Rizal Ramli: Sri Mulyani Hanya Berani Debat dengan Zulkifli Hasan
Reporter:
Caesar Akbar
Editor:
Rr. Ariyani Yakti Widyastuti
Jumat, 24 Agustus 2018 07:51 WIB
Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli setibanya di gedung KPK untuk
diperiksa oleh penyidik terkait kasus korupsi Bantuan Likuiditas Bank
Indonesia (BLBI), Jakarta, 2 Mei 2017. TEMPO/Eko Siswono ToyudhoMantan
Menko Perekonomian Rizal Ramli setibanya di gedung KPK untuk diperiksa
oleh penyidik terkait kasus korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia
(BLBI), Jakarta, 2 Mei 2017. TEMPO/Eko Siswono Toyudho
*TEMPO.CO*,*Jakarta*- Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman
Rizal Ramli kembali berkomentar soal Menteri KeuanganSri Mulyani
<https://www.tempo.co/read/1119829/biayai-apbn-2019-2022-pemerintah-utamakan-rilis-surat-utang-sbn> Indrawati
dan Ketua MPR Zulkifli Hasan yang saling melontarkan pernyataan tajam
ihwal utang pemerintah.
*Baca:* Sri Mulyani Vs Zulkifli Hasan, Ini Fakta Soal Utang Pemerintah
<https://www.tempo.co/read/1118902/sri-mulyani-vs-zulkifli-hasan-ini-fakta-soal-utang-pemerintah>
"Saya bingung kok (Sri Mulyani) beraninya cuma sama Zulkifli Hasan,
berani sama Rizal Ramli, dong," ujar Rizal seusai menghadiri acara Hari
Ulang Tahun PAN di Kantor Dewan Pimpinan Pusat PAN, Jakarta, Kamis
malam, 23 Agustus 2018.
Komentar Rizal merujuk kepada sikap Sri Mulyani yang beberapa kali tak
mengacuhkan ajakan debat yang dilontarkan Rizal. Lantaran kerap
diabaikan, Rizal kini enggan mengajak Sri Mulyani berdiskusi ekonomi.
"Dia kan enggak tertarik. Jokowi (Presiden Joko Widodo) sudah
perintahkan, tapi dia tidak punya nyali sama kami. Mana berani sama
saya," ujar Rizal Ramli.
Rizal juga menilai Sri Mulyani seringkali menjelaskan masalah dengan
data yang selektif. Padahal, kenyataannya kondisi perekonomian
Indonesia, menurut Rizal sudah lampu 'setengah merah'. "Maksudnya hampir
semua indikator makro ekonomi itu negatif."
Contohnya, kata Rizal, tampak dari neraca perdagangan, neraca berjalan,
hingga neraca keuangan yang mengalami defisit. Ia juga meyakini pada
akhir tahun 2018 keseimbangan primer juga akan negatif. "Pemerintah
terlalu banyak ngibul," ujarnya.
Persoalan utang pemerintah masih menjadi perbincangan hangat di
masyarakat lantaran Zulkifli Hasan dan Sri Mulyani terus berbalas
tudingan. Berawal dari pidatonya pada Kamis, 16 Agustus 2018, Ketua
MPR Zulkifli Hasan menyinggung utang pemerintah Rp 409 triliun, yang
jatuh tempo tahun depan, tak wajar. Angka itu disebut tujuh kali lebih
besar dari dana desa dan enam kali lebih besar dari anggaran kesehatan.
Menanggapi kritik itu, Sri Mulyani mengatakan pernyataan Zulkifli Hasan
bermuatan politis dan menyesatkan. Ia menjelaskan, 31,5 persen
pembayaran pokok utang adalah untuk instrumen Surat Perbendaharaan
Negara atau Surat Perbendaharaan Negara Syariah, yang bertenor di bawah
satu tahun dan merupakan instrumen untuk mengelola arus kas. "Pembayaran
utang saat ini adalah kewajiban yang harus dipenuhi dari utang masa
lalu, mengapa baru sekarang diributkan?" katanya, pekan lalu.
Sri Mulyani juga menyatakan bekas koleganya di kabinet pada masa
pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu tak pernah membahas
utang. "Mengapa pada saat Ketua MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) ada
di kabinet dulu tidak pernah menyampaikan kekhawatiran kewajaran
perbandingan pembayaran pokok utang dengan anggaran kesehatan, padahal
rasionya lebih tinggi dari sekarang?" ujarnya. "Jadi ukuran kewajaran
yang disebut Ketua MPR sebenarnya apa?"
Sri Mulyani lantas menjelaskan tren pertumbuhan pembiayaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara yang berasal dari utang terus turun sejak
2016. Pembiayaan utang mencapai puncaknya pada 2015.
"Selama tahun 2015-2018, pertumbuhan pembiayaan APBN melalui utang
justru negatif, artinya penambahan utang terus diupayakan menurun
seiring dengan menguatkan penerimaan perpajakan dan penerimaan bukan
pajak," ujar Sri Mulyani dalam akun Facebook resminya, Senin, 20 Agustus
2018.
*Baca: *Sri Mulyani: Utang 396 T Dibuat Saat Zulkifli Hasan jadi Menteri
<https://bisnis.tempo.co/read/1118815/sri-mulyani-utang-396-t-dibuat-saat-zulkifli-hasan-jadi-menteri>
Pada tahun 2015 pertumbuhan pembiayaan utang adalah 49,0 persen. Sri
Mulyani berujar saat itu pemerintah melakukan pengamanan ekonomi dari
tekanan jatuhnya harga minyak dan komoditas lainnya. Angka tersebut
turun drastis ke level 5,6 persen pada 2016.
Pertumbuhan pembiayaan utang sempat naik tipis pada 2017 ke angka 6,5
persen, sebelum merosot ke minus 9,7 persen. Pada Rancangan APBN 2019,
pertumbuhan pembiayaan utang diproyeksikan minus 7,3 persen. Pembiayaan
utang pada 2019 direncanakan Rp 359,3 triliun.
Simak berita menarik lainnya terkaitSri Mulyani
<https://www.tempo.co/tag/sri-mulyani-indrawati-sri-mulyani> hanya di
Tempo.co.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com