Keterbukaan Lebih Luas lagi!", disitu dengan tandas dinyatakan, Perang-Dagang tidak akan mempengaruhi apalagi menghalangi Rakyat Tiongkok mewujudkan "MIMPI-Tiongkok" nya, RRT akan menjadi satu negara besar yang MAKMUR dan KUAT ditahun 2025! ... Dalam menghadapi gempuran AS yang menaikkan tarif pajak pemasukan barang Tiongkok, RRT akan mengambil kebijakan MENGURANGI Kerugian yang diderita Tiongkok sendiri, mengatasi segala kekurangan/kesalahan yang masih terjadi, melanjutkan Reformasi dan Keterbukaan lebih luas dengan mempererat hubungan persahabatan dengan negara-negara didunia sehubungan "Satu Jalur Satu Jalan" untuk maju bersama, untung bersama dan menang bersama!

Sedang Xi Jinping diawal Agustus ini menyerukan agar pemerintah berusaha keras mempertahankan 6 Kestabilan, yaitu Usaha-Karya Stabil, Fiansial Stabil, Perdagangan Luarnegeri Stabil, Investasi Modal-Asing Stabil, Investasi Modal Tk-Keluar Stabil dan kestabilan Haridepan, ...

Keadaan pasar Tiongkok dalam menghadapi gempuran perang-dagang yang terjadi beberapa bulan ini, nampak masih bisa maju dengan cukup baik. Berdasarkan laporan statistik Imigrasi, sampai Juli tahun 2018 ini, nilai total eksport-import mencapai 16.72 Triliun Rmb, berarti naik 8,6% dibandingkan tahun yl waktu yang sama. Dengan rincian, nilai eksport 8.89 Triliun Rmb, dengan kenaikan 5% dibanding tahun yl., sedang nilai import 7.83 Triliun Rmb, dengan kenaikan 12.9%. Berarti surplus perdagangan 1.06 Triliun Rmb, atau menyempit 30,6%. ( data diambil dari: http://gelora45.com/news2/RenMin_2018081203.pdf )

Lalu, bagaimana dengan masalah PERTANIAN, masalah UTAMA di Tiongkok, dimana sampai sekarang ini Tiongkok masih merupakan negara agraris, mayoritas penduduknya, lebih darin 60% adalah PETANI? Tentu, Tiongkok masih menghadapi kenyataan objektif dan persaingan dengan AS menjadi lebih berat, bukan saja AS tetap jauh lebih unggul dibidang teknologi pertanian, tapi juga dilihat dari adanya pemusatan areal atau wilayah pertanian yang sangat menguntungkan peningkatan produksi pertanian. Sedang Tiongkok disamping teknologi masih terbelakang, baru saja mulai kembali proses kerja kolektifisasi didesa-desa yang terpencar dan dengan kondisi yang berbeda-beda. Jadi, dilihat dari teknologi dan kondisi pertanian yg dihadapi, Tiongkok bukan lawan Amerika!

Sekarang coba kita perhatikan data-perdagangan nyata yang terjadi RRT-AS. Ditahun 2017, RRT import produksi pertanian AS senilai US$24,1 Miliar, berarti 19,2% jumlah total produksi pertanian Tiongkok. Sebaliknya, eksport produksi pertanian Tiongkok ke AS hanya US$7,7 Miliar, atau 10,2% dari total eksport produksi pertanian Tiongkok. Dan ada selisih US$16,4 Miliar.

15 Juni 2018, AS berlakukan peningkatan pajak pemasukan 25% atas barang produksi Tiongkok senilai US$50 miliar, diantaranya 21 Miliar termasuk kedele, biji-bijian, kapas, daging-hewan, pruduksi ikan-laut, produksi-susu, buah-buahan, Wishky dan rokok.

Kemudian 11 Juli 2018, AS mengumumkan meningkatkan 10% pajak pemasukan atas barang produksi Tiongkok senilai US$200 Miliar dan tanggal 2 Agustus dirubah menjadi kenaikan 25%. Namun pihak RRT hanya menaikkan pajak pemasukan atas barang produksi AS senilai US$60 Miliar saja. Dan juga tidak semua dinaikkan sampai 25%, ada yang 20%, 10% bahkan hanya 5% saja. Khususnya atas produksi kulit, minyak-tumbuh2an, sayuran, kopi, kakao dll.

Dengan demikian, kebutuhan Tiongkok atas kedele sekitar 90 juta ton yang semula merupakan pasaran saangat besar bagi AS yang menghasilkan lebih 100 juta ton kedele, sekarang jadi terganggu! Sekalipun kebutuhan kedele dalam waktu dekat tetap tidak bisa dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri Tiongkok, lebih dari separoh masih harus import, tapi Tiongkok yakin dalam waktu dekat ini bisa mendapatkan dari negara lain. Tidak terlalu besar pengaruhnya bagi Tiongkok. Sebaliknya, petani-kedele AS yang sangat dirugikan, ternyata belasan tahun terakhir ini, lebih 59% dari jumlah produksi kedele AS pembelinya adalah Tiongkok, ... dengan sendirinya pukulan-berat dengan kehilangan pembeli dari RRT, harga kedele jatuh dan sebagian besar terancam rusak tidak dapatkan pembeli baru. Begitulah senator AS memberikan reaksi, kegelisahan usaha pertanian dengan dampak perang dagang yang dilancarkan Trump, ... Akhirnya pemerintah AS juga harus menjanjikan akan beri subsidi, untuk menenangkan warga yang dirugikan akibat kebijakannya itu! (Data diambil dari: http://gelora45.com/news2/GuanCha_20180811_2.pdf )

Inilah sepenggal dampak kebijakan presiden Trump yang tidak bijaksana, .... mengangkat batu menimpa kaki sendiri!



---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke