https://news.detik.com/kolom/d-4176418/cadar-senapan-dan-kata-pantas-yang-terlupakan?_ga=2.86781008.954337288.1534963037-1605572355.1534963027
Selasa 21 Agustus 2018, 16:25 WIB
Kolom
Cadar, Senapan, dan Kata "Pantas" yang
Terlupakan
Iqbal Aji Daryono - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4176418/cadar-senapan-dan-kata-pantas-yang-terlupakan?_ga=2.86781008.954337288.1534963037-1605572355.1534963027#>
Iqbal Aji Daryono
<https://news.detik.com/kolom/d-4176418/cadar-senapan-dan-kata-pantas-yang-terlupakan?_ga=2.86781008.954337288.1534963037-1605572355.1534963027#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4176418/cadar-senapan-dan-kata-pantas-yang-terlupakan?_ga=2.86781008.954337288.1534963037-1605572355.1534963027#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4176418/cadar-senapan-dan-kata-pantas-yang-terlupakan?_ga=2.86781008.954337288.1534963037-1605572355.1534963027#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4176418/cadar-senapan-dan-kata-pantas-yang-terlupakan?_ga=2.86781008.954337288.1534963037-1605572355.1534963027#>
5 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4176418/cadar-senapan-dan-kata-pantas-yang-terlupakan?_ga=2.86781008.954337288.1534963037-1605572355.1534963027#>
Cadar, Senapan, dan Kata Pantas yang Terlupakan Iqbal Aji Daryono
(Ilustrasi: Ivon/detikcom)
<https://news.detik.com/kolom/d-4176418/cadar-senapan-dan-kata-pantas-yang-terlupakan?_ga=2.86781008.954337288.1534963037-1605572355.1534963027#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4176418/cadar-senapan-dan-kata-pantas-yang-terlupakan?_ga=2.86781008.954337288.1534963037-1605572355.1534963027#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4176418/cadar-senapan-dan-kata-pantas-yang-terlupakan?_ga=2.86781008.954337288.1534963037-1605572355.1534963027#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4176418/cadar-senapan-dan-kata-pantas-yang-terlupakan?_ga=2.86781008.954337288.1534963037-1605572355.1534963027#>
*Jakarta* - Di suatu zaman yang labil, dengan pijakan kebenaran yang
rapuh, sementara setiap detik kita terus dihajar oleh air bah informasi
gado-gado tanpa jeda, pada titik manakah kita sekarang memaknai kata
"pantas"?
"Mas, /mbok/ jangan ngomong gitu. Rasanya tidak pantas."
"/Lho/! Faktanya kan memang seperti yang kusampaikan ini, /to/? Coba deh
/sampeyan/ melihat masalah ini secara objektif!"
"Bukan begitu, Mas. Ini soal kepantasan. Ada situasi-situasi yang
membuat kita tidak melulu harus berkutat pada benar dan salah, Mas.
Meskipun yang kita lakukan benar, atau minimal tidak salah, tapi
kadangkala tidak pas. Kurang pantas, gitulah."
"Sebentar, /to/. Ayo kita sama-sama lihat data dulu. Mana datamu? Kita
adu saja data dan argumen, catatan dan kesaksian riil, jangan pakai
hal-hal normatif yang abstrak! Publik berhak mengakses informasi yang
benar!"
***
Auw auw auw. Begitulah, hehehe. Sekarang ini rasanya kita sangat
tergila-gila dengan data. Kita dimabuk oleh fakta-fakta keras,
catatan-catatan sejarah, deretan angka statistik, bukti-bukti tak
terbantahkan, kebenaran positivistik, dan apa pun yang bau-baunya lebih
dekat ke soal ilmiah ketimbang dimensi /rasa-pangrasa/, kalau istilah
kejawennya.
Makanya, kesaksian dalam sebuah intrik politik, sebagai contoh, harus
disebarkan sedetail-detailnya ke haribaan publik. Bahwa kesaksian itu
akan membuat kita menjauh dari kemaslahatan bersama, rentan memicu
fitnah lapis pertama hingga lapis ketujuh, tidak jadi masalah besar. Toh
yang penting kita mengabdi kepada kebenaran objektif. Begitu, bukan?
Semua itu kian mengeras karena kita semakin terbiasa berinteraksi di
internet, lalu tanpa sadar membentuk-ulang pola-pola interaksi kita
menjadi mirip pola interaksi di internet, dunia yang konon maya padahal
sangat nyata itu.
Dengan ilusi seolah-olah dunia /cyber/ semu belaka, kita pun kehilangan
kekang psikologis. Kita tertipu bayangan yang tak henti meyakinkan
imajinasi kita bahwa kita sedang berbicara di dimensi sebelah sana.
Padahal, sesungguhnya kita ini ya di sini-sini saja, yang kita ajak
berbincang juga manusia-manusia biasa, dan dalam relasi antarmanusia
ukuran pantas-tak-pantas itu sesungguhnya senantiasa ada.
Nah, ini ada cerita. Kemarin muncul satu peristiwa, yang sepertinya
membuat kita lagi-lagi bergulat bersama isu kepantasan melawan isu
kebenaran objektif. Kejadiannya di Probolinggo, Kota Bestari itu.
Alkisah, ada sebuah video yang viral di media sosial, menampilkan
sepasukan anak yang tengah mengikuti pawai HUT ke-73 RI. Yang memicu
kekagetan publik adalah kostum mereka. Mereka, anak-anak (yang
semestinya) perempuan itu, tampak mengenakan baju panjang hitam,
bercadar, dan masing-masing menenteng senapan mainan.
Sontak, kehebohan meletup. Dugaan-dugaan keras tentang ideologi ekstrem
bermunculan. Saya pribadi pun larut pada awalnya, hingga kemudian datang
informasi bahwa anak-anak itu berada di bawah asuhan sebuah taman
kanak-kanak yang berlokasi di kompleks Kodim setempat.
Ya ya ya, bukan berarti saya pemuja tentara, tapi toh yang namanya
Angkatan Darat saya kira masih tetap bonafid dalam perkara penjagaan
ideologi bangsa (sungguh, saya sangat ingin membubuhkan tanda kurung
lapis enam untuk kata "ideologi bangsa", namun rasanya kok kurang pantas
juga hehehe.)
Pertanyaannya kemudian, lalu apa arti ini semua? Kenapa anak-anak itu
didandani begitu rupa? Seberapa relevan kostum semacam itu dengan
gelaran acara HUT Republik Indonesia?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus bergulir, jawabannya berbenturan
satu sama lain, dan akhirnya mencapai titik panasnya. Ada yang berdiri
di sudut ekstrem dengan prasangka persebaran ide-ide islamis radikal.
Ada yang mempertanyakan keadilan sikap dan pikiran dengan mengatakan
bahwa bentuk senjata apa pun tidak layak dijadikan mainan anak-anak. Tak
ketinggalan, banyak juga yang membalas dengan tudingan stigma negatif
atas perempuan bercadar, islamofobia, dan seterusnya.
Saya tetap merasa ada yang tidak pas di sini. Tidak pantas, begitu.
Tentu saja, ketidakpantasan itu bukan pada perkara cadar. Stigma negatif
atas perempuan bercadar memang mewabah. Islamofobia itu ada, dan harus
diakui itu ada. Namun, jelas itu bukan sikap saya. Saya punya beberapa
kawan bercadar, dan mereka baik-baik saja. Salah seorang bibi saya
sendiri bercadar, dan dia bukan tukang meledakkan bom. Saya punya
sahabat-sahabat yang istri mereka bercadar, dan mereka sama sekali bukan
propagandis kekerasan. Dan, jelas ada ribuan perempuan bercadar lainnya
yang bukan teroris.
Pendek kata, membenci cadar dan mengatakan cadar simbol teroris adalah
sikap tidak adil bagi para perempuan bercadar yang cinta perdamaian.
Nah, lalu apa?
"Apaaa?" Sayup-sayup terdengar suara Jokowi yang sambil membuka helmnya
mengucapkan kata tersebut, seperti pada video pembukaan Asian Games yang
bikin ribut.
***
Kemudian muncullah seorang profesor sains yang cerdas dan hebat. Dia
menulis seperti ini:
"Karnaval Agustusan bawa replika senjata, itu heroisme. Tapi bila
anaknya pakai cadar, jadi radikalisme. Situ sehat?"
Saya merenung dalam-dalam. Logis sekali unggahan /Facebook /dari Pak
Profesor itu. Sangat masuk akal. Dari situ terbongkar bahwa ada sikap
timpang dan tidak /fair/ dalam cara berpikir banyak orang, termasuk saya.
Sialnya, yang tampak logis pada awalnya itu pelan-pelan luntur, karena
tiba-tiba tebersit satu gambaran usil di otak saya.
"Begini, Mas Prof. Ada gambar palu dipasang-silang dengan gambar tang,
itu logo toko besi /Baja Cemerlang/. Tapi, bila tangnya diganti gambar
arit, jadi komunisme. Situ sehat?"
/Lha lha lha/. Benar, kan? Apakah artinya orang Indonesia yang kaget dan
baper saat melihat simbol palu-arit itu tidak sehat?
Saya rasa, problem pada logika Pak Profesor itu ada pada pemaknaan atas
simbol. Yang namanya simbol toh tidak bisa dicuil-cuil. Palu dan arit
pada simbol komunisme itu sebuah rangkaian. Kita tidak perlu
mempersoalkan gambar palu-saja, atau arit-saja, kecuali Anda mau
menggelar /sweeping/ di toko-toko besi dan di sawah-sawah.
Berbeda halnya jika palu dipadu dengan arit dalam satu tampilan, lalu
muncul di kaos anak-anak muda caper di negeri ini, maka visualisasi itu
akan memunculkan satu kesan: tidak pantas. Tidak elok. Mungkin maksudnya
merombak stigma dan melancarkan kritik historis, tapi yang terjadi malah
memperkeruh situasi di tengah masyarakat yang memang masih minim literasi.
Demikian juga pada cadar dan senapan. Cadar-saja tentu tidak masalah.
Saya tidak akan ikut rewel jika ada pawai anak-anak memakai cadar. Meski
demikian, kombinasi antara cadar dan senapan itu mau tak mau, suka tidak
suka, menyeret kita kepada bayangan-bayangan tak bagus di negeri-negeri
jauh sana.
"Ya beda dong. Kalau soal komunis, negeri kita memang menjalani
pengalaman sejarah yang traumatis. Kalau cadar dan senapan kan tidak?"
Itulah. Kadang kita lengah, mempersempit makna "pengalaman" sebatas
pengalaman-pengalaman fisik semata. Padahal, di masa kejayaan digital
seperti sekarang ini, yang disebut pengalaman itu sudah bercampur baur
antara fisik dan nonfisik. Kita melihat, kita mendengar, kita mengakses,
kita terpapar dengan berita-berita, itu pun bentuk-bentuk nyata pengalaman.
Para perempuan bercadar-saja memang banyak yang baik-baik saja, dan saya
yakin sebagian besar mereka baik-baik saja. Artinya, stigma teroris
kepada perempuan bercadar-saja itu label jahat, rasis, dan tidak
manusiawi. Tapi, perasaan takut kepada perempuan
bercadar-dan-bersenapan, apakah itu bentuk ketidakwajaran di saat
"pengalaman-pengalaman" kita atas visualisasi seperti itu nyaris
semuanya terkait hal buruk?
Beberapa kali saya bilang kepada teman-teman bercadar, agar stigma
negatif atas cadar itu terkikis, semestinya mereka menampakkan
sikap-sikap baik di tengah masyarakat sambil membawa identitas mereka
itu. Sama dengan ketika dulu kami masih tinggal di Australia dan menjadi
minoritas muslim yang kadang menjadi korban prasangka, saya selalu
meminta istri saya yang berjilbab untuk berbuat baik di area publik.
Menolong ibu-ibu manula yang kerepotan dengan barang belanjaannya, misalnya.
Malangnya, saya tak menemukan ide bagaimana agar stigma atas perempuan
bercadar-dan-bersenapan terkikis. "Ikutlah gotong royong di kampung
sambil tetap memakai cadar dan memanggul senapan AK-47, Mbak." Kan tidak
mungkin saya bilang begitu, karena perempuan bercadar-dan-bersenapan
yang oke-oke saja memang tidak pernah hadir dalam pengalaman-pengalaman
kita.
Walhasil, saya tetap merasa bahwa mendandani anak-anak dengan cadar dan
senapan (bukan cadar saja atau senapan saja, melainkan cadar dan
senapan) bukanlah tindakan yang pantas secara "kesepakatan awam". Kurang
elok, kurang sadar situasi, kurang peka sosial, dan, ya, intinya kurang
pantas.
Benar, belakangan terungkap situasi riil di Probolinggo waktu itu yang
tidak membuktikan sama sekali bahwa ada ideologi-ideologi ekstrem dalam
karnaval tersebut. Rilisnya sudah tersebar di mana-mana. Saya pun tidak
menyalahkan guru-guru TK itu secara hukum, apalagi menyalahkan anak-anak
yang tidak tahu apa-apa. Namun, untuk menyatakan bahwa dandanan itu
tidak pantas, masihkah sulit diterima?
Mungkin di zaman ini ungkapan "tidak pantas" kurang gampang diterima.
Itu ukuran yang terlampau abstrak, tidak akuntabel, dan kurang
bergengsi. Nasibnya jadi agak sama dengan kata "kejujuran" yang kurang
keren, karena lebih keren jika kita melengkapinya menjadi "kejujuran
ilmiah". Tak bedanya dengan kata "dosa" yang juga tak lagi mentereng,
sebab yang mentereng adalah jika kita mengucapkannya sebagai "dosa politik".
Situ sehat? Saya akui, saya mungkin memang kurang sehat. Tapi, rasanya
saya masih ingin bersikap yang pantas.
*Iqbal Aji Daryono* /esais, tinggal di Bantul/
*(mmu/mmu)
*