Dari grup WA:
*Tulisan Dr. Erizeli tentang refleksi ekonomi, politik dan pemilihan
presiden.*
=================
*Program Populis*
*( Politik dan Ekonomi )*
*Indonesia akan masuk masa putaran kampanye. *
Kamu ingat kan, Hugo Chavez. Tubuhnya tambur, Ia mantan para militer.
Ambisi kekuasaannya sangat besar. Pada waktu masih aktif sebagai militer
dia pernah mencoba melakukan kedeta tapi gagal. Pemerintah
mengampuninya. Apakah dia kapok? tidak.
Hasrat berkuasa, tak surut. Diapun bergabung dengan Partai sosialis dan
akhirnya memimpin partai tersebut. Upaya militer untuk berkuasa dia
hapus dari rencana. Selanjutnya dia rebut kekuasaan melalui jalur
demokrasi langsung.
Hugo memang petualang sejati yang bisa membungkus dirinya menjadi
malaikat demi merebut simpati rakyat miskin. Maklum, dia paham betul
sumber daya MIGAS Venezuela terbesar di dunia selama ini dinikmati oleh
elite politik yang pro AS.
Ketika berkampanye dia menuduh penguasa yang ada sekarang telah gagal
memenuhi janjinya. Harga melambung tinggi. Pengangguran meningkat.
Subsidi dipotong. Orang miskin semakin banyak. Negara digadaikan kepada
asing. Hutang bertumpuk. TKA merampas angkatan kerja lokal. Dia
komunikator ulung yang mampu menciptakan magic word merasuk ke otak
rakyat yang sebesar kacang itu. Rakyat larut dengan mimpi hidup makmur
dari segala kemudahan dari calon pemimpinnya.
Lantas apa yang dia janjikan? Dia tidak berbicara tentang perlunya
menjadikan SDA sebagai pemicu untuk pembangunan ekonomi yang
berkelanjutan. Bahwa kalau dia berkuasa SDA yang ada akan digunakan
untuk mendistribusikan keadilan ekonomi dan sosial. Upah buruh maupun
PNS naik berlipat. Pengadaan rumah dengan DP dan angsuran di subdisi
Negara. Harga kebutuhan hari hari semua di subsidi dan dijamin murah.
Semua kebutuhan sosial di jamin negara. Yang nganggur di gaji.
Ketika lawan politiknya menyerangnya dengan menuduhnya membawa program
populis, dia menjawab dengan santai “ itulah contoh penguasa yang tidak
punya keberpihakan kepada rakyat miskin.”
Sebagian besar rakyat yang memang miskin , memang tidak paham bagaimana
seharusnya mesin ekonomi bekerja untuk kemandirian. Tentu sangat percaya
dengan janji populis itu. Sudah dapat di tebak hasilnya. Hugo dapat
menang mudah.
Selama menjabat lebih dari 14 tahun, dia selalu membakar emosi rakyat
tentang kesalahan presiden sebelumnya. Sementara program real bagaimana
menciptakan kemandirian rakyat untuk berproduksi tidak nampak, Bahkan
dia terus meracuni rakyat dengan subsidi besar besaran.
Bukan itu saja, dia pun memotong jam kerja agar rakyat punya waktu
melakukan kegiatan kesenian dan beribadah di gereja. Gerakan Gereja yang
menentang kebijakannya semakin kehilangan pamor di hadapan rakyat.
Rakyat menjadikan gereja tempat dansa ala sosialis. Di Caracas tidak ada
hari tanpa pesta dan kebaktian keagamaan.
Kekuasaannya semakin kokoh dan diapun meminta Parlemen menghapus
pembatasan masa jabatan presiden. Sehinga dia bisa seumur hidup berkuasa.
Teman saya di China yang punya bisnis di Venezuela bilang bahwa
kesalahan terbesar dari Hugo adalah tidak menggunakan keuntungan MIGAS
untuk memperluas industri hilir. Lebih konyol lagi, dia memaksa BUMN
untuk membayar tunai semua bagi hasil dari minyak mentah. Sehingga tidak
ada lagi uang untuk pengadaan tekhnologi dan peningkatan produksi.
Dengan uang tunai itulah dia bagikan kepada rakyat lewat program
populis. Tapi karena sebagian besar kebutuhan rakya berasal dari impor
dan pengadaanya di kelola negara, maka business rente di semua sektor
meluas. Pemerintah membayar 90% dari harga rente itu. Jadi daya
korupsinya lebih dahsyat diibandingkan waktu presiden sebelumnya masih
sistem kapitalis.”
Karena program populis itu memang angka kemisikinan turun tapi tidak
berdampak kepada pertumbuhan real untuk jangka panjang. Dampak buruk
dari program populis itu adalah rakyat lemah bersaing dan manja. Seakan
pesta akan terus berlansung tanpa jeda. Selagi MIGAS masih ada maka
selama itu rakyat menikmatinya.
Namun apa yang terjadi kemudian? ketika harga minyak dunia mulai anjlok
pada 2010, reaksi berantai terjadi di Venezuela. Pemerintah tak sanggup
lagi mengimpor bahan pokok dan memberikan subsidi. Akibatnya kelangkaan
terjadi di mana-mana. Rakyat pun kelaparan. Tahun 2013, Hugo meninggal
karena kanker.
Penerus Chavez, adalah Nicolas Maduro yang harus menanggung tugas berat
memberesakan masalah ini. Tapi lagi-lagi warisan Chavez menjadi penghalang.
Kali ini bukan warisan kebijakan, melainkan ideologi yang terlanjur
meracuni rakyat jadi rakus dan malas. Dia tahu bagaimana harus berbuat
agar keluar dari masalah tapi dia tidak bisa mengubah idiologi yang
sudah terlanjur merasuk rakyat. Maklum Maduro adalah murid Chavez yang
pernah jadi wakil presiden pada periode akhir pemerintahan Chavez.
Banyak negara ingin membantu Venezuela tapi Maduro menolak, karena
syarat yang ditetapkan, dia harus menghentikan program populis itu dan
memastikan APBN kredible untuk menjamin pertumbuhan berkelanjutan. Pihak
negara asing dijadikannya alasan atas kegagalan dia mengatasi ekonomi.
Dia menuduh negara-negara yang tidak suka pada Venezuela sengaja
memantik perang ekonomi. Rakyat bisa menerima alasan itu.
Tapi ketika tidak ada lagi uang untuk membayar program populis itu,
rakyat pun marah. Karena tidak ada barang tersedia dipasar. Mata uang
terjun bebas, harga melambung tak terbilang. Kejahatan terjadi dimana
mana. Orang jadi ganas.
Angka kemiskinan meningkat pesat, bahkan lebih miskin dari sebelum HUGO
jadi presiden. Orang menjual anak gadisnya demi sepiring spaghetti. Uang
tidak ada nilainya lagi. Karena barang tidak tersedia dipasar.
Kini baru rakyat tahu, bahwa apa yang mereka terima selama ini bukan
hanya berasal dari MIGAS tapi juga hutang luar negeri.
Apa yang terjadi pada venezuela pernah terjadi di Indonesia di era
Soeharto dan SBY. Tapi untunglah Jokowi yang terpilih sebagai pengganti
sehingga tahu akar masalah bangsa. Bahwa ini adalah soal mental.
Baik pemimpin maupun rakyat terjebak dengan mental too good to be true.
Mempertahankan kekuasaan lewat subsidi tanpa kerja keras. Itulah yang
akan ditawarkan oleh pasangan PS -Sandi dalam kampanye nanti.
Kita sebagai rakyat yang cerdas harus berhati hati dengan calon pemimpin
yang populis. Karena dia lebih jahat daripada kapitalis dan lebih buruk
dari komunis.
Lihatlah contoh di Jakarta. Pemimpin oportunis adalah dajjal yang
sengaja lahir untuk merusak peradaban. Mereka adalah musuh orang
beragama dan bermoral.
Mengapa ? Mereka menciptakan paradox. Karena mereka meracuni orang
miskin dan bodoh untuk menyembah mereka dengan janji populis dan
kemudahan, tapi sebetulnya merampok lebih banyak dibandingkan kaum
kapitalis maupun komunis.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com