*Gempa Lombok: ***
*Bukan Sekadar Retaknya Jalanan dan Runtuhnya Rumah***
*DR.DR.TAN SHOT YEN,M.HUM. ***
Editor : *Bestari Kumala Dewi*
Kompas.com - 24/08/2018, 07:47 WIB
https://lifestyle.kompas.com/read/2018/08/24/074703120/gempa-lombok-bukan-sekadar-retaknya-jalanan-dan-runtuhnya-rumah?page=all.
Salah satu dapur umum di Gunungsari, Lombok, yang membuat makanan untuk
korban gempa di Lombok, Senin (20/8/2018). Salah satu dapur umum di
Gunungsari, Lombok, yang membuat makanan untuk korban gempa di Lombok,
Senin (20/8/2018). (KOMPAS.com/JESSI CARINA )
KOMPAS.com - Saya menulis artikel ini di malam terakhir setelah seminggu
bergulat dengan segala sesuatu yang bisa berubah setiap saat. Lombok
yang tadinya saya kenal sebagai saudara kembar Bali, mendadak luluh
lantak dengan amat mengerikan.
Bagi orang kota seperti saya yang pernah mengalami gempa hanya seperti
ayunan vertigo, gempa Lombok memberi fenomena baru di skala 6 Richter
keatas.
Tanah bukan hanya bergeser cepat seperti orang sedang mengayak, tapi
juga bantingan dari atas kebawah dengan kecepatan tinggi.
Masih terbayang saat membaringkan tubuh dalam tenda di atas tanah keras,
mendadak terasa getaran yang dalam hitungan detik intensitasnya kian
keras disertai suara gemuruh.
Baca juga: Pangan ?Ultra-Proses?Sukses Ekonomi Berbuah Kematian Dini
Lalu teriakan penduduk “Allahuakbar…” yang kebingungan entah mau ke
mana, selain melihat sisa bangunan kembali runtuh untuk ke sekian
kalinya.Rumahnya sendiri, yang dibangun dengan susah payah – setelah
rezeki bertahun-tahun dikumpulkan.
Tatapan kosong yang sudah tidak bisa lagi mengekspresikan kesedihan,
semakin terasa menakutkan bagi relawan mana pun.
Barangkali, jika gempa tidak datang sehebat itu, para relawan pejuang
gizi tak akan menyadari masalah besar yang menghantui masa depan penerus
generasi.
Kelihatannya makanan bayi dan balita tak terdampak, karena sejujurnya
dalam kondisi normal mereka sudah diberi bubuk kemasan bahkan sejak usia
3 bulan.
Padahal, secara umum Makanan Pendamping ASI (MPASI) rata-rata baru
diberikan di usia 6 bulan.
Pencegah stunting yang sebenarnya: bubur saring setengah gelas, tiga
kali sehari, dengan istilah ‘menu 4 bintang’ – terdiri dari makanan
pokok, protein hewani, protein nabati, sayur, dan buah.
Baca juga: Teror Kekisruhan Pangan, Bomnya Meledak Kemudian
Pada usia 9 bulan, menu sehat ini berubah menjadi tim atau cincang
hingga usia 12 bulan. Di usia setahun, anak meneruskan 4 bintangnya
dengan makanan padat seperti orangtuanya, walaupun dengan pembagian
proporsi yang tentunya menyesuaikan masa tumbuh kembang.
Selama kami menyisir Lombok Utara danTimur yang sama-sama terdampak
gempa yang amat parah, tidak ada satu bayi pun diberi makan ibunya
dengan bubur saring.
Ketika kami membuat dapur umum khusus makanan bayi, kader posyandu
seakan baru pertama kali belajar, hingga tergagap-gagap.
Bahkan, ada komentar heran – mengapa jika hidup bisa dibuat praktis tapi
malah jadi kembali ribet.
Ketika saya balik bertanya, mengapa memilih bubur kemasan, jawaban
mereka membuat kami hampir menangis.
“Kami ini orang bodoh, bu dokter. Yang membuat bubur instan ini kan
orang-orang cerdik pandai, yang pasti lebih tahu mana yang terbaik buat
bayi kami, dan sudah diberi izin BPOM pula. Masa kami tak percaya?”
jawan mereka.
Baca juga: Mengapa Harus Mengandalkan Makanan Kemasan di Negeri yang Kaya?
Pernyataan yang jauh dari pemberdayaan diri, apalagi bicara soal
pembangunan masa depan keturunan mereka.
Saat tenaga kesehatan lelah mengajarkan, bahwa sebaiknya bayi tidak
diberikan gula dalam makanannya, bubur kemasan sudah menabur 4 gram gula
untuk satu kali makan.
Bisa dibayangkan, 3 kali makan seorang bayi di usia 6 bulan sudah
mengasup 12 gram gula.
Sementara organisasi kesehatan dunia WHO menyerukan agar orang dewasa
tidak mengonsumsi lebih dari 25 gram gula (termasuk gula tersembunyi
dalam pangan harian yang secara alamiah terdapat dalam pangan alami) –
jika tidak mau berujung pada kegemukan, masalah metabolisme, diabetes,
hipertensi dan segudang penyakit di usia dini.
Baca juga: Kesehatan, Lahan Rentan Bisikan
Lombok yang kaya dengan hasil bumi merupakan contoh tragis, di mana ubi
terenak dan terbaik dianggap kampungan.
Sehingga, industri pangan membeli dengan harga yang begitu murah dan
kembali ke tangan penduduk sebagai keripik ultra proses dengan
macam-macam imbuhan yang tubuh tidak butuhkan.
Saya melihat dengan rasa miris, anak-anak jajan hanya bermodalkan 500
hingga 1000 rupiah saja untuk berbagai kemasan, yang saya sendiri tidak
pernah melihatnya di Jakarta.
Fenomena di atas dengan mudah ditemukan di Sembalun, Lombok Timur –
dimana begitu banyak orang asing berkunjung menikmati 10 derajat Celsius
di tanah tropis setiap pagi, dengan pemandangan eksotis gunung Rinjani
di depan mata.
Kemudahan akses transportasi dan infrastruktur membuat desa terpencil
ini begitu terbuka – bukan perkara turisme belaka, tapi juga terbuka
lebar tanpa saringan untuk semua pengaruh termasuk pergeseran budaya.
Mereka melihat orang asing begitu praktisnya mengunyah makanan kemasan
dan nampak modern. Satu hal yang tidak mereka sadari: budaya makan
seperti apa yang sesungguhnya terjadi di negeri asal orang-orang asing itu.
Baca juga: Ketika Hasil Panen Sekadar Komoditi, Bukan untuk Konsumsi
Demi Gizi
Ketika kami kembalikan lagi budaya mengasuh anak dengan pola makan yang
benar mulai dari memilih, meracik, dan mengolah bahan pasar, para ibu
heran bahwa anaknya ternyata mampu makan dengan lahap.
Jagung yang justru tadinya menjadi makanan ternak, bisa mereka hargai
sebagai pangan manusia dalam bentuk jagung rebus hingga bubur jagung
untuk bayinya dalam rupa menu 4 bintang.
Merupakan suatu perjuangan bagi seorang ibu di desa, untuk belajar
memberi makan anak-anaknya dengan benar, sekaligus belajar menyadari apa
yang tertulis dalam label dan makna bahan campuran dalam makanan kemasan
anak-anak mereka.
Aksi heroik petugas kesehatan dalam kondisi gempa, bukan sekadar
mengoperasikan tenda darurat untuk menangani patah tulang atau mengatasi
penyakit yang sudah terlanjur datang.
Aksi penyelamatan yang sesungguhnya, justru saat kita semua mencegah
terjadinya masalah kesehatan di hari depan sebagai dampak kondisi bencana.
Baca juga: Countercyclical-nya Kesehatan Itu Upaya Promotif dan Preventif
Saya tidak menampik, bahwa makanan instan dan kemasan adalah alternatif
terbaik di saat bencana, ketika dapur umum belum berdiri dan pasar belum
menggeliat.
Tapi di Indonesia, justru anomali muncul saat orangtua terpapar dengan
kepraktisan dalam kondisi bencana dan berlanjut sebagai “pembelajaran
baru” ketika situasi sudah kembali normal.
Dan itulah yang harus dicegah – karena asupan di saat bencana tentu
tidak bisa dijadikan kebenaran asupan pangan untuk tumbuh kembang optimal.
Semoga dapur umum untuk pangan bayi, suatu hari menjadi standar prosedur
operasional di semua dapur umum saat bencana.
Kesetiakawanan nasional kita sedang diuji, saat retak dan runtuhnya
tembok bisa dibangun kembali – tapi begitu tumbuh kembang anak retak di
saat-saat kritis, maka tidak akan adalagi kesempatan untuk mengulangi
perbaikan, apalagi mengejarnya.
Barangkali bencana Lombok adalah petunjuk, saat kita mencari jawab untuk
pencegahan stunting yang sesungguhnya.
Baca juga: Gizi, Vaksinasi, Edukasi: Tiga Pilar Membangun Generasi
Artikel ini telah tayang di Kompas.com <http://kompas.com/> dengan judul
"Gempa Lombok: Bukan Sekadar Retaknya Jalanan dan Runtuhnya Rumah",
https://lifestyle.kompas.com/read/2018/08/24/074703120/gempa-lombok-bukan-sekadar-retaknya-jalanan-dan-runtuhnya-rumah?page=2.
Editor : Bestari Kumala Dewi
Artikel ini telah tayang di Kompas.com <http://kompas.com/> dengan judul
"Gempa Lombok: Bukan Sekadar Retaknya Jalanan dan Runtuhnya Rumah",
https://lifestyle.kompas.com/read/2018/08/24/074703120/gempa-lombok-bukan-sekadar-retaknya-jalanan-dan-runtuhnya-rumah.
Editor : Bestari Kumala Dewi
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com