Kas negara kekurangan fulus dan juga iLombok bukan bagian dari Jawasentris,
jadi cukup  sekian saja .


http://n*asional.harianterbit.com/nasional/2018/08/21/101353/25/25/Hanya-Rp38-Miliar-Bantuan-Pemerintah-untuk-Lombok-Tidak-Adil
<http://asional.harianterbit.com/nasional/2018/08/21/101353/25/25/Hanya-Rp38-Miliar-Bantuan-Pemerintah-untuk-Lombok-Tidak-Adil>*

*Di Publish Pada Tanggal : *Selasa, 21 Agustus 2018 11:06 WIB
Hanya Rp38 Miliar, Bantuan Pemerintah untuk Lombok Tidak Adil

*Presiden Jokowi saat mendatangi korban gempa Lombok beberapa waktu lalu*
<http://nasional.harianterbit.com/nasional/2018/08/21/101353/25/25/Hanya-Rp38-Miliar-Bantuan-Pemerintah-untuk-Lombok-Tidak-Adil#>
*Jakarta, Hanter* - Gempa yang mengguncang Lombok meluluhlantakkan
infrastruktur vital, menghancurkan ribuan rumah/gedung. Jumlah korban tewas
mencapai 548 jiwa. Aktivitas perekonomian dan pemerintahan macet. Belum
lagi suasana kebatinan masyarakat. Meski sedemikian parah, pemerintah baru
mengucurkan dana Rp38 miliar. Jumlah ini lebih besar dari bantuan
pemerintah untuk pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia  Oktober 2018 sebesar
Rp810 miliar dan Asian Games Rp30 triliun. Hal ini
dinilai tidak adil.

Mantan komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai mengatakan, adanya bentuk
ketidakadilan terkait anggaran untuk korban gempa di Lombok NTB yang hanya
puluhan milar rupiah dengan acara seremonial yang mencapai ratusan miliar
rupiah adalah potret nyata dan ketidakpedulian Pemerintahan Jokowi saat
ini. Hal ini semakin membuktikan pemerintah tidak adil terhadap orang-orang
miskin dan korban bencana alam yang saat ini sedang menderita.

"Potret ketidakpedulian terlihat dari distribusi anggaran dimana soal-soal
ceremonial menghabiskan anggaran begitu fantastis, seperti pertemuan bank
dunia mencapai Rp850 miliar dan Asian Games diselenggarakan secara
besar-besaran di atas penderitaan rakyat Indonesia khususnya di Lombok,"
ujar Natalius Pigai kepada Harian Terbit, Senin (20/8/2018).

Natalius menegaskan, Jokowi harus tahu bahwa bencana alam di Lombok telah
menjadi perhatian dunia internasional, termasuk para atlet yang saat ini
sedang berlaga di Asian Games.

Natalius memutuskan, sesuai dengan standar HAM maka pemerintahan harus
memastikan adanya pemenuhan kebutuhan hak asasi termasuk sandang, pangan
dan papan untuk korban bencana alam. Upaya-upaya pemenuhan remedial bagi
korban termasuk korban gempa di Lombok menjadi urgensif. Oleh karenanya
rakyat pantas kecewa pada Jokowi yang harusnya secara jujur menyampaikan
kepada peserta Asian Games bahwa bangsa Indonesia sedang dalam musibah.

"Hal itu dilakukan agar menimbulkan simpati dari atlet negara-negara lain.
Tindakan seperti itu wajar sebab kita berada di milenium kemanusiaan dimana
pilar-pilar HAM dan intervensi kemanusian telah menjadi nilai universal
tiap negara," paparnya.

Sementara itu, Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Anton
Tabah Digdoyo juga menyatakan, kurang pantas ditunjukkan pemerintah Jokowi
yang memberikan bantuan untuk korban gempa di Lombok hanya Rp38 miliar.
Padahal ada dana tak terduga di Kementerian Sosial yang peruntukannya
antara lain untuk korban bencana alam seperti yang terjadi di Lombok. Anton
pun meminta pemerintahan Jokowi untuk tidak membentuk pencitraan saja.

"Gempa NTB ini termasuk bencana besar maka penanganannya harus diambil alih
pemerintah pusat dengan managemen termasuk pendanaanya," ujar Anton.

*Tidak Proporsional*

Pengamat politik dari Lembaga Kajian dan Analisa Sosial (LeKAS) Karnali
Faisal mengatakan, memang tidak proporsional dan jauh dari rasa keadilan
jika benar dalam pemenangan bencana alam di Lombok pemeirntah hanya
mengucurkan Rp38 miliar. Jika hal itu benar maka menjadi pertanyaan sejauh
mana empati pemerintah terhadap para korban bencana alam tersebut. Karena
jika hitung-hitungan yang dirilis BMKG maka kerugian lebih dari Rp7 triliun..

"Dari angka itu saja sudah sangat jauh. (Kerugian Rp7 triliun dan kucuran
dana dari pemerintah Rp38 miliar). Sementara untuk kegiatan yang tidak
terlalu mendesak seperti annual meeting mendapat alokasi dana yang sangat
besar. Termasuk kegiatan Asian Games yang menelan biaya puluhan triliun
rupiah," ujarnya.

Karnali menuturkan, dari bantuan yang disalurkan pemerintah untuk gempa
Lombok yang hanya Rp38 miliar maka publik akan menilai sejauh mana empati
pemerintah terhadap para korban. Akan terlihat juga sejauh mana pemerintah
menganggap prioritas percepatan pemulihan kondisi sosial dan lingkungan
masyarakat yang terdampak gempa. Oleh karenanya pemerintah harus
mengalokasikan anggaran yang lebih besar lagi agar proses penanggulangan
bisa lebih cepat.

"Dana yang disalurkan pemerintah untuk korban bencana tidak ada kaitannya
dengan fluktuasi rupiah yang terus turun terhdap dolar dan kondisi ekonomi.
Karena untuk annual meeting saja alokasi dana besar. Apalagi ini untuk
kondisi darurat yang dialami rakyat yang tertimpa bencana," paparnya.

*Tidak Adil*

Terpisah, Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA),
Harits Abu Ulya mengaku paham perasaan masyarakat korban gempa Lombok jika
memang diperlakukan tidak adil oleh rezim Jokowi. Apalagi ia pernah
menyaksikan dan merasakan gempa dasyat tsunami Aceh dan dampaknya. Oleh
karenanya tidak menjadi masalah jika musibah gempa Lombok ditetapkan
sebagai bencana Nasional. Namun yang paling urgen adalah pemerintahan
Jokowi dengan seluruh instrumen terkait harus hadir dan bekerja maksimal
menolong masyarakat korban gempa.

"Indonesia dengan pengalaman gempa Aceh, Yogyakarta dan lainnya idealnya
sudah punya pengalaman cukup untuk bekerja secara sistemik, terkordinasi,
cepat, tepat dan maksimal. Baik pada fase darurat paska gempa, fase
rehabilitasi dan recovery semua aspek kehidupan sosial ekonomi dan
infrastruktur masyarakat," paparnya.

Ironisnya, sambung Harits, jika hanya untuk annual meeting Bank Dunia saja
bisa menganggarkan Rp850 miliar. Tapi  untuk tragedi menyedihkan yang
menimpa rakyat berbagai lapisan alokasinya jauh lebih rendan dan jauh dari
proporsional. Oleh karenanya nalar publik tercederai dengan kebijakan
darurat penanganan gempa Lombok di tangan Jokowi yang mengecilkan suasana
kebatinan masyarakat Lombok yang sedang sedih.

"Patut kita sedihkan lagi adalah penguasa saat ini dirasakan belum hadir
maksimal untuk mereka. Sense of crisisnya rezim Jokowi pada titik kritis,"
paparnya.

*Anggaran*

Seperti diketahui, Ketua Tim Pengarah Asian Games 2018 yang juga Wakil
Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla (JK) mengatakan, biaya untuk
penyelenggaraan Asian Games 2018 menghabiskan lebih dari Rp30 triliun.

Menurut JK, total keseluruhannya Rp27 triliun, kemudian ditambah Rp4,5
triliun dari pemerintah untuk penyelenggaraan. “Selain itu, masih ada juga
pemasukan lewat promosi dan sponsorship yang kami harap bisa membantu.
Butuh lebih dari Rp30 triliun kalau ditotal semuanya,” papar JK.

Sementara untuk agenda tahunan IMF-Bank Dunia pemerintah menganggarkan Rp
810,17 miliar. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya pernah
mengungkapkan, anggaran yang dikeluarkan Indonesia sebagai tuan rumah masih
di bawah anggaran yang dialokasikan negara lain ketika mereka yang berperan
sebagai tuan rumah pertemuan tahunan.

Kirim email ke