Dengan rupiah semakin “njokowi”, 14.6
 
--- jonathangoeij@... wrote :

 Wuih... debt trap makin dalam aja
 

 kutipan:
 Masih dalam kicauannya, tokoh pergerakan 77/78 ini mengomentari soal penetapan 
kupon mengambang dengan kupon minimal (floating with floor) SBR004 sebesar 8,0 
persen, lebih tinggi dibanding SBR003 yang diterbitkan Mei lalu sebesar 6,8 
persen.

--- ajegilelu@... wrote :

 Tim Ekonomi Jokowi Keseringan Pakai Istilah Anomali, Rizal Ramli: Ngopi Gih Di 
Anomali Coffee
 

 KAMIS, 16 AGUSTUS 2018 , 11:32:00 WIB | LAPORAN: SUKARDJITO
 

 RMOL. Defisit neraca dagang mencapai 2 miliar dolar AS, hanya disebut 
peristiwa anomali oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani.
 

 Tampaknya tim ekonomi kabinet kerja Jokowi selalu menganggap remeh setiap 
sinyal krisis ekonomi, sehingga ekonom senior DR. Rizal Ramli kembali angkat 
bicara.
 

 “Setiap ada masalah dilabel  'Anomali' sering banget pake label ‘Anomali' 
kalau ndak mampu kurangi efeknya. Padahal semua sudah bisa diperkirakan 
jauh-jauh hari. Madamme Anomali, ngopi gih di Anomali Coffee,” kata mantan 
Menko Perekonomian era Presiden RI ke 4 Gus Dur dalam kicauannya di Twitter 
@ramlirizal dengan disisipi emoji tertawa, Kamis (16/8).

 
 Masih dalam kicauannya, tokoh pergerakan 77/78 ini mengomentari soal penetapan 
kupon mengambang dengan kupon minimal (floating with floor) SBR004 sebesar 8,0 
persen, lebih tinggi dibanding SBR003 yang diterbitkan Mei lalu sebesar 6,8 
persen.
 
 “Supaya terus bisa ngutang, harus terbitkan surat utang dengan yield semakin 
tinggi. Memang ilmu ekonom neoliberal sebatas hanya doyan naikkan harga dan 
naikkan utang dengan bunga semakin tinggi,” ujar pria yang akrab disapa RR.
 
 Persoalan ekonomi bangsa menjadi concern ekonom senior DR. Rizal Ramli, jauh 
sebelumnya tepatnya enam bulan lalu,  ia telah mewanti-wanti bahwa ekonomi 
Indonesia sudah setengah lampu merah. Anjloknya rupiah  dan indeks saham 
menjadi tanda dari krisis ekonomi tersebut.
 
 Namun seperti krisis ekonomi 1998 lalu, pemerintah justru tengah berbangga 
atas capaian ekonomi yang menurut mereka sedang on the track, tanpa mau 
mendengar peringatan bahwa ancaman ada di depan mata jika hanya andalkan utang. 
Hasilnya, krisis tetap terjadi.
 
 Pemerintah yang kini digawangi Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan justru 
sibuk membantah peringatan yang dikeluarkan Menko Perekonomian era Presiden 
Abdurrahman Wahid itu.
 
 “6 bulan lalu, RR sudah katakan badan ekonomi Indonesia sedang sakit, antibody 
kita lagi lemah. Tapi tim ekonomi Pak Jokowi sibuk bantah-bantah Rizal Ramli. 
Soal utang kepedean abis,” ujar RR dalam akun Twitter-nya.
 
 Bagi Rizal, membaca indikasi krisis ekonomi itu mudah. Jika utang swasta 
besar, defisit berjalan besar, dan mata uang Indonesia overvalued delapan 
persen maka ekonomi akan bergejolak. Apalagi jika kondisi itu ditambah dengan 
sektor riil yang mandek dan cara pemerintah Indonesia hadapi makro ekonomi 
sangat konservatif.
 
 Lebih-lebih, selama ini tim ekonomi Jokowi hanya mengandalkan pada pengetatan 
dan kontraksi pajak.
 
 “Tim ekonomi Jokowi nggak ngerti kalau rupiah anjlok, semua 
indikator-indikator utang berubah cepat. Kena virus sedikit bisa cepat sakit. 
Tim ekonomi Pak Jokowi tidak memiliki kemampuan antisipatif. Bisanya hanya 
menunggu Godot!” tukasnya. 




  


Kirim email ke