Bung Chan percaya dengan isi tulisan ini yang maknanya mirip-mirip dengan bahan propaganda USIS di Jakarta jaman Bung Karno dulu itu?
Am Wed, 15 Aug 2018 19:59:31 +0800 schrieb "ChanCT [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>: > Dari grup WA: > > *Tulisan Dr. Erizeli tentang refleksi ekonomi, politik dan pemilihan > presiden.* > > ================= > > *Program Populis* > > *( Politik dan Ekonomi )* > > *Indonesia akan masuk masa putaran kampanye. * > > Kamu ingat kan, Hugo Chavez. Tubuhnya tambur, Ia mantan para militer. > Ambisi kekuasaannya sangat besar. Pada waktu masih aktif sebagai > militer dia pernah mencoba melakukan kedeta tapi gagal. Pemerintah > mengampuninya. Apakah dia kapok? tidak. > > Hasrat berkuasa, tak surut. Diapun bergabung dengan Partai sosialis > dan akhirnya memimpin partai tersebut. Upaya militer untuk berkuasa > dia hapus dari rencana. Selanjutnya dia rebut kekuasaan melalui jalur > demokrasi langsung. > > Hugo memang petualang sejati yang bisa membungkus dirinya menjadi > malaikat demi merebut simpati rakyat miskin. Maklum, dia paham betul > sumber daya MIGAS Venezuela terbesar di dunia selama ini dinikmati > oleh elite politik yang pro AS. > > Ketika berkampanye dia menuduh penguasa yang ada sekarang telah gagal > memenuhi janjinya. Harga melambung tinggi. Pengangguran meningkat. > Subsidi dipotong. Orang miskin semakin banyak. Negara digadaikan > kepada asing. Hutang bertumpuk. TKA merampas angkatan kerja lokal. > Dia komunikator ulung yang mampu menciptakan magic word merasuk ke > otak rakyat yang sebesar kacang itu. Rakyat larut dengan mimpi hidup > makmur dari segala kemudahan dari calon pemimpinnya. > > Lantas apa yang dia janjikan? Dia tidak berbicara tentang perlunya > menjadikan SDA sebagai pemicu untuk pembangunan ekonomi yang > berkelanjutan. Bahwa kalau dia berkuasa SDA yang ada akan digunakan > untuk mendistribusikan keadilan ekonomi dan sosial. Upah buruh maupun > PNS naik berlipat. Pengadaan rumah dengan DP dan angsuran di subdisi > Negara. Harga kebutuhan hari hari semua di subsidi dan dijamin murah. > Semua kebutuhan sosial di jamin negara. Yang nganggur di gaji. > > Ketika lawan politiknya menyerangnya dengan menuduhnya membawa > program populis, dia menjawab dengan santai “ itulah contoh penguasa > yang tidak punya keberpihakan kepada rakyat miskin.” > > Sebagian besar rakyat yang memang miskin , memang tidak paham > bagaimana seharusnya mesin ekonomi bekerja untuk kemandirian. Tentu > sangat percaya dengan janji populis itu. Sudah dapat di tebak > hasilnya. Hugo dapat menang mudah. > > Selama menjabat lebih dari 14 tahun, dia selalu membakar emosi rakyat > tentang kesalahan presiden sebelumnya. Sementara program real > bagaimana menciptakan kemandirian rakyat untuk berproduksi tidak > nampak, Bahkan dia terus meracuni rakyat dengan subsidi besar besaran. > > Bukan itu saja, dia pun memotong jam kerja agar rakyat punya waktu > melakukan kegiatan kesenian dan beribadah di gereja. Gerakan Gereja > yang menentang kebijakannya semakin kehilangan pamor di hadapan > rakyat. Rakyat menjadikan gereja tempat dansa ala sosialis. Di > Caracas tidak ada hari tanpa pesta dan kebaktian keagamaan. > > Kekuasaannya semakin kokoh dan diapun meminta Parlemen menghapus > pembatasan masa jabatan presiden. Sehinga dia bisa seumur hidup > berkuasa. > > Teman saya di China yang punya bisnis di Venezuela bilang bahwa > kesalahan terbesar dari Hugo adalah tidak menggunakan keuntungan > MIGAS untuk memperluas industri hilir. Lebih konyol lagi, dia memaksa > BUMN untuk membayar tunai semua bagi hasil dari minyak mentah. > Sehingga tidak ada lagi uang untuk pengadaan tekhnologi dan > peningkatan produksi. > > Dengan uang tunai itulah dia bagikan kepada rakyat lewat program > populis. Tapi karena sebagian besar kebutuhan rakya berasal dari > impor dan pengadaanya di kelola negara, maka business rente di semua > sektor meluas. Pemerintah membayar 90% dari harga rente itu. Jadi > daya korupsinya lebih dahsyat diibandingkan waktu presiden sebelumnya > masih sistem kapitalis.” > > Karena program populis itu memang angka kemisikinan turun tapi tidak > berdampak kepada pertumbuhan real untuk jangka panjang. Dampak buruk > dari program populis itu adalah rakyat lemah bersaing dan manja. > Seakan pesta akan terus berlansung tanpa jeda. Selagi MIGAS masih ada > maka selama itu rakyat menikmatinya. > > Namun apa yang terjadi kemudian? ketika harga minyak dunia mulai > anjlok pada 2010, reaksi berantai terjadi di Venezuela. Pemerintah > tak sanggup lagi mengimpor bahan pokok dan memberikan subsidi. > Akibatnya kelangkaan terjadi di mana-mana. Rakyat pun kelaparan. > Tahun 2013, Hugo meninggal karena kanker. > > Penerus Chavez, adalah Nicolas Maduro yang harus menanggung tugas > berat memberesakan masalah ini. Tapi lagi-lagi warisan Chavez menjadi > penghalang. > > Kali ini bukan warisan kebijakan, melainkan ideologi yang terlanjur > meracuni rakyat jadi rakus dan malas. Dia tahu bagaimana harus > berbuat agar keluar dari masalah tapi dia tidak bisa mengubah > idiologi yang sudah terlanjur merasuk rakyat. Maklum Maduro adalah > murid Chavez yang pernah jadi wakil presiden pada periode akhir > pemerintahan Chavez. > > Banyak negara ingin membantu Venezuela tapi Maduro menolak, karena > syarat yang ditetapkan, dia harus menghentikan program populis itu > dan memastikan APBN kredible untuk menjamin pertumbuhan > berkelanjutan. Pihak negara asing dijadikannya alasan atas kegagalan > dia mengatasi ekonomi. Dia menuduh negara-negara yang tidak suka pada > Venezuela sengaja memantik perang ekonomi. Rakyat bisa menerima > alasan itu. > > Tapi ketika tidak ada lagi uang untuk membayar program populis itu, > rakyat pun marah. Karena tidak ada barang tersedia dipasar. Mata uang > terjun bebas, harga melambung tak terbilang. Kejahatan terjadi dimana > mana. Orang jadi ganas. > > Angka kemiskinan meningkat pesat, bahkan lebih miskin dari sebelum > HUGO jadi presiden. Orang menjual anak gadisnya demi sepiring > spaghetti. Uang tidak ada nilainya lagi. Karena barang tidak tersedia > dipasar. > > Kini baru rakyat tahu, bahwa apa yang mereka terima selama ini bukan > hanya berasal dari MIGAS tapi juga hutang luar negeri. > > Apa yang terjadi pada venezuela pernah terjadi di Indonesia di era > Soeharto dan SBY. Tapi untunglah Jokowi yang terpilih sebagai > pengganti sehingga tahu akar masalah bangsa. Bahwa ini adalah soal > mental. > > Baik pemimpin maupun rakyat terjebak dengan mental too good to be > true. Mempertahankan kekuasaan lewat subsidi tanpa kerja keras. > Itulah yang akan ditawarkan oleh pasangan PS -Sandi dalam kampanye > nanti. > > Kita sebagai rakyat yang cerdas harus berhati hati dengan calon > pemimpin yang populis. Karena dia lebih jahat daripada kapitalis dan > lebih buruk dari komunis. > > Lihatlah contoh di Jakarta. Pemimpin oportunis adalah dajjal yang > sengaja lahir untuk merusak peradaban. Mereka adalah musuh orang > beragama dan bermoral. > > Mengapa ? Mereka menciptakan paradox. Karena mereka meracuni orang > miskin dan bodoh untuk menyembah mereka dengan janji populis dan > kemudahan, tapi sebetulnya merampok lebih banyak dibandingkan kaum > kapitalis maupun komunis. > > > > --- > 此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。 > http://www.avg.com
