Negara ini negara preman. Makin ke depan, demokrasi makin kebablasan, manusia 
mayoritasnya makin liar dan pejabat makin tidak berdaya. Jokowi mana bisa atau 
bahkan mana mau melawan amukan massa liar ini karena tidak menguntungkan 
kedudukannya.  Jaman mbah arto dan sby memang penuh korupsi tapi minoritas 
lebih aman. Paling parah ya jaman jokowi ini. Ahok dipenjara secara se-wenang2, 
jokowi ga berani bela. itu masih bisa dimengerti lah. tapi ini ngangkat si 
ke-maruk jadi wapres, audzubillah, nyakiti hati banget. 
 Biarlah prabowo jadi presiden, biar jadi pembelajaran bagi jokowi dan orang 
lainnya yang moderat yang mau jadi pejabat. 
 Biar kita tahu juga bagaimana indonesia dibawah preman. Kalau rakyat senang ya 
sukurlah. Kalau menderita ya pembelajaran juga bagi si pelengkap penderita.


---In [email protected], <j.gedearka@...> wrote :

 
 
 
https://tirto.id/plus-minus-speaker-corong-yang-jadi-pengeras-suara-di-masjid-cUES
 
https://tirto.id/plus-minus-speaker-corong-yang-jadi-pengeras-suara-di-masjid-cUES
 
 Plus Minus Speaker Corong yang Jadi 
          Pengeras Suara di Masjid 
https://tirto.id/plus-minus-speaker-corong-yang-jadi-pengeras-suara-di-masjid-cUES
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 Ilustrasi pengeras suara Masjid. FOTO/iStockphoto 
 
 Oleh: Ahmad Zaenudin - 24 Agustus 2018
 Dibaca Normal 2 menit
 
 Speaker corong di masjid-masjid memiliki tingkat tekanan suara sebesar 110 dB. 
Apakah ini kelebihan atau kekurangan?
 tirto.id https://tirto.id/ - Meiliana, warga Tanjung Balai, Sumatera Utara 
sempat mengeluh suara speaker masjid di dekat rumahnya. Keluhannya berujung 
kasus hukum. Polisi menetapkan status tersangka dan menjeratnya dengan pasal 
156 subsider 156a KUHP Pidana tentang penistaan agama. Pada Selasa (21/8) 
Pengadilan Negeri Medan memutuskan Meiliana bersalah dan menghukumnya dengan 
kurungan 1,5 tahun penjara.
 
 Baca juga: Detail Kejadian Keluhan Suara Azan dan Kerusuhan di Tanjung Balai 
 
 Apa yang menjadi keluhan Meiliana soal speaker masjid memunculkan pertanyaan 
soal kekuatan speaker yang sampai membuat tak nyaman. Gunawan, teknisi audio 
yang juga berbisnis jual-beli perangkat sound system di Jakarta, mengatakan 
masjid biasanya menggunakan speaker jenis corong, khususnya bagi pengeras suara 
yang diarahkan ke arah lingkungan sekitar. 
 
 Speaker corong yang digunakan umumnya merupakan buatan Toa. Toa adalah 
perusahaan yang didirikan oleh Tsunetaro Nakatani, orang Jepang kelahiran 10 
Agustus 1890. Pabrik pembuatnya adalah Toa Electric Manufacturing Company di 
Kobe yang didirikan pada 1 September 1934. Produk speaker ini didistribusikan 
ke Indonesia melalui seorang pengusaha keturunan Tionghoa asal Bangka bernama 
Uripto Widjaja.
 
 Baca juga: Tak Ada Demo dan Dakwah Tanpa Toa 
 
 Speaker corong merek Toa yang digunakan oleh masjid umumnya memiliki input 
daya listrik antara 25 watt dan 50 watt. Input daya 25 watt umumnya digunakan 
pada masjid berukuran kecil hingga sedang, sementara 50 watt digunakan pada 
masjid berukuran besar. Speaker corong dengan input sebesar 25 watt sanggup 
terdengar dengan radius 500 meter dari titik speaker corong berada. 
 
 Menurut Gunawan, radius suara sangat mungkin bertambah hingga jarak sejauh 1 
Km bila berada di kampung yang tenang dan kondisi suaranya biasanya relatif 
kurang jelas. Speaker musik atau speaker biasa, yang memiliki nilai input daya 
sebesar 125 watt, hanya sanggup terdengar antara jarak 15 meter hingga 50 meter 
saja. 
 
 Inilah, yang menurut Gunawan, jadi keunggulan speaker corong yang tidak 
dimiliki speaker lainnya.“Corong suaranya tajam dan (radius) jauh 
keunggulannya,” kata Gunawan.
 
 Selain punya keunggulan frekuensi jangkauan yang jauh, harga speaker corong 
punya kelebihan harga yang relatif murah. Rata-rata, 1 speaker corong dijual 
seharga Rp600 ribuan. Namun, speaker jenis ini punya kelemahan yaitu bising.
 
 Speaker corong merek Toa memiliki frekuensi suara antara 200 Hz hingga 6.000 
Hz, atau setara dengan 0,2 kHz hingga 6 kHz. Yogie Natasukma, seorang sound 
engineer, mengatakan speaker corong yang digunakan di masjid-masjid punya ragam 
merek dengan frekuensi antara 1 kHz hingga 5 kHz. Frekuensi tersebut punya 
keunggulan, yakni artikulasi yang dihasilkan jelas. Konsekuensinya suara yang 
keluar dari speaker bisa tidak nyaman di telinga manusia.
 
 Respons tubuh atas suara/audio bukan hanya terjadi pada telinga. Yogi 
mengatakan frekuensi 20 Hz akan lebih terasa di dada manusia. Semakin tinggi 
dari angka tersebut, organ tubuh yang merasakannya semakin ke atas. Secara 
umum, manusia mendengar suara dalam frekuensi antara 20 Hz hingga 20 kHz. 
 
 
 
 
 
 
 Melansir laman Tech Me Audio 
https://www.teachmeaudio.com/mixing/techniques/audio-spectrum/, rentang 
frekuensi yang dimiliki speaker corong berada dalam rentang frekuensi yang 
disebut sebagai "presence." Pada rentang ini, suara yang dihasilkan dapat 
menjadi kasar dan menjengkelkan bagi manusia yang mendengarnya. Menurut 
Gunawan, inilah yang jadi alasan mengapa terasa bising di telinga kala suara 
speaker corong didengar. “Speaker biasa (terasa enak) karena ada bass-nya" 
Namun, hal tersebut tidak dimiliki speaker corong.
 
 Di dunia audio, tingkat tekanan suara diukur melalui besar kecilnya nilai dB 
alias decibel. Ini merupakan suatu pengukuran yang mengukur seberapa kuat 
gelombang suara di telinga manusia. Speaker corong merek Toa memiliki nilai 
tingkat tekanan suara sebesar 110 dB. Sementara itu, speaker musik memiliki 
nilai tingkat tekanan suara sebesar 100 dB.
 
 Alexander Sengpiel 
http://www.sengpielaudio.com/TableOfSoundPressureLevels.htm, ahli audio asal 
Jerman, membeberkan percakapan antara manusia berada di tingkat tekanan suara 
sebesar 60 dB. Sedangkan tekanan suara sebesar 110 dB setara dengan suara 
speaker corong, ini setara dengan suara gergaji mesin yang terdengar pada jarak 
satu meter. 
 
 Baca juga: Aturan Main Pengeras Suara di Masjid 
 
 
 Menurut Alexander Sengpiel tingkat tekanan suara yang dianggap membuat 
pendengarnya tidak nyaman, ada di angka 120 dB. Artinya, suara gergaji mesin 
dan suara speaker corong hanya terpaut 10 dB dari zona ketidaknyamanan 
pendengaran manusia.
 
 Tingkat tekanan suara speaker corong berada di angka 110 dB. Secara umum, 
suara speaker corong memiliki tingkat tekanan suara sebesar 65 dB, yang 
didengarkan masyarakat sekitar masjid. Ini sama seperti level tekanan suara 
yang dimiliki stasiun kereta, yakni 65 dB. Nilainya masih terpaut 15 dB 
dibandingkan rata-rata tingkat tekanan suara lingkungan perumahan yang berada 
di angka 45 dB hingga 50 dB.
 
 Namun, apakah suara dengan tingkat tekanan suara besar langsung membuat 
manusia berada dalam posisi tidak nyaman atau berbahaya? Michael Pinson, 
https://theproaudiofiles.com/sound-pressure-levels-part-1-of-2/ seorang teknisi 
audio lulusan Birmingham City University, mengatakan kondisi itu akan 
tergantung dengan durasi suara.
 
 Menurut Pinson, suara dengan dB tinggi bisa ditoleransi asalkan tidak memiliki 
durasi yang lama. Ia menegaskan “suara yang memiliki tingkat tekanan suara 
rendah tapi memiliki durasi lama sangat mungkin jauh lebih berbahaya.”
 
 Yogi sependapat dengan Pinson. Menurutnya, tingkat tekanan suara yang sebesar 
65 dB bisa ditolerir pendengaran manusia hingga maksimal 8 jam.
 
 Penggunaan speaker corong memang punya banyak keunggulan. Namun, Yogi punya 
pendapat lain, ia menyarankan kualitas suara yang dihasilkan speaker corong 
bisa ditata lagi, dengan cara mengganti equalizer dan speaker corong yang lebih 
baik. Selain itu bisa dengan melakukan penempatan speaker corong yang tepat dan 
durasinya lebih singkat.
 
 "Tempatkan sedikit condong lebih ke atas," kata Yogi.
 
 Baca juga artikel terkait SPEAKER 
https://tirto.id/q/speaker-h5c?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword atau 
tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
 
 
 (tirto.id - Teknologi) 
 
 
 Penulis: Ahmad Zaenudin
 Editor: Suhendra
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Kirim email ke