Berkah Mobil Cina
Jumat, 24 Agustus 2018 07:00 WIB
Mobil Wuling SUV dipamerkan dalam pameran otomotif GIIAS 2018 di ICE BSD
City, Tangerang Selatan, Banten, 4 Agustus. Dian Asmahani, Brand Manager
PT SGMW Motor Indonesia, mengatakan respons pengunjung GIIAS 2018 saat
ini terhadap kendaraan SUV yang dipajang tersebut cukup bagus. TEMPO/M
Taufan RengganisMobil Wuling SUV dipamerkan dalam pameran otomotif GIIAS
2018 di ICE BSD City, Tangerang Selatan, Banten, 4 Agustus. Dian
Asmahani, Brand Manager PT SGMW Motor Indonesia, mengatakan respons
pengunjung GIIAS 2018 saat ini terhadap kendaraan SUV yang dipajang
tersebut cukup bagus. TEMPO/M Taufan Rengganis
LARISNYA mobil Cina di pasar Indonesia menjadi angin segar di tengah
lesunya industri otomotif dalam negeri. Selain meningkatkan konsumsi,
kehadiran pabrik-pabrik mobil asal Tiongkok di Nusantara menggenjot
produksi. Ini kesempatan emas untuk mengerek naik kontribusi pabrik
kendaraan bermotor pada pertumbuhan ekonomi dan produk domestik bruto
nasional.
Sejak tahun lalu, kinerja penjualan pabrikan asal Negeri Tirai Bambu
memang tergolong fenomenal. Wuling Motors dan Sokonindo Automobile
sukses membawa merek Cina ke peringkat kedua produk roda empat paling
laris di Tanah Air, menggeser brand Eropa. Pembelian sebanyak 8.675 unit
pada semester pertama lalu-sebagian besar disumbang Wuling-bahkan lebih
tinggi 60 persen dibanding prestasi 2017.
Angka tersebut memang masih kecil dibandingkan dengan penjualan 12 merek
mobil Jepang, yang menguasai 97,5 persen pangsa pasar otomotif
Indonesia. Namun tren positif setahun terakhir setidaknya mengirim
sinyal bahwa orang tak lagi ragu membeli mobil Cina. Citra negatif
produk Cina mulai terhapus.
Tentu, tak bisa dimungkiri, harga murah adalah faktor utama yang membuat
Wuling dan Sokonindo laris manis. Namun kelengkapan fitur kenyamanan dan
keamanan yang mereka tawarkan malah membuat kita bertanya-tanya:
jangan-jangan selama ini mobil Jepang yang kemahalan?
Bagi industri otomotif nasional, moncernya penjualan mobil merek Cina
menjadi harapan baru untuk menopang kinerja sales. Tiga tahun terakhir,
angka penjualan mobil memang melambat akibat gejolak perekonomian
global. Angka penjualan turun 16 persen pada 2015 dan sampai sekarang
tak beranjak dari kisaran 1,1 juta unit per tahun. Pertumbuhan per tahun
hanya tiga persen.
Akibatnya, produksi mobil dalam negeri pun cenderung stagnan. Sejak lima
tahun lalu, total jumlah produksi mobil Indonesia ada di kisaran 1,2
juta kendaraan per tahun. Ini jauh dari target produksi 3 juta mobil per
tahun yang harus dicapai jika Indonesia ingin menjadi pemain industri
otomotif global.
Akibatnya, kita makin jauh tertinggal dari pabrikan di Thailand, yang
dalam lima tahun terakhir memproduksi rata-rata 2 juta unit per tahun.
Dari jumlah itu, sekitar 1,1 juta unit diekspor ke luar negeri. Artinya,
setiap tahun jumlah mobil utuh yang Thailand ekspor hampir sama
banyaknya dengan total penjualan mobil di pasar domestik kita. Kondisi
ini memprihatinkan lantaran kapasitas produksi pabrik otomotif di
Thailand sebenarnya sama dengan Indonesia, yakni sekitar 2,2 juta unit
per tahun.
Karena itulah kesediaan Wuling dan Sokonindo berinvestasi di pasar
Indonesia patut diapresiasi. Tanpa ragu, keduanya langsung membangun
basis produksi baru. Wuling menggelontorkan Rp 9,6 triliun untuk
membangun pabrik berkapasitas 120 ribu unit per tahun di Bekasi, Jawa
Barat. Sedangkan Sokonindo menggerojokkan duit Rp 4 triliun untuk
membangun pabrik dengan kemampuan produksi 50 ribu unit per tahun di
Serang, Banten.
Pemerintah seharusnya tak berhenti di sana. Berbagai insentif pajak dan
deregulasi sektor perburuhan bisa ditawarkan untuk merayu perusahaan
manufaktur lain asal Cina agar berinvestasi di Indonesia. Berdirinya
satu pabrik mobil baru pasti akan diikuti peningkatan produksi sektor
otomotif lain. Bangkitnya sektor ini niscaya akan menggerakkan industri
lain, seperti komponen bahan baku dan suku cadang, sekaligus membuka
lapangan kerja baru. Ini tentu menjadi harapan kita semua.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com