https://tekno.tempo.co/read/1117440/mahasiswa-ui-gunakan-metode-resistivity-temukan-sumber-
air-bersih/full&Paging=Otomatis
Mahasiswa UI Gunakan Metode Resistivity
Temukan Sumber Air Bersih
Reporter:
Irsyan Hasyim (Kontributor)
Editor:
Erwin Prima
Rabu, 15 Agustus 2018 17:44 WIB
0 komentar
<https://tekno.tempo.co/read/1117440/mahasiswa-ui-gunakan-metode-resistivity-temukan-sumber-air-bersih/full&Paging=Otomatis#comments>
102
#
#
#
#
Kampus UI Depok. dok/twitter.com/univ_indonesia/media KOMUNIKA ONLINE
<https://statik.tempo.co/data/2016/02/02/id_478992/478992_620.jpg>
Kampus UI Depok. dok/twitter.com/univ_indonesia/media KOMUNIKA ONLINE
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Empat mahasiswa Universitas Indonesia atau UI
<https://tekno.tempo.co/read/1117406/mahasiswa-ui-ciptakan-alat-bantu-baca-buku-untuk-tunanetra>
memberikan solusi guna mengatasi masalah kekeringan dan kesulitan
memperoleh air bersih dengan memanfaatkan teknologi metode /resistivity/.
*Baca:
Mahasiswa UI Ciptakan Alat Bantu Baca Buku untuk Tunanetra
<https://tekno.tempo.co/read/1117406/mahasiswa-ui-ciptakan-alat-bantu-baca-buku-untuk-tunanetra>
Mahasiswa UI Temukan Metode Baru Deteksi Cadangan Minyak
<https://tekno.tempo.co/read/1116938/mahasiswa-ui-temukan-metode-baru-deteksi-cadangan-minyak>*
Keempat mahasiswa itu adalah Ade Rama Tanjung Putra (angkatan 2015),
Luthfan Togar Harahap (2014), Miftahul Umam (2017), dan Tiva Rahmita
(2017). Mereka berasal dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
“Implementasi buah pikiran para mahasiswa UI ini dilakukan di Desa
Sirnajaya, Bogor, yang tengah mengalami kesulitan air bersih, di mana
para warga harus berjalan sepanjang 5-6 kilometer untuk mendapatkan air
bersih,” ujar juru bicara UI, Egia Etha Tarigan, kepada /Tempo/, Selasa,
14 Agustus 2018.
Menurut Egia, kini warga desa telah merasakan manfaat penerapan metode
/resistivity/ karena berhasil menemukan titik sumur potensial sebagai
sumber air, yang dekat dengan permukiman warga desa.
Ketua tim peneliti, Ade Rama, menceritakan kesulitan warga Desa
Sirnajaya dalam mengakses air bersih. Selain harus berjalan kaki
sepanjang 5-6 kilometer, warga harus menyusun pipa-pipa sepanjang jarak
tersebut untuk mendapatkan air bersih. Namun tidak semua warga sanggup
memasang pipa karena kendala ekonomi.
“Kendala berikutnya, mata air yang masyarakat gunakan sangat keruh dan
cenderung berlumpur, padahal air tersebut digunakan sebagai air minum,
mandi, bahkan memasak,” ucapnya.
Berangkat dari permasalahan tersebut, Ade Rama dan tim mencari solusi
melalui pemanfaatan metode /resistivity/ agar warga desa memiliki sumber
air bersih lain sehingga kebutuhan air bersih dapat terpenuhi walaupun
musim kemarau datang.
Metode /resistivity/ dapat memprediksi secara akurat letak lapisan
aliran air sehingga dapat meminimalisasi biaya pengeboran akibat risiko
kesalahan penentuan lokasi pengeboran sumur.
“Selama pelaksanaan program dilakukan survei geomorfologi dan /marking/
lokasi, akuisisi data dengan metode /resistivity/, pengolahan dan
interpretasi data. hingga pemetaan data /resistivity/ dan topografi,”
tuturnya.
Menurut Ade, hasil penelitian menunjukkan adanya potensi sumber air di
dekat tanah wakaf masjid. Pengeboran potensial dilakukan di area tersebut.
“Ditemukannya titik sumur potensial ini akan dilanjutkan dengan proses
pengeboran untuk memulai pembangunan sumber air di dekat pemukiman warga
Desa Sirnajaya,” katanya.
Egia menjelaskan, penerapan metode /resistivity/ memiliki potensi
keberlanjutan yang besar, yaitu dengan mereplikasi program yang sama
untuk diterapkan di wilayah lain yang memiliki permasalahan sama.
“Diharapkan karya mahasiswa UI <https://www.tempo.co/tag/ui> ini mampu
membantu pemerintah dalam mewujudkan ketersediaan dan pengelolaan air
bersih, yang berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.